Air mata Elora yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Satu tetes. Lalu satu lagi. Elora buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.
"Aku udah nyakitin Ibu."
"Iya."
"Aku ninggalin Ibu."
"Iya."
"Aku nggak sekalipun nanya kabar Ibu."
Kartika mengangguk pelan.
"Tapi Ibu lebih nyakitin kamu. Rasanya, Ibu gagal banget untuk jadi ibu yang baik. Ibu bahkan nggak sanggup untuk inget apa yang Ibu katakan waktu itu."Kartika menatap wajah putrinya yang kini dipenuhi air mata.
Elora menutup wajahnya. Tangis yang selama delapan hari tak kunjung keluar akhirnya pecah.
"Ibu masih bersihin kamar kamu berharap kamu bakal pulang. Tapi, Ibu selalu ngerasa, nggak pantas Ibu nyuruh kamu kembali disaat Ibu lah yang nyuruh kamu pergi."
Kartika mengusap kepala Elora perlahan. Seperti yang dulu selalu ia lakukan ketika putrinya masih kecil.
"Sekarang kamu disini dan itu sudah lebih dari cukup."
"Nggak cukup. Aku baru pulang, aku baru minta maaf, aku baru mulai jadi anak setelah delapan tahun ninggalin Ibu."
"Dengerin Ibu... Kita memang terlambar, tapi kita juga masih punya waktu. Walaupun sedikit."
Elora mengangguk sambil menghapus air matanya.
Kartika menarik napas pelan.
"Nanti suatu hari......kalau Ibu udah nggak ada..."
Elora langsung memotong.
"Bu. Nggak usah ngomong begitu."
Kartika tertawa kecil.
Tawa yang begitu lirih hingga hampir tak terdengar."Kalau nanti Ibu udah pergi....jangan hukum diri kamu terus."
Elora menggigit bibirnya.
"Kamu masih punya hidup yang panjang, kamu masih punya banyak orang yang harus kamu bahagiain. Termasuk diri kamu sendiri."
Air mata kembali mengalir di pipi Elora."Maafin aku..."
Kartika menggeleng pelan."Ibu udah maafin kamu...bahkan sebelum kamu pulang."
Kalimat itu membuat tangis Elora kembali pecah. Ia sontak memeluk ibunya hati-hati. Sangat hati-hati takut tubuh yang kini tinggal dibalut kulit itu akan merasa sakit.
Kartika membalas pelukan itu dengan tenaga yang tersisa. Tak seerat dulu. Namun cukup untuk membuat Elora kembali merasa menjadi anak kecil.
Beberapa saat kemudian, Kartika mengangkat tangan pelan.
"Coba lihat ke sana."ia menunjuk ke arah kolam kecil di sudut taman.
Di sana berdiri seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun mengenakan piyama rumah sakit bermotif awan biru. Kepalanya ditutupi topi rajut berwarna krem. Tubuhnya kecil, jauh lebih kecil dibanding anak seusianya.
Ia berdiri diam di tepi kolam, menatap ikan-ikan koi yang berenang perlahan.
Elora baru pertama kali melihatnya.
Mereka menghampiri anak itu."Hai."
Anak itu menoleh. Wajahnya langsung berbinar."Hai."
"Lagi ngapain?"
"Lihat ikan. Yang putih itu namanya Salju."
"Kok tahu?"
"Aku yang kasih nama."
Elora terkekeh pelan.
"Kamu sendiri aja?"
"Sama Nenek."
Elora menoleh ke kanan dan kiri. Tak jauh dari sana memang terlihat seorang perempuan lanjut usia sedang berbincang dengan seorang perawat.
"Ibu kakak sakit apa?"
"Hmm.. sakit.."baru Elora hendak menjawab pertanyaan itu, gadis kecil itu memotong.
"Masih bisa sembuh?"
Pertanyaan itu membuat Elora kehilangan kata-kata.
"Tentu dong."kali ini Kartika yang menjawab.
"Kata Nenek, aku nggak bisa sembuh. Makanya aku di sekolahin di sini. Tadi aku lihat banyak mainan sih, tapi kan nggak ada temen."
"Nanti main sama kakak, mau?"
"Yeay mau dong!"
"Nama kamu siapa?"
"Nama aku Gabby Anastasia, umurku 6 tahun. Kalau kakak sama Ibu kakak siapa namanya?"
"Nama aku Elora, nama Ibu kakak Kartika."
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya bergegas menghampiri mereka.
"Aduh, Gabby... ternyata kamu di sini."
Gabby langsung memeluk pinggang perempuan itu.
"Nek, aku lagi lihat ikan."
Wanita itu mengembuskan napas lega sebelum menoleh kepada Kartika dan Elora.
"Maaf ya kalau merepotkan."
"Nggak sama sekali," jawab Elora cepat.
"Baru masuk?"