Ruang Kenanga (Ruang Terakhir Ibu)

Karina Pinka
Chapter #13

Chapter 12: Ayah

Sudah beberapa hari terakhir, kondisi Kartika semakin tidak menentu. Ada kalanya perempuan itu masih mengenali Elora. Ada kalanya ia memanggilnya dengan nama yang salah. Bahkan beberapa kali Kartika mengira Elora adalah perawat yang baru pertama kali ditemuinya. Kadang ia marah tanpa alasan yang jelas, kadang ia bertanya tentang Ayah.

Setiap kali itu terjadi, Elora tetap berada di sana. Membantu Kartika makan. Merapikan selimutnya. Mengusap keringat di dahinya. Memanggil perawat ketika nyerinya kambuh. Bahkan ketika Kartika tidak lagi tahu siapa yang sedang duduk di sampingnya.

Malam itu, Elora baru saja keluar dari kamar untuk mencari makan ketika mendengar suara pintu terbuka dari ujung lorong.

Fara keluar dari Kamar 506 dengan wajah pucat. Matanya sembap. Melihat hal itu Elora langsung menghampirinya.

"Mbak Fara?"

Fara menggeleng sambil menutup mulutnya. Bahunya bergetar.

"Mbak, kenapa?"

Fara berusaha menarik napas, tetapi air matanya justru semakin deras.

"Gabby..."

Elora menoleh ke arah Kamar 506. Beberapa perawat berlari masuk ke dalam kamar.

Dari balik pintu yang terbuka, terdengar suara tangisan seorang anak."Papa!"

Suara itu berubah menjadi jeritan.

"Papa... Gabby mau ketemu Papa!"

Nenek Aty terlihat berusaha menenangkan tubuh kecil Gabby yang terus meronta di atas ranjang.

Elora berdiri terpaku melihat seorang anak sekecil Gabby menahan sakit seperti itu tetap membuat dadanya terasa sesak.

Fara menggenggam lengan Elora."El... aku harus gimana?"

Elora menatapnya.

"Gabby mau ketemu papanya."

Fara mengusap air matanya.

"Aku nggak tahu harus bilang apa."

"Mbak bisa telepon."

Fara langsung menggeleng."Aku nggak mau."

"Kenapa?"

"Dia bahkan udah nggak peduli sama Gabby."

Elora terdiam.

Dari dalam kamar, suara Gabby kembali terdengar.

"Papa..."satu kata itu membuat Fara kembali menangis.

Elora menggenggam tangannya.

"Demi Gabby, Mbak."

Beberapa detik kemudian, Fara mengangguk.

***

Siang itu, Elora baru saja keluar dari kamar Kartika hendak ke ruang perawat untuk meminta selimut baru. Ketika langkahnya melambat di depan Kamar Gabby. Pintu kamar terbuka sedikit. Dari celahnya, ia melihat seorang pria berdiri di samping ranjang Gabby.

Pria itu tampak canggung. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara matanya terus mengikuti Gabby yang sedang berbicara dengan cepat. Sesekali ia mengangguk, tetapi tidak banyak mengatakan apa-apa.

Gabby terlihat berbeda. Anak itu tidak berlari-lari seperti biasanya. Ia justru duduk tenang, sesekali menunjukkan sesuatu kepada pria tersebut.

Elora tidak perlu bertanya untuk tahu siapa pria itu, namun ia tahu kalau itu Ayah Gabby.

Dari lorong, ia bisa melihat Fara berdiri tidak jauh dari pintu. Perempuan itu tidak masuk. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tertuju pada Gabby dan pria itu.

Ada banyak hal yang terlihat di wajahnya. Marah. Kecewa. Lelah.

Fara akhirnya menarik napas panjang lalu mengusap wajahnya dan masuk ke Ruangan.

Elora menunduk. Ia tidak bisa membayangkan seberapa besar ego yang harus ditelan Fara untuk memberikan kesempatan itu. Kadang-kadang, mencintai seseorang bukan berarti mempertahankan kemarahan. Kadang, mencintai seseorang berarti bersedia menyingkirkan luka sendiri agar orang yang dicintai bisa mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan.

Elora kemudian melanjutkan langkah menuju luar.

Baru beberapa meter berjalan, sebuah suara memanggilnya.

"Kak Elora."

Elora menoleh. Damar berdiri di depan Kamar 501.

"Kamu mau ke mana?"

"Taman."

"Ngapain?"

"Nyari udara. Sekalian mau telepon Papa."

Elora mengangguk.

Baru setelah itu ia menyadari sesuatu. Selama beberapa hari berada di Ruang Kenanga, ia hampir tidak pernah melihat sosok ayah di sekitar Damar. Ben selalu ada. Bu Dina juga selalu ada. Namun ayah Damar hampir tidak pernah terlihat.

"Papa kamu nggak di sini?"

Damar menggeleng.

"Lagi kerja Dubai. Kakak mau nitip sesuatu di Dubai? Dubai chewy cookie gitu?"tanya Damar bercanda.

“Ngapain jauh-jauh beli di Dubai? Aku nitip cowok Dubai aja satu.”

Damar langsung tertawa.“Ngapain jauh-jauh nyari cowok Dubai?”

Ia melirik ke arah belakang Elora.

"Kan ada Kak Ben."

Elora mengernyit."Hah?"

Damar tersenyum lebar.

"Kenapa?"

“Ben kenapa?”

Damar mengangkat bahu.

"Emang Kakak nggak sadar?"

"Sadar apaan?"

"Damar."suara seseorang terdengar dari belakang.

Mereka berdua menoleh.

Ben berdiri beberapa langkah dari sana dengan tangannya memegang botol air mineral.

Sebelum Ben sampai di dekat mereka, Damar mengatakans esuatu,"Oh iya, aku ada permintaan yang waktu itu. Sini aku bisikin."

Damar membisikkan kata demi kata permintaannya.“Eh.”

Hal itu membuat Elora terdiam sesaat.

"Bye aku pergi dulu. Jangan kasih tau Kak Ben."ucap Damar dan langsung melangkah pergi.

"Apa yang dia omongin?"

Elora menggeleng cepat.“Nggak ada.”

Ben menatapnya curiga.

"Serius?"

"Serius."

"Lo mau kemana?"tanya Ben.

"Oh ini, mau minta ganti selimut tadi ketumpahan bubur."

"Yuk, gue temenin."

"Ngapain?"

"Ya nggak apa-apa, gue temenin aja."

***

Elora tidak mengerti dengan permintaan Damar. Sebenarnya ia sendiri tidak menyangka dengan permintaan itu, ia mengira Damar akan meminta sesuatu seperti barang atau makanan. Namun, Damar ingin dirinya melaukan sesuatu untuknya. Hal itu membuat Elora memutar otaknya untuk melakukan sesuatu.

Elora masuk ke Ruangan Ibunya dengan pelan dan melihat Kartika sudah terbangun. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Matanya hanya tertuju kepada Elora dari atas ranjang. Tatapannya sulit dibaca. Ada kemarahan di sana, tetapi juga sesuatu yang lebih tua, kekecewaan yang seolah sudah disimpan terlalu lama.

Elora perlahan melepaskan gagang pintu. Ia menutup pintu tanpa suara.

"Ibu sudah bangun?"

Kartika tetap diam.

Elora berjalan mendekat. Ia menarik kursi yang berada di samping ranjang, lalu duduk."Udah mendingan?"

Tidak ada jawaban.

Elora memperhatikan wajah ibunya. Beberapa saat lalu perempuan itu tertidur setelah obat diberikan. Sekarang matanya terbuka, tetapi wajahnya terlihat lebih pucat.

"Ibu?"

Kartika akhirnya bersuara.

"Ngapain kamu di sini?"Suaranya pelan.

Namun justru karena itulah kalimat itu terasa lebih tajam.

Elora terdiam.

"Aku..." ia menelan ludah. "Aku di sini nemenin Ibu."

Kartika tertawa pendek seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

Lihat selengkapnya