Elora duduk di kursi yang berada tepat di depan Kamar 503. Punggungnya bersandar pada dinding, sementara kedua tangannya sibuk memegang ponsel. Ia baru saja keluar dari kamar untuk mengabari Millie bahwa kondisi ibunya pagi itu cukup baik.
Setelah mengirim pesan terakhir, Elora tidak langsung kembali masuk.
Tatapannya justru berkeliling. Satu per satu pintu kamar di sepanjang Bangsal Kenanga mulai terasa familiar.
Aneh rasanya. Baru seminggu lebih ia berada di tempat ini, tetapi ia mulai hafal suara-suara yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan. Bunyi roda troli obat yang berdecit setiap menjelang siang, suara langkah perawat yang tergesa ketika salah satu bel pasien berbunyi, suara pintu kamar yang sesekali terbuka dan tertutup, bahkan suara batuk dari kamar tertentu pun mulai bisa ia kenali.
Tanoa tanpa sadar, Elora mulai mengenal Ruang Kenanga dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Tatapannya berhenti pada Kamar 501. Damar. Adik Ben. Elora sebenarnya baru beberapa kali bertemu dengannya, itu pun tidak ada obrolan. Selama ini, orang yang lebih sering ia temui justru Ben dan Dina, ibu mereka. Keduanya kadang bergantian berada di rumah sakit, meski Ben jauh lebih sering terlihat. Damar baru berusia tujuh belas tahun, usia ia ketika kebanyakan anak laki-laki mungkin sedang sibuk memikirkan bermain dengan teman sekolah ataume rencana kuliah. Damar justru menghabiskan hari-harinya di rumah sakit.
Ben pernah bercerita bahwa adiknya sudah terlalu lelah dengan semua proses pengobatan. Bukan hanya tubuhnya yang kelelahan, tetapi juga pikirannya. Ada masa ketika Damar bahkan tidak mau membicarakan penyakitnya. Ia hanya ingin bermain Nintendo selama berjam-jam. Menurut Ben, mungkin itu caranya bertahan. Seolah selama kedua tangannya masih memegang controller dan matanya masih tertuju pada layar, ia bisa berpura-pura bahwa dirinya hanyalah anak tujuh belas tahun biasa yang sedang menghabiskan waktu libur.
Setiap kali melewati Kamar 501, ia selalu melihat Ben berada di sana. Kadang duduk di kursi samping tempat tidur. Kadang berdiri di dekat jendela sambil menelepon seseorang. Kadang keluar dengan wajah yang terlihat jauh lebih lelah daripada sebelumnya.
Elora kemudian mengalihkan pandangan ke Kamar 502. Gabby. Anak kecil berusia enam tahun, Elora selalu melihat Gabby terlihat ceria seolah anak itu tidak tau ia sedang sakit. Elora beberapa kali bertemu dengan Fara ataupun Nenek Aty yang sering menemani mereka. Kadang Fara terlihat sedang membawa makanan. Kadang ia duduk di depan kamar sambil berbicara dengan perawat. Mereka seringkali bergantian menemani Gabby bermain.
Tatapannya berpindah lagi.
Kamar 504. Ibu Diah. Istri Pak Eko. Seorang wanita yang dulu bekerja sebagai guru sekolah dasar sebelum akhirnya pensiun. Menurut Pak Eko, istrinya pensiun enam tahun lalu. Beberapa hari lalu, pria itu datang membawa setumpuk surat yang banyak. Menurut Pak Eko, surat-surat itu ditulis oleh murid-murid Ibu Diah sebelum ia pensiun. Ada yang tulisannya masih berantakan. Ada yang menggunakan kertas warna-warni. Ada pula yang hanya menuliskan beberapa kalimat pendek dengan huruf besar-besar. Pak Eko sempat tertawa ketika menceritakannya. Katanya, istrinya masih menyimpan semuanya. Tidak ada satu pun yang dibuang.
Elora kembali menggeser pandangan.
Kamar 505 adalah kamar yang ditempati Rizal, suami Ajeng. Pria itu didiagnosis gagal jantung kronis tahap lanjut. Kondisinya membuat aktivitas sederhana pun terkadang harus disesuaikan dengan kemampuan tubuhnya. Karena itu, Ajeng tidak ingin sisa waktu mereka hanya dihabiskan di dalam kamar rumah sakit. Mereka memiliki kertas yang berisi Things We Still Want To Do: isi list itu berisi Makan es krim bertiga, foto keluarga di taman, merayakan ulang tahun Raka, dan pulang bersama-sama.
Elora menundukkan kepala.
Sebelum datang ke tempat ini, ia mengira rumah sakit hanya berisi orang-orang sakit. Sekarang ia tahu, ternyata bukan hanya pasien yang sedang berjuang. Ada kakak yang menunggu adiknya sembuh, ada ibu yang berusaha tetap tersenyum di depan anaknya, ada seorang suami yang membawa surat-surat dari masa lalu istrinya, ada istri yang menunggu suaminya, dan ada seorang anak perempuan yang baru kembali setelah bertahun-tahun pergi. Dirinya.
Elora mengembuskan napas pelan.
Ia menatap pintu Kamar 503 di sampingnya. Di balik pintu itu ada Kartika. Ibunya. Untuk pertama kalinya, Elora menyadari sesuatu.
Selama ini ia datang ke Bangsal Kenanga karena satu orang. Namun tanpa disadarinya, tempat itu telah memperkenalkannya kepada begitu banyak kehidupan. Dan setiap kehidupan menyimpan cerita yang tidak pernah terlihat dari luar.
Ia memasukkan ponsel ke dalam saku Kemudian berdiri dan membuka pintu Kamar 503 perlahan.
Di dalam, Kartika masih tertidur. Elora masuk tanpa suara. Dan untuk beberapa saat, ia hanya duduk di samping ranjang, memperhatikan napas ibunya yang naik turun dengan pelan.
***
Elora melirik ke arah lorong ketika mendengar suara langkah kaki yang berlalu-lalang. Bukan suara perawat yang terburu-buru atau keluarga pasien yang keluar masuk kamar. Kali ini terdengar suara beberapa orang berbicara pelan, diselingi tawa kecil yang segera diredam.
Elora mengernyit.
Dari celah pintu Kamar 503, ia mengintip ke luar.
Lorong Bangsal Ruang Kenanga yang biasanya tenang kini dipenuhi beberapa remaja. Sebagian berdiri berkelompok, sebagian lainnya duduk di kursi yang berjajar sepanjang lorong. Tidak ada yang berbicara terlalu keras. Beberapa bahkan membawa bunga dan bingkisan kecil.
Elora segera keluar dari kamar.
Sebelum melangkah lebih jauh, ia mengenakan masker putih dan topi hitam yang sudah menjadi penyamarannya selama berada di rumah sakit.
Semakin dekat, ia mulai mengenali beberapa wajah. Ajeng berdiri di dekat pintu Kamar 504, dii sampingnya ada Fara dan Nenek Aty.
Elora menghampiri mereka."Ada apa? Mereka siapa?"
Fara menoleh."Anak-anak murid Bu Diah dulu."
Elora terdiam.
Ia kembali memandang ke dalam kamar.