Hidupku seakan terkatung-katung. Berada di antara garis tipis kematian. Sosok pria itu masih mengejarku sekuat tenaga. Aku pun berusaha memasok oksigen yang mampu kuhirup di tengah pelarianku. Matahari sudah sepenuhnya terbenam sejak tadi. Kakiku terasa perih oleh luka yang kudapatkan dari berlari di atas berbatuan tajam. Suara cicitan penghuni malam mulai terdengar. Membuatku sedikit ketakutan akan disantap oleh binatang buas.
Namun, jauh dari pada segala hal itu. Aku takut jika ia sampai menangkapku. Kapak yang dibawanya dengan tergopoh, terlihat mengilat di kegelapan malam. Senyuman mengerikan itu membuatku bergidik. Aku kembali menoleh ke belakang. Memastikan ia sudah tidak mengejarku lagi. Sayangnya, justru sosok mengerikan itu berjarak hanya beberapa langkah dariku.
“Pergi!” jeritku. Berteriak dengan frustasi. Tidak ada seorang pun yang bisa mendengarku sekarang. Hal sia-sia mencoba mencari pertolongan.
Tepat di saat teriakanku yang menggema di kesunyian malam hutan pinus, telapak kakiku menghantam sebuah batu besar. Membuatku jatuh terguling dan punggungku menabrak batu besar lainnya. Rasanya sungguh menyakitkan. Tapi, aku kembali tersadar dan berusaha untuk segera bangkit berdiri.
“Mau kemana, hm?” tanya sosok mengerikan yang sejak tadi mengejarku. Mata cokelat mudanya berkilat penuh amarah. Sedangkan, sudut bibirnya tertarik penuh kemenangan. Sebuah senyuman yang membuatku menggigil ketakutan.
Ia menaruh kapaknya di berbatuan. Lalu, menyentuh pipiku, menekannya dengan ibu jari dan jari telunjuk. Air mataku mulai mengalir. Aku tidak ingin mati sekarang. Masih banyak hal yang ingin kulakukan. Aku hanya seorang mahasiswi biasa. Tidak ada hal lain yang kuinginkan selain masa muda penuh kenangan. Bukannya terjebak bersama pria bejat yang mungkin akan mencabut nyawaku sebentar lagi.