Aku merapikan dress berwarna hitam pekat dengan motif renda pada bagian bahu. Panjangnya sebatas lutut dengan bagian bawah yang sedikit mengembang. Sebuah pakaian cantik untuk tujuan yang menyedihkan. Kemudian, aku mengambil sepatu boots polos berwarna hitam mengilat.
Aku menatap pantulan wajahku pada cermin. Rambut pendek sebahu milikku dibiarkan tergerai. Lalu, wajah tirusku terlihat cukup pucat karena aku sama sekali tidak memakai kosmetik. Bibir tipisku merah merekah, bahkan tanpa mengulaskan lipstik. Hal paling terlihat jelas adalah mataku yang sipit semakin sembab. Karena menangisi kepergian kedua teman baikku. Sebelum melangkah keluar dari kamar, aku meraih tas selempang berwarna cokelat tua dengan bahan dasar kulit buaya. Akhir-akhir ini, aku menyukai tas semacam ini.
Langkah kakiku menuju cermin lainnya di samping tempat tidur. Memandang pantulan tubuh yang telah berpakaian rapi untuk mengantar kepergian temanku. Aku menarik napas panjang. Lagi-lagi mencoba menahan tangis. Karena rasa bersalah yang mengganggu keseharianku. Andai saja aku tidak egois, mungkin hasilnya akan jauh berbeda.
“Tenanglah..” gumamku kepada diri sendiri. Mencoba menenangkan hati yang sudah terlanjur hancur dan sedih kehilangan dua orang teman sekaligus.
Rentetan kejadian itu kembali merasuki ingatan. Bahkan, sebuah kengerian lagi-lagi mengusik hari tenangku. Karena melihat semua kejadiannya di depan mata. Bagaimana akhir hidup dari dua temanku yang begitu tragis. Sampai sekarang, aku bahkan tidak bisa membayangkannya.
Tanpa kusadari air mata menetes. Membuat pandangan mataku memburam dan hati dipenuhi rasa penyesalan. Seandainya aku mati, mungkinkah semua menjadi lebih baik? Aku mundur perlahan, lalu mengambil tisu yang ada di atas meja dekat lemari pakaian. Mengusap jejak air mata dan mengatur napasku.
Meskipun berada di dalam kamar dengan tembok berwarna biru langit, masih tidak bisa menghilangkan kerisauanku. Padahal biasanya hanya dengan berdiam diri di kamar adalah terapi terbaik yang bisa kudapatkan. Sekarang justru perasaan sesak menghinggapi rongga dada, setiap kali berada di kamar tidurku. Aku dihantui oleh kenangan mereka sewaktu masih hidup. Kami terbiasa bermain di sini.
Aku menarik napas panjang untuk menenangkan hatiku lagi. Kemudian, kakiku melangkah keluar kamar tidur. Menuruni dua puluh anak tangga menuju lantai satu. Kamarku berada di lantai dua. Jauh dari kebisingan kamar adikku yang berada di lantai satu. Sesampainya di anak tangga terakhir, aku menoleh ke arah ruang makan. Di sana seluruh keluargaku telah berkumpul. Aku harus menghadapi kenyataan ini. Kalau seluruh tragedi dua hari lalu adalah sebuah hal yang tidak bisa dihindari.