Elora menatap langit malam yang terbentang di atas gedung rumah sakit.
Tidak banyak bintang yang terlihat. Cahaya kota Jakarta terlalu terang untuk membiarkan langit benar-benar gelap. Di antara gedung-gedung tinggi yang berdiri di kejauhan, beberapa titik cahaya dari jendela apartemen masih menyala. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di jalan raya, sementara suara kota terdengar samar dari balik dinding taman.
Elora mengedarkan pandangan.
Taman perawatan paliatif yang biasanya dipenuhi suara percakapan keluarga pasien kini hampir sepenuhnya sepi. Bangku-bangku kosong. Jalur setapak yang siang tadi ramai dilewati perawat dan keluarga pasien kini hanya diterangi lampu taman berwarna kekuningan. Daun-daun tanaman bergerak perlahan set'iap kali angin malam berembus.
Ia mengembuskan napas panjang.
Entah sudah berapa kali malam seperti ini membuatnya berpikir tentang alasan ia berada di tempat ini.
Awalnya hanya karena satu panggilan dari rumah sakit. Kemudian satu kamar. Satu orang. Ibunya.
Elora mencoba menarik kembali benang merahnya dari awal. Dari telepon yang mengabarkan kondisi Kartika, kedatangannya ke rumah sakit, percakapan pertama mereka, sampai hari-hari ketika ia mulai hafal suara langkah perawat dan jadwal pergantian shift.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Dan sekarang, tanpa sadar, rumah sakit itu telah menjadi bagian dari hari-harinya. Ia menundukkan kepala.
Sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Ia tidak tahu apakah namanya masih menjadi bahan pembicaraan. Tidak tahu apakah orang-orang masih memperdebatkan video yang membuat hidupnya berantakan. Tidak tahu apakah kontrak-kontrak yang dulu memenuhi jadwalnya masih ada atau sudah dibatalkan satu per satu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elora tidak ingin tahu.
Ia sengaja tidak membuka media sosial, tidak membaca berita dan tidak bertanya kepada Millie tentang apa yang sedang ramai.
Bukan karena semuanya sudah tidak penting. Ia hanya tidak punya tenaga untuk peduli.
Untuk sementara, dunianya cukup sesederhana kamar 503. Selama Kartika masih bernapas di balik pintu itu, hal-hal lain terasa seperti suara dari tempat yang sangat jauh.
Elora memasukkan tangan ke dalam saku jaket. Jarinya menemukan sesuatu yang dingin dan keras.
Sebuah korek api miliknya. Ia mengeluarkannya dan memandangi benda kecil itu di telapak tangannya. Ia sudah merokok sejak beberapa tahun yang lalu, itu juga hanya sesekali jika ia terlalu stress.
Korek tersebut ia putar-putar di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Sesekali ia membolak-baliknya, memperhatikan permukaannya yang mulai tergores.
Ia tidak menyalakannya. Hanya memainkannya. Gerakan kecil yang berulang, seperti kebiasaan yang dilakukan seseorang ketika pikirannya terlalu penuh tetapi tidak tahu harus mulai membereskan dari mana.
Klik. Tutup korek itu terbuka.
Klik. Tertutup kembali.
Elora menatap nyala lampu taman di hadapannya.
Untuk sesaat, ia membayangkan betapa mudahnya sebuah api kecil menghilang. Cukup satu hembusan.
Lalu gelap kembali. Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.
Elora menundukkan kepala. Jemarinya masih memainkan korek kecil di tangannya.
"Karena kalau nggak ribet, manusia bakal semaunya sama hidup."suara berat itu terdengar dari belakang.
Elora terdiam.
Ia menoleh dan menemukan sosok tinggi berdiri beberapa langkah di belakangnya, tepat di antara cahaya lampu taman dan bayangan pepohonan. Untuk beberapa detik, wajahnya belum terlihat jelas. Hanya siluet tubuh dan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku jaket.
Sosok itu kemudian berjalan mendekat membuat cahaya lampu taman perlahan jatuh ke wajahnya.
Elora langsung mengenalinya.
"Ben?"
Ben hanya mengangkat dagu sebagai jawaban.
Ia berjalan menuju bangku semen di sebelah Elora, lalu duduk tanpa banyak bicara. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Elora menyadari aroma samar sabun dari tubuhnya.
Pandangan Ben kemudian jatuh kepada korek yang berada di tangan Elora.
"Gue nggak tau kalau lo merokok."
"Oh ini..."Elora segera memasukkan benda itu ke kantong jaketnya."Bukan punya gue."
Ben mengangkat alis."Terus?"
Elora mengangkat bahu."Nemu."
"Di mana?"
"Di kantong gue."jawab Elora.
Ben menatapnya beberapa detik. Jelas tidak percaya.
"Kenapa sih?"
"Nggak kenapa-kenapa. Gue cuma nanya."
"Ya udah, jangan nanya."ujar Elora sewot.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke bangku. Beberapa detik berlalu.
Lalu tanpa menoleh, Ben berkata,"Gue juga dulu ngerokok. Cuman semenjak perlahan gue berhenti. Awalnya susah, gue masih sering kepikiran buat ngerokok, apalagi kalau lagi stres kadang sehari bisa beberapa batang."
Elora mendengarkan tanpa menyela.
"Tapi lama-lama..." Ben berhenti sebentar, mencari kata yang tepat. "Gue punya alasan sendiri buat berhenti... karena adik gue."
Tatapannya beralih ke gedung rumah sakit di hadapan mereka.