Aku berdiri di depan peti mati dari kedua temanku, Han Se-Ron dan Jung Ye-Mi. Keluarga mereka sepakat mengadakan upacara kematian di rumah duka yang sama. Aku masih tidak menyangka kalau mereka akan meninggalkan keluarganya begitu cepat. Awalnya tujuanku hanya ingin bermain di sekitar hotel. Sampai akhirnya kami berinisiatif untuk ke hutan pinus di sore hari. Namun, kami tersesat dan bertemu pembunuh itu.
Kutarik napas panjang. Berdoa di dalam hati, lalu meletakkan dua tangkai bunga krisan putih di foto yang menampilkan senyum mereka berdua. Wajah yang tersenyum lebar, mata yang menyipit sempurna, dan raut wajah penuh kebahagiaan.
Se-Ron merupakan idola di universitas kami. Tidak jarang hal ini membuat semua orang kaget. Wajah cantiknya jauh terlihat berbeda sekarang. Apalagi ada beberapa luka yang membekas di wajahnya. Sedangkan, Ye-Mi mempunyai bekas luka di kelopak mata kirinya. Sebuah garis melintang yang membuat cacat wajah tembamnya. Di dalam peti mati terbaring tubuh mereka yang pucat. Ditambah ada bekas jahitan terlihat jelas di leher dan lengan. Bekas luka lain yang dijahit sudah tersembunyi oleh gaun kematian berwarna putih bersih yang mereka kenakan. Aku meneteskan air mata lagi. Membayangkan kejadian yang sudah berlalu.
Besok mereka akan dimakamkan oleh keluarganya. Tapi, entah mengapa aku masih tidak bisa menerima kenyataan di depan mata. Bagiku kenangan mereka masih hidup. Sampai sebuah memori mengerikan membayangiku.
Pada saat pembunuh itu secara bergantian memutilasi kedua temanku hidup-hidup. Tanpa ada belas kasihan sama sekali. Dengan kejinya memotong tubuh Se-Ron dan Ye-Mi menjadi beberapa bagian di hadapanku. Bahkan, aku terngiang oleh jeritan memekikkan mereka yang memecah kesunyian malam. Aku merasa takut, ngeri, sekaligus sedih. Mengingat bagaimana mereka terlihat kesakitan saat tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian. Mata itu terlihat kosong dan ketakutan. Di dalam pondok kayu beratapkan jerami, tubuh mereka dibiarkan berantakan. Darah berceceran dimana-mana.
Kapak itu pun segera dibersihkan dan diletakkan pada pojok ruangan. Karena pembunuh itu lengah, aku pun melarikan diri dari pondok kayu. Membuatnya mengejarku di berbatuan hutan pinus. Sebuah jejak ingatan yang masih tersimpan sampai sekarang. Menyebabkan mimpi buruk yang akhir-akhir ini menghantuiku.
Polisi masih mencari sosok yang telah meninggalkan pondok itu. Namun, nihil. Pembunuhnya masih belum bisa ditemukan. Sedikit pun tidak menemukan sehelai rambut atau sidik jari dari pelaku.
Aku masih tidak mengerti dengan motifnya mengurung kami dan menghabisi nyawa kedua temanku. Meskipun aku berhasil selamat berkat polisi berpatroli. Ada rasa bersalah yang terus-menerus menghantuiku. Membuat hidupku seolah sia-sia. Salah satunya karena memendam rasa ketakutan oleh bayang-bayang pembunuh yang masih berkeliaran.
Polisi tersebut mendapatkan laporan orang hilang dari orangtuaku. Namun, sayangnya nasib buruk justru menimpa kedua temanku. Karena kedatangan polisi yang terlambat menemukan kami. Mereka harus kehilangan nyawa dengan cara yang tragis.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Aku menoleh. Mendapati ibu dari salah satu temanku, Se-Ron. Menatap dengan pandangan sinis. Matanya pun sembab. Ia menggunakan dress hitam dengan kain putih di lengan. Aku yakin kalau ibunya sudah menangisinya seharian ini. Aku menunduk memberikan salam dan tersenyum canggung.