Tiittt...
Suara monitor terdengar panjang. Semua kepala menoleh bersamaan ke arah monitor di samping tempat tidur.
"Bu...?"
Pak Eko berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser."Diah?"
Tiiiiiiiiit...
Pintu kamar mendadak terbuka.
Seorang perawat berlari masuk, disusul seorang dokter beberapa detik kemudian."Semua keluar dulu, ya. Tolong."
Anak-anak yang semula memenuhi kamar langsung bergerak mundur. Beberapa terlihat kebingungan. Salah satu dari mereka masih menggenggam surat yang belum sempat diletakkan.
Pintu kamar ditutup.
Elora berdiri membeku di lorong. Dari balik kaca kecil di pintu, ia bisa melihat dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar ranjang.
Fara menutup mulutnya dengan tangan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Beberapa muridh Bu Diah mulai menangis.
Tiiiiit...
Suara itu kembali terdengar membuat Elora menahan napas.
Di sebelahnya, Fara berbisik,"Ya Allah."
Beberapa detik kemudian, pintu Kamar 504 terbuka. Seorang perawat dan dokter yang belum pernah Elora lihat keluar.
Di dalam ruang suara tangisan Pak Eko terdengar. Tangisan yang terdengar menyakitkan bagi Elora dan siapaoun yang mendengarnya.
Dokter menarik napas panjang."Bu Diah sudah tiada."
Di balik pintu Kamar 504, tubuh Ibu Diah kini terbaring tanpa suara.
Ini kematian pertama yang ia saksikan di Ruang Kenanga.
***
Sudah dua hari sejak Bu Diah meninggal. Tidak banyak yang berubah, tetapi entah mengapa lorong itu terasa lebih sepi.
Elora sempat datang melayat ke kediaman Pak Eko bersama Ben, Bu Dina, dan Nenek Aty.
Ia duduk di sofa kecil di samping tempat tidur. Kartika masih terbaring dengan mata terpejam, napasnya terdengar pelan melalui selang oksigen yang terpasang di bawah hidung. Sesekali Elora bangkit hanya untuk membetulkan posisi selimut atau memastikan selang oksigen ibunya tidak bergeser..
Untuk beberapa saat, kamar hanya dipenuhi suara napas Kartika dan bunyi monitor yang teratur.
Elora menatap wajah ibunya. Sekarang, bahkan ketika Kartika hanya sedang tidur, Elora merasa takut memalingkan pandangan terlalu lama. Dua hari lalu, ia melihat seseorang pergi untuk pertama kalinya sejak berada di Bangsal Kenanga. Dan sejak saat itu, sebuah pikiran yang selama ini berusaha ia dorong jauh-jauh terus kembali muncul.
Suatu hari nanti, ia mungkin akan melihat hal yang sama terjadi pada ibunya.
Dada Elora terasa sesak. Ia menundukkan kepala. Air matanya jatuh begitu saja. Ia hanya mengusap pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang yang bergetar.
Tangannya kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia melihat foto terakhir yang tersimpan di galeri. Tumpukan surat-surat murid Bu Diah. Foto terakhir yang tersimpan di galeri adalah foto tumpukan surat milik Bu Diah.
Elora menatapnya beberapa detik. Kemudian ia membuka Instagram yang baru beberapa hari lalu ia unduh kembali.
Ia membuka profile akun dump miliknya dengan username @lorafolder dengan followers dua ribu. Akun itu ia buat beberapa tahun lalu untuk mengunggah foto-foto random.
Kemudian ia membuka galeri sekali lagi dan memilih foto tumpukan surat itu. Untuk beberapa detik, jarinya berhenti di atas tombol share.
Elora mulai mengetik.
Ada surat-surat yang disimpan bertahun-tahun.
Ditulis oleh tangan-tangan kecil, dengan tulisan yang belum rapi, untuk seseorang yang pernah mengajarkan mereka membaca dan menulis.
Ini bukan sekadar tumpukan kertas. Di dalamnya ada cerita tentang masa kecil, tentang kenakalan, tentang pelajaran yang pernah diberikan, dan tentang kenangan-kenangan kecil yang ternyata masih berarti, bahkan hingga hari terakhirnya.
Mungkin bagi mereka ini adalah surat lama. Tapi bagi Ibu Diah, mungkin inilah salah satu cara untuk tahu bahwa dirinya pernah begitu berarti dalam hidup seseorang.
Dan untuk Pak Eko yang kini harus melanjutkan hari-harinya tanpa Bu Diah, mungkin tidak ada kata yang benar-benar cukup untuk menggambarkan betapa hebatnya beliau. Tetap mendampingi, tetap bertahan, bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah lelah.
Semoga segala lelah yang pernah ditahannya menjadi kebaikan yang kembali kepadanya.
Al-Fatihah. Selamat beristirahat, salah satu Ibu Guru Hebatš¤