Ruang Kenanga (Ruang Terakhir Ibu)

Karina Pinka
Chapter #10

Chapter 9: Kenalan sama Ibu

Elora merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di samping tempat tidur.

Setelah makan siang, tubuhnya mulai terasa lelah. Ia mengeluarkan ponsel lamanya dari saku hoodie. Ponsel itu sengaja ia gunakan sejak memutuskan tinggal di rumah sakit. Isinya nyaris kosong. Hanya ada WhatsApp untuk menghubungi Millie dan beberapa nomor penting. Tak ada Instagram, tidak ada TikTok, tidak ada X, ataupun aplikasi berita.

Beberapa hari pertama setelah videonya viral, Elora sempat mencoba membaca komentar demi komentar. Berharap menemukan satu orang saja yang mau mendengar penjelasannya. Namun yang ia temukan justru potongan video lain.

Video ketika ia sedang memarahi seseorang di lokasi syuting, video saat ia menolak diajak berfoto setelah menghadiri sebuah acara, video ketika wajahnya terlihat datar saat diwawancarai. Semuanya dipotong dan semua orang merasa berhak menyimpulkan siapa dirinya.

Sejak saat itu, Elora mematikan semuanya. Ia memilih menghilang.

Suara kain yang bergesekan membuat lamunannya buyar.

Ia segera menoleh ke arah ranjang.

Kartika perlahan membuka mata.

"Ibu..."Elora langsung bangkit dari sofa.

"Ibu udah bangun?"

Kartika berkedip beberapa kali. Pandangannya menyapu langit-langit kamar, lalu beralih ke infus di samping tempat tidur.

Beberapa detik kemudian, matanya berhenti pada Elora dengan tatapan kosong.

"Kamu..."suara Kartika terdengar pelan."...siapa?"tanyanya.

Jantung Elora seolah berhenti berdetak.

Meski Dr. Adrian sudah menjelaskan bahwa penyebaran kanker ke otak dapat memengaruhi daya ingat dan pengenalan wajah, mendengarnya secara langsung tetap terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.

Ia memaksakan sebuah senyum."Aku Elora, Bu."

Tak ada perubahan di wajah Kartika.

Elora mencoba lagi."Anaknya Ibu."

Kartika mengernyit pelan.Tatapannya masih menyelidik wajah Elora, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak berhasil ia temukan.

"...maaf."Kartika menggeleng pelan."Saya..."Kartika menarik napas pelan."...nggak ingat."lanjtunya.

Kalimat itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun.

Elora menunduk cepat agar ibunya tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Nggak apa-apa, Bu."

Ia tersenyum, meski suaranya nyaris bergetar."Gimana kalau kita kenalan lagi aja?"

Elora mengulurkan tangan perlahan.

"Halo. Aku Elora. Aku anak Ibu."

Kartika memandang tangan itu beberapa saat. Dengan ragu-ragu, ia perlahan menggenggam tangan Elora.

"Aku bolehkan manggil Ibu?"

Kartika nampak bingung.

Kali ini ia mengusap pelan kepala Elora dengan gerakan yang begitu lembut dan akrab. Seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang tak lagi mampu dijelaskan oleh pikirannya.

Elora menundukkan wajah, membiarkan air matanya jatuh diam-diam.

Lihat selengkapnya