Pagi itu, Elora kembali menginjakkan kaki di Rumah Sakit Harapan Sentosa dengan pakaian yang sama seperti kemarin.
Ia bahkan belum sempat pulang ke apartemennya.
Semalam, ia hanya menghubungi Millie dan memintanya mengantarkan beberapa potong pakaian, perlengkapan mandi, charger, serta barang-barang pribadi yang mungkin akan ia butuhkan selama beberapa hari ke depan.
Millie datang pagi-pagi sekali dengan dua paperbag besar di tangannya.
"Thank you, ya, Mill."
"Kabarin gue terus soal perkembangan Ibu lo. Kalau butuh teman, telepon gue aja. Oh iya ini gue bawain saltbread kesukaan lo."
Elora menerima paperbag itu, ia mencium aroma roti di dalamnya.
"Ah, nggak mau. Lo sekarang udah sibuk jadi asisten artis."
Millie terkekeh.
Baru dua hari lalu, ia mulai bekerja sebagai asisten seorang penyanyi ibu kota yang namanya sedang naik daun. Elora sebenarnya tidak keberatan. Justru ia senang Millie akhirnya mendapatkan pekerjaan kembali. Lagipula Elora memang tidak bisa mempekerjakannya lagi untuk sementara waktu.
"Gue balik, ya. Sebentar lagi harus ke airport."
Elora mengernyit."Mau ke mana?"
"Malaysia."
“Gila. Baru dua hari kerja udah jalan-jalan.”
"Kerja, ya, heyyy. Bukan jalan-jalan."
Elora tertawa kecil."Yaudah, sana. Hush."
Millie berjalan menuju lift sambil mengangkat tangannya.
"Bye! Jaga diri lo, ya. Jangan lupa makan dan minum yang banyak."
“Iya, bawel.”
Pintu lift terbuka.
Sebelum masuk, Millie memberi isyarat kecil dengan dagunya untuk membantu seorang perempuan yang keluar dari lift sebelahnya.
Perempuan itu masih muda, mungkin di atas Elora beberapa tahun. Di kedua tangannya terdapat beberapa paperbag dan satu tas besar yang tampak cukup berat. Ia berusaha menyeimbangkan semuanya sambil sesekali melihat ke arah anak laki-laki kecil yang berdiri di sampingnya. Anak itu mungkin baru berusia empat tahun. Ransel kecil bergambar dinosaurus menggantung di punggungnya. Salah satu tangannya menggenggam mobil-mobilan berwarna merah semtara tangan satunya memegang ujung baju ibunya.
Perempuan itu hampir menjatuhkan salah satu paperbag.
Elora menghela napas pendek. Ia sebenarnya tidak terbiasa memperhatikan orang asing. Namun kali ini kakinya bergerak lebih dulu.
"Boleh saya bantu?"
Perempuan itu tampak sedikit terkejut."Oh... nggak usah Mbak. Mbaknya juga repot bawa barang."
"Nggak apa ini nggak berat ko."
Perempuan itu menyerahkan dua paperbag kepada Elora. "Terima kasih sebelumnya."
Elora mengangguk."Sama-sama."
Anak laki-laki di samping perempuan itu menatap Elora dari bawah. Kemudian kembali bersembunyi sedikit di balik kaki ibunya.
Elora tersenyum tipis.
"Jenguk siapa, Mbak?"
"Ibu saya."
"Kayaknya saya baru lihat Mbak."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong.
"Mbak wali pasien?"
"Iya, suami saya."
Elora mengikuti arah pandangnya.
"Sudah lama?"
"Belum terlalu lama."jawabnya singkat.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu Kamar 505.
Perempuan itu membuka pintu. Anak laki-laki tadi langsung masuk lebih dulu.
Elora menyerahkan paperbag yang dibawanya.“Ini.”
"Terima kasih banyak, Mbak."
Perempuan itu tersenyum.
"Dengan Mbak siapa?"
"Elora."
Perempuan itu mengangguk."Makasih, ya, Mbak Elora."
Elora tersenyum kecil.“Sama-sama, Mbak...”
"Ajeng."
***
Pukul sembilan pagi, Elora menuju ruang konsultasi keluarga pasien. Hari itu, dokter paliatif akan menjelaskan kondisi pasien, rencana perawatan, serta hal-hal yang perlu dipahami oleh keluarga selama proses pendampingan.
Ruang konsultasi berada di ujung lorong Bangsal Kenanga. Ukurannya tidak terlalu besar. Dindingnya dicat putih gading, dihiasi beberapa poster tentang perawatan paliatif dan dukungan bagi caregiver. Di sudut ruangan terdapat dispenser air minum, rak berisi brosur, serta televisi yang menyala tanpa suara, hanya menampilkan berita pagi yang tak benar-benar diperhatikan siapa pun.
Di ruang itu hanya ada dua orang, seorang wanita paru baya dan seorang laki-laki yang langsung dikenali Elora. Laki-laki yang kemarin tak sengaja ia tabrak di lorong rumah sakit. Mereka sempat saling bertukar pandang. Namun laki-laki itu hanya menatapnya dengan wajah datar sebelum akhirnya Elora memilih duduk di kursi sebelah wanita paruh bayad dengan blazer berwarna merah.
Elora memilih duduk di kursi paling pojok. Map rekam medis ibunya berada di atas pangkuannya. Jari-jarinya terus memainkan ujung map itu, seolah mencari sesuatu untuk mengalihkan rasa gugup.
Ruangan kembali hening. Namun keheningan di tempat itu terasa berbeda. Tak ada kecanggungan.
"Wali pasien, ya, Nak?" tanya perempuan itu ramah.
Elora menoleh dan membalas senyum kecil."Iya."
"Siapa yang dirawat?"
"Ibu saya."
"Di kamar berapa?"
"503."
"Oh..."wanitaitu mengangguk pelan."Bu Kartika, ya?"
Elora mengangguk pelan.
"Ibu juga sedang menemani keluarga?"
"Iya. Anak saya."