Malam itu, setelah memastikan Kartika tertidur, Elora membuka Instagram.
Unggahan surat Bu Diah tempo lalu sangat sepi hanya mendapatnya 345 likes. Kemudian iia menatap foto sebuah sudut lorong Bangsal Kenanga yang diambil beberapa hari lalu, cahaya sore yang masuk dari jendela, beberapa kursi kosong di sepanjang dinding, dan papan kecil bertuliskan: RUANG KENANGA
Elora sebenarnya tidak berniat mengunggah foto itu. Ia hanya ingin menyimpannya. Kemudian, tanpa banyak berpikir, ia mengunggahnya dengan caption: Kita terlalu sibuk berharap punya lebih banyak waktu, sampai lupa menggunakan waktu yang sudah diberikan kepada kita. Tempat ini mengajarkan bagaimana cara menghargai waktu, bahkan setiapd etiknya. Selama masih ada waktu, orang-orang di dalamnya selalu ada alasan untuk tetap berharap.
Elora menekan tombol Post.
Ia meletakkan ponselnya.
Tidak sampai lima menit kemudian, layar kembali menyala. Elora mengabaikannya.
Ia tidak tahu bahwa foto sederhana itu sedang beredar jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
@030199
WAIT. Kenapa kayak familiar banget?
@lovesjaemin:
Ini bukannya ruang bu diah kemarin @mozzaa
@naya:
Guys... ini akun Elora, kan?
@rerehere:
ELORA ANINDYA???
Seseorang kemudian mengunggah tangkapan layar foto tersebut ke threads.“Guys, bukannya ini Elora yang beberapa waktu lalu kena masalah itu? Kok dia posting foto bangsal rumah sakit?”
Dalam waktu kurang dari satu jam, nama Elora kembali muncul di berbagai media sosial. Orang-orang mulai menghubungkan semuanya. Postingan beberapa minggu lalu yang berisi foto surat-surat Bu Diah. Bahkan beberapa orang mulai memberi tahu bahwa mereka melihat Elora di Rumah Sakit Harapan Sentosa.
Di dalam kamar, Elora tidak mengetahui apa pun. Ia sedang duduk di samping ranjang Kartika ketika mendengar suara napas yang berubah.
Elora langsung menoleh.
“Ibu?”
Kartika tidak menjawab.
Dahinya berkeringat. Wajahnya jauh lebih pucat daripada beberapa jam sebelumnya.
Elora berdiri.
“Ibu, ada yang sakit? Mau aku panggilin perawat”
Kartika membuka mata perlahan. Tatapannya kosong.
“Elora...”
Elora mendekat.“Iya, Bu?”
Kartika mengerutkan kening. Seolah sedang berusaha mengenali wajah di hadapannya.
“Bukan salah kamu.”
Elora terdiam. Lagi.
Kartika tiba-tiba memegang dadanya.
“Sesak...”
Elora langsung menekan tombol panggil perawat.
“Ibu, tenang. Tarik napas pelan.”
“Sakit...”
“Bagian mana?”
Kartika menunjuk dadanya dengan tangan gemetar.
“Di sini...”
Elora segera berdiri di samping ranjang.
Pintu kamar terbuka.
Seorang perawat masuk, disusul dokter beberapa saat kemudian.“Bu Kartika, coba tarik napas pelan.”
Elora berdiri di sudut kamar.
“Kita bantu atasi nyerinya dulu.”
Kartika kembali meringis. Napasnya semakin pendek.
Elora menggenggam ujung bajunya.
Kartika menoleh. Untuk beberapa detik, tatapannya bertemu dengan mata Elora.
"Ibu aku di sini.."
Seolah perempuan itu sedang berusaha mengingat.
“El...”
Elora membeku.
“Iya?”
Namun Kartika kembali mengerutkan kening.“Bukan, kamu siapa?”
Tatapannya kosong.
"Aku Elora."
“Siapa Elora?”