Sudah hampir sebulan sejak Elora kembali menetap di Rumah Sakit Harapan Sentosa. Selama itu juga, kondisi Kartika perlahan berubah.
Perawatan paliatif tetap berjalan. Dokter dan perawat masih rutin memantau kondisinya, memberikan obat untuk mengendalikan nyeri, membantu mengatasi sesak, serta memastikan Kartika tetap senyaman mungkin. Namun, hari demi hari, tubuh Kartika mulai kehilangan kemampuannya untuk melakukan hal-hal sederhana. Awalnya hanya berjalan ke kamar mandi. Kemudian duduk terlalu lama di tepi ranjang. Setelah itu, bahkan untuk mengubah posisi tidur pun Kartika mulai membutuhkan bantuan.
Elora mulai hafal hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan.
Kapan ibunya mulai kesulitan bernapas. Kapan wajah Kartika berubah menahan nyeri. Kapan ia membutuhkan air. Dan kapan ia hanya ingin tidur.
Pagi itu, Elora membantu Kartika duduk.
“Pelan-pelan, Bu.”
Kartika mengangguk kecil.
Tangannya mencengkeram lengan Elora.
Beberapa detik saja sudah membuat napasnya terengah.
Elora segera mengambil bantal dan menyelipkannya di belakang punggung ibunya.
“Udah nyaman?”
Kartika mengangguk.
“Minum?”
Kartika menggeleng.
“Makan?”
Kali ini Kartika hanya memejamkan mata.
Elora tidak memaksa. Ia menarik selimut hingga menutupi kaki ibunya yang semakin kurus.
Semakin hari, Elora mulai memahami sesuatu. Perawatan paliatif bukan tentang membuat seseorang kembali seperti semula. Bukan tentang memaksa tubuh untuk sembuh ketika tubuhnya sudah terlalu lelah. Melainkan tentang memastikan seseorang tetap mendapatkan kenyamanan ketika tubuhnya perlahan kehilangan kekuatannya.
Siang harinya, Kartika kembali mengalami nyeri.
Elora segera memanggil perawat. Obat diberikan sesuai rencana yang telah ditetapkan tim medis. Beberapa saat kemudian, napas Kartika mulai lebih teratur. Kerutan di dahinya perlahan menghilang. Wajahnya yang semula menahan sakit mulai terlihat lebih tenang.
Elora duduk di samping ranjang.
Pandangannya jatuh pada tangan ibunya yang semakin kurus.
Elora perlahan menggenggamnya.
“Ibu capek?”
Kartika tidak menjawab.
Matanya tetap terpejam.
Elora tidak tahu apakah ibunya mendengar atau tidak.
Namun kali ini ia tetap berbicara.
“Kalau capek, tidur aja.”
Ia mengusap punggung tangan Kartika dengan ibu jarinya.
“Ibu belum kelar ngerajut baju kamu.”Jari Kartika bergerak sedikit.
Elora tersenyum tipis.
“Ya udah, nanti diselesaiin lagi pelan-pelan. Aku bakal tungguin kok.”
Beberapa detik berlalu. Kartika membuka matanya sedikit.
“Ibu takut...”
Elora langsung menoleh.
“Takut apa?”
Kartika menatapnya. Pandangannya tidak sepenuhnya fokus, tetapi kali ini ia tampak benar-benar sedang berusaha berbicara.
“Takut nggak nyelesain rajutan Ibu...”
Dada Elora terasa sesak.
Ia berusaha tersenyum.“Ibu nggak boleh ngomong kayak gitu, ah. Waktu Ibu tuh masih banyak.”kalimat itu keluar begitu saja. Terlalu cepat. Seolah Elora sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Kartika menatap wajah putrinya cukup lama.“Kamu yakin?”
Elora mengangguk.“Yakin.”
Ia tersenyum, meski matanya mulai terasa panas.
“Jadi Ibu jangan buru-buru.”
Kartika menghela napas pelan.
“Kalau nanti belum selesai...”
“Aku tunggu.”
“Kalau benangnya habis?”
“Kita beli lagi.”
Elora tetap menggenggam tangan ibunya. Ia tidak tahu berapa lama waktu yang mereka punya. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, ia tidak ingin melewatkan satu detik pun.
***
Elora nampak tidak enak badan sejak pagi. Awalnya ia mengira hanya kurang tidur., karena semalam tidurnya pun tidak benar-benar nyenyak. Ia beberapa kali terbangun untuk memastikan ibunya masih bernapas dengan tenang.
Namun menjelang siang, rasa pusing itu semakin mengganggu. Kepalanya terasa berat. Pandangannya sesekali berkunang-kunang ketika berdiri terlalu cepat.
Elora memijat pelipisnya pelan.
"Mungkin cuma kecapekan," gumamnya.
Elora akhirnya berdiri."Aku keluar sebentar ya, Bu."
Tentu saja tidak ada jawaban.
Ia berjalan keluar kamar dan menuju nurse station.
Lorong Ruang Kenanga hari itu cukup tenang. Hanya terdengar suara roda troli perawat dan percakapan pelan dari beberapa keluarga pasien.
"Mbak," panggil Elora kepada salah satu perawat.
Perawat itu menoleh."Iya, Mbak Elora?"
"Ada obat sakit kepala nggak ya?"
Perawat itu langsung memperhatikannya.
"Mbak kelihatan pucat."
"Hah? Masa?"
"Iya."
Elora tertawa kecil."Mungkin kurang tidur."
"Saya ambilin obatnya..."
"Iya, Mbak."
Baru saja percakapan itu selesai.Titttt.