Ruang Kenanga (Ruang Terakhir Ibu)

Karina Pinka
Chapter #16

Chapter 15: Kembalinya Elora?

Setelah hampir sebulan menghilang sejak skandal yang membuat namanya menjadi perbincangan di mana-mana, Elora akhirnya kembali muncul di media sosial.

Hanya unggahan-unggahan foto sederhana yang terlihat tidak punya arti, namun dibaliknya mempunyai makna besar. Semuanya di mulai dari foto setumpuk surat milik Bu Diah, foto Gabby yang sedang menunjuk ikan, foto bangsal Ruang Kenanga, monil-mobilan milik Raka, dan foto taman paliatif yang selama beberapa minggu terakhir menjadi bagian dari kesehariannya

“ELORA IS BACK?”

“Gue kira dia bakal hilang selamanya.”

“Kenapa tiba-tiba posting rumah sakit?”

Sebagian orang menyambut kepulangannya. Sebagian lainnya masih mengungkit skandal yang membuatnya kehilangan beberapa kerja sama. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Elora mengunggah foto selanjutnya. Foto sebuah tangan kecil dan rapuh yang sedang memegang benang rajut.

Dalam beberapa jam, nama Elora kembali menjadi trending. Namun kali ini bukan karena skandal. Orang-orang mulai bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Elora selama sebulan terakhir? Kenapa ia berada di rumah sakit?

Di tengah keramaian itu, Elora hanya meletakkan ponselnya. Ia tidak membaca komentar. Tidak membuka pesan masuk. Tidak peduli berapa banyak orang yang membicarakan namanya.

Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ia hanya ingin bercerita. Tentang orang-orang yang ia temui. Tentang keluarga yang masih menunggu. Tentang pasien yang masih ingin hidup. Tentang orang-orang yang tidak punya banyak waktu, tetapi tetap berusaha membuat hari-hari terakhir mereka berarti. Dan mungkin—tentang seorang ibu yang akhirnya sempat ia panggil Ibu lagi sebelum semuanya terlambat.

Bersamaan dengan ramainya unggahan Elora, sebuah video lama kembali muncul ke permukaan.

Video itu diunggah oleh seorang pekerja sosial yang sebulan lalu pernah bertemu Elora di Rumah Aman ketika kasus Aisha pertama kali mencuat.

Dalam video tersebut, perempuan itu duduk berdampingan dengan Aisha. Tidak ada suasana formal seperti konferensi pers. Mereka hanya duduk di sebuah ruangan sederhana, dengan Aisha yang sesekali memainkan ujung bajunya.

Pekerja sosial itu menatap kamera.

“Banyak sekali informasi yang beredar tentang Mbak Elora dan Aisha beberapa waktu lalu. Dan saya rasa, setelah situasinya lebih tenang, sudah waktunya saya menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.”

Video itu langsung menyebar.

Ia kemudian menjelaskan bahwa sejak awal, Elora datang ke Rumah Aman bukan untuk mengambil keuntungan dari kondisi Aisha.

“Waktu itu, Mbak Elora datang bukan karena ingin membuat konten. Ia datang karena mengetahui kondisi Aisha dan ingin membantu.”

Ia berhenti sejenak.

Selain klarifikasi dari pekerja sosial dan Aisha, video-video dari acara Damar beberapa waktu lalu juga mulai bermunculan di media sosial.

Awalnya hanya satu.

Salah seorang teman Damar mengunggah video pendek dari acara di taman paliatif yang disulap menjadi seperti kafe kecil. Ada meja-meja yang dihias sederhana, lampu-lampu kecil yang digantung di antara pepohonan, makanan ringan, musik, dan beberapa remaja yang tertawa bersama.

Di tengah video, Damar terlihat mengenakan jersey dan celana pendek. Wajahnya jauh lebih cerah dibanding biasanya.

Kemudian kamera beralih kepada Elora. Perempuan itu sedang berdiri di belakang meja sambil membawa beberapa gelas minuman.

“Ini siapa yang pesen tiga?”

Lihat selengkapnya