Ruang Kenanga (Ruang Terakhir Ibu)

Karina Pinka
Chapter #15

Chapter 14: Permintaan Damar

Elora baru saja selesai mengubah taman kecil di area taman menjadi sesuatu yang hampir tidak lagi terlihat seperti bagian dari rumah sakit.

Beberapa meja kayu kecil ditata di bawah pepohonan, masing-masing dikelilingi dua hingga empat kursi. Lampu-lampu kecil digantung di antara ranting, membentuk cahaya hangat yang perlahan semakin terlihat ketika matahari mulai turun.

Di dekat pintu masuk, sebuah papan kayu berdiri dengan tulisan: Kenanga Garden Cafe.

Di salah satu sisi taman, sebuah meja panjang dipenuhi makanan, seperti dimsum mentai, sandwich, cookies, chocolate fountain dengan beberapa buah disekelilingnya, serta berbagai makanan ringan dari beberapa brand. Semenatra ifu, di meja lain tersedia beberapa pilihan juice dan juga matcha dari cafe favorite Elora.

Hal ini ia lakukan berawal dari satu permintaan sederhana.

“Aku pengin sehari jadi orang normal yang kelihatan nggak sakit.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Elora, mewujudkannya ternyata tidak sesederhana itu. Rencananya ia ingin membawa Damar ke luar Rumah Sakit, namun rasanya hal itu terlalu beresiko.

Oleh karena itu, ia memiliki ide membuat sebuah cafe di taman. Memang tidak mudah, karna ia harus berbicara dengan pihak rumah sakit, meminta izin menggunakan area taman, memastikan volume musik yang diputar tidak mengganggu pasien lain, mengatur makanan, hingga memastikan seluruh kegiatan tetap aman bagi kondisi Damar dan pasien lain.

Untungnya, Ben membantu hampir di setiap prosesnya. Beberapa kenalan Ben dari event organizer ikut turun tangan. Mereka membawa meja, lampu, dekorasi, bahkan membantu menata taman sejak pagi.

Elora sendiri tidak terlalu memikirkan apakah semuanya akan terlihat sempurna.

Damar berdiri di depan pintu taman, ia mengenakan t-shirt oversize berwarna hitam dan celana pendek. Rambutnya ditata sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada piyama rumah sakit. Tidak ada selimut yang menutupi kakinya. Gelang identitasnya pun tersembunyi di balik lengan bajunya. Tampilannya sangat fresh.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri.

Dalam diam, matanya bergerak perlahan menyusuri taman. Memandangi satu persatu apa yang berubah dari cafe ifu: meja-meja kecil, makanan yang memenuhi meja, musik yang terdengar samar, dan dekorasi cafe lainnya.

Semua terlihat begitu berbeda dari tempat yang selama ini ia lihat.

Bibir Damar sedikit terbuka.“Ini...”

Elora yang berdiri tidak jauh darinya tersenyum.“Selamat datang.”

Damar menoleh. Kemudian berhenti di tengah taman. Ia melihat sekeliling lagi, seolah memastikan semua yang ada di hadapannya benar-benar nyata.

Tangannya bahkan sempat menyentuh salah satu meja.

“Kak...”

Elora mendekat.”Kenapa? Kamu nggak suka?”

Damar menunjuk ke arah meja makanan.

”Ini beneran?”

Damar tersenyum.

Senyum yang jarang Elora lihat selama berada di Ruang Kenanga.

“DAMAR!”terdengar suara teriakan terdengar dari ujung taman.

Damar langsung menoleh. Sekumpulan remaja masuk melalui pintu. Ada sekitar lima belas orang.

"Kalian di sini??"

"Hai, bro. Apa kabar?"

"Damar kita kangen!!"ucap seorang perempuan berbadan gempal yang nampak berseru.

Salah satu teman yang lebih tinggi darinya menepuk punggung Damar."Kangen basket, nggak? Nih gue bawain bola basket dari gudang sekolah."

Ben bercerita bahwa sebelum Damar didiagnosis leukimia, laki-laki itu mengikuti eksul basket bahkan beberapa kali tournament. Namun, sayang penyakitnya membuat Damar tidak bisa lagi bermain basket.

"Astaga, lo maling basket Pak Joni??"tanya salah satu laki-laki berambut cepak.

Teman Damar yang berbadan tinggi itu terkekeh."Izinnya nanti."

Damar dan lainnya ikut tertawa."Thanks ya, Vin!"ucap Damar.

"Kalian have a fun ya... Ingat pesan kakak!"ucap Elora.

Saat menghubungi teman Damar, Elora sudah memberi pesan bahwa mereka harus mengikuti prosedur dari Rumah Sakit yaitu: tidak boleh berisik.

"Siap kak, El!"

"Btw kak Elora cantik bangettttt."

Elora hanya tertawa.

Dari belakang Damar, Ben berjalan perlahan. Ia berhenti beberapa langkah dari kerumunan.

Matanya tertuju kepada adiknya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ben tidak melihat Damar sebagai pasien. Bukan sebagai seseorang yang harus terus dijaga, diawasi, atau diingatkan untuk beristirahat. Ia hanya melihat seorang remaja. Seorang anak laki-laki yang sedang tertawa bersama teman-temannya, mengenakan jersey kesukaannya, memegang bola basket, dan sesekali berebut makanan dari meja.

Ben kemudian berjalan menghampiri Elora yang sedang mengambil segelas matcha dari salah satu stand.

“Thanks, ya.”

Elora menoleh.“Buat?”

Ben mengangkat dagunya ke arah taman.“Ini.”

Elora tersenyum kecil.“Kan hampir semuanya lo yang ngerjain.”

“Gue cuma bantu.”

”Lo yang cari EO, lo yang ngurus sound system, lo juga yang bantu koordinasi sama rumah sakit.”

“Kan idenya datang dari lo.”

Elora mengaduk matcha di tangannya.“Idenya Damar.”

Elora menatap ke arah Damar.“Gue cuma berusaha mewujudkan.”tambahnya

Selama beberapa hari terakhir, di sela-sela menjaga Kartika, Elora memang diam-diam menghubungi beberapa vendor makanan. Ia meminta bantuan beberapa kenalan untuk menyediakan stand makanan dan minuman tanpa membuat taman itu terasa seperti acara besar.

“Kak!”Suara Damar membuat keduanya menoleh.

Damar berdiri di dekat mesin foto sambil melambaikan tangan.

“Sini!”

Ben menunjuk dirinya sendiri.“Gue?”

“Iya, lo sama Kak Elora!”

Elora tertawa kecil.

“Ngapain?”

“Foto!”

“Ayo,” kata Ben.

Damar berada di tengah, sementara Ben dan Elora berdiri di kedua sisinya.

“Sini foto bertiga!”ujar Damar.

Lihat selengkapnya