Beberapa minggu setelah kematian Kartika, Elora masih datang ke Ruang Kenanga. Bukan sebagai pasien. Bukan lagi sebagai anak yang duduk berjam-jam di samping ranjang ibunya. Ia datang sebagai seseorang yang pernah tinggal di sana.
Perawat-perawat yang dulu hanya mengenalnya sebagai wali pasien kini mulai terbiasa melihatnya kembali. Kadang Elora datang membawa beberapa kotak makanan. Kadang ia duduk di ujung lorong sambil menyapa keluarga-keluarga yang sedang menunggu. Sesekali ia hanya datang untuk berbincang dengan seseorang yang membutuhkan teman.
Ruang Kenanga masih sama. Bau antiseptik. Suara roda ranjang yang sesekali melewati lorong. Bunyi monitor dari balik pintu kamar. Dan suara orang-orang yang berusaha berbicara biasa-biasa saja meskipun sedang menyimpan ketakutan yang tidak bisa mereka ucapkan.
Namun bagi Elora, tempat itu tidak pernah lagi terasa sama.
Kartika sudah tidak ada.
Tetapi cerita-cerita yang pernah ia dengar masih tinggal di sana.
Damar adalah salah satunya. Beberapa hari terakhir, kondisinya semakin menurun. Ben dan Bu Dina terlihat semakin lelah. Hampir setiap hari mereka bergantian menjaga Damar, tidur beberapa jam di kursi, lalu kembali terbangun ketika kondisi Damar berubah.
Gabby juga semakin sering kehilangan kesadaran. Fara dan Nenek Aty mulai belajar melakukan sesuatu yang paling sulit dilakukan manusia—menerima bahwa mungkin tidak semua orang bisa diselamatkan.
Sementara itu, kondisi Rizal memburuk. Suami Ajeng itu akhirnya dipindahkan ke ICU setelah mengalami kondisi kritis.