Ruang Kenanga (Ruang Terakhir Ibu)

Karina Pinka
Chapter #9

Chapter 8: Waktu

Elora terbangun tengah malam karena rasa pegal yang menjalar dari punggung hingga tengkuk. Tidur di atas sofa kecil selama beberapa malam terakhir mulai membuat tubuhnya protes. Bantal tipis di bawah kepalanya sudah bergeser entah sejak kapan, sementara selimut yang tadi menutupi tubuhnya kini hanya tersisa di bagian kaki.

Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kecil. Jam menunjukkan pukul 02.12.

Elora mengembuskan napas panjang. Ia sebenarnya masih mengantuk, tetapi rasa tidak nyaman di punggung membuatnya sulit kembali tidur. Dengan hati-hati, ia bangkit dari sofa agar tidak menimbulkan suara.

Hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa Kartika.

Ibunya masih tertidur. Wajah Kartika tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. Selang oksigen masih terpasang di bawah hidungnya, sementara dada kurusnya bergerak perlahan mengikuti tarikan napas.

Elora berdiri di samping tempat tidur beberapa detik.

Pandangan Elora kemudian jatuh pada kantong infus yang tergantung di tiang besi. Cairannya tinggal sedikit.

Elora mendekat untuk memastikan.

Hampir habis.

Ia tidak ingin membangunkan ibunya hanya karena mengganti infus. Setelah memastikan Kartika masih nyaman, Elora mengambil ponselnya dan keluar kamar.

Lorong Bangsal Kenanga terasa sangat berbeda pada malam hari. Siang tadi tempat ini dipenuhi suara langkah kaki, percakapan keluarga pasien, roda troli, dan suara perawat yang sesekali memanggil nama pasien.

Sekarang, semuanya hampir lenyap. Lampu-lampu lorong diredupkan. Hanya suara mesin pendingin dan bunyi samar monitor dari beberapa kamar yang terdengar.

Elora berjalan menuju nurse station. Di sana, dua orang perawat masih berjaga. Salah satunya sedang mengetik sesuatu di komputer, sementara perawat lainnya membaca catatan medis.

"Sus..."Keduanya menoleh.

"Infus Ibu saya sudah hampir habis."

Perawat yang mengenakan lanyard bertuliskan Nadia segera bangkit.

"Oh, baik. Saya ambil yang baru."

Nadia membuka lemari penyimpanan dan mengambil kantong infus baru."Yuk, Sus."

Elora hendak kembali ke kamar, tetapi langkahnya terhenti ketika melewati ruang tunggu. Ada seseorang di sana. Seorang perempuan duduk sendirian di salah satu kursi panjang. Tubuhnya sedikit membungkuk. Kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh menutupi wajah. Cahaya lampu yang redup membuatnya tampak seperti bayangan.

Elora berhenti. Ia mengucek matanya. Perempuan itu masih di sana.

Hening beberapa detik.

Perempuan tersebut tiba-tiba menoleh.

"Mbak?"Elora tersentak kecil.

"Mbak... saya manusia."

Elora langsung merasa malu."Eh? Maaf, Mbak. Aku takut soalnya."

Perempuan itu terkekeh pelan.

"Takut apa? Setan?"

Elora tersenyum canggung.

Perempuan itu kembali memandang lorong yang kosong.

"Di sini saya lebih takut kehilangan seseorang dibanding setan dan teman-temannya."

Senyumnya perlahan menghilang.

Elora terdiam.

Perempuan tersebut menepuk kursi kosong di sebelahnya."Sini duduk, Mbak."

Perempuan itu melirik Elora."Kayaknya saya pernah lihat Mbak. Kayak nggak asing."

Ia memicingkan mata."Artis, ya?"tanyanya penh dengan penasaran.

Elora tertawa kecil."Mungkin Mbak pernah lihat saya di suatu tempat."

"Jadi beneran artis? Atau influencer?"

Elora hanya mengangkat bahu."Mungkin."

"Kalau anak saya lihat Mbak, pasti dia langsung ngenalin."

Elora menoleh.

"Anak Mbak di mana memang?"

Perempuan itu menunjuk ke arah lorong.

"Di kamar... 502."

Elora langsung teringat gadis kecil yang ditemuinya di taman.

"Oh...Gabby?"

Perempuan itu langsung menoleh."Iya. Kenal?"

"Kenal dong. Baru kemarin kita sempat kenalan."

Untuk pertama kalinya sejak duduk, wajah perempuan itu benar-benar terlihat..Ada senyum tipis di bibirnya. Namun, mata yang semula tampak lelah justru menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Khawatir. Takut. Mungkin juga kurang tidur.

"Gabby memang gampang kenal sama orang," katanya.

Elora terkekeh."Iya. Dia bahkan ngajak aku main."

"Dia bilang apa?"

"Katanya di sini banyak mainan, tapi nggak punya teman."

Perempuan itu tertawa kecil. "Memang begitu."

Ia menunduk, memainkan ujung lengan bajunya."Sejak lama dia lebih sering melihat rumah sakit daripada sekolah."

"Mbak Ibunya Gabby?"

Perempuan itu tersenyum tipis.

"Iya."

Ia mengulurkan tangan."Saya Fara."

Elora membalas uluran tangannya."Elora."

Fara terdiam sebentar.

Kemudian alisnya sedikit terangkat.

"Elora?"

Elora langsung tersenyum canggung."Iya."

Fara memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Lihat selengkapnya