Ruang Kosong

Hilda Resina
Chapter #4

Ruang Rawat

Aroma asing menyapa indra penciumanku. Suara mesin berbunyi nyaring terdengar. Aku masih berusaha untuk membuka kelopak mata yang mendadak terasa berat. Sayup-sayup kudengar suara Eomma yang mendadak begitu asing. Berulang kali aku mengerjapkan kelopak mata. Mencoba menyesuaikan cahaya yang memenuhi ruangan berwarna krem. Aroma obat-obatan tercium sangat jelas sekarang. Kepalaku terasa sedikit pening.

Aku merasakan perih pada pundakku. Kemudian, menoleh ke samping dan menyadari kalau luka yang kudapatkan sudah diperban rapi. Bahkan, aku tidak sadar sudah mengenakan baju rumah sakit.

Eomma?” tanyaku keheranan melihat kehadirannya di sini dengan bercucuran air mata. Wajah cantiknya yang telah berumur terlihat sangat sedih. Mungkin takut kehilangan nyawa dari putrinya.

“Kamu membuat kami semua khawatir.”

“Apa yang terjadi?”

“Kamu terluka karena ditembak oleh orang tidak dikenal. Sudah Eomma bilang kan? Untuk selalu berhati-hati.”

Lagi-lagi Eomma mengusap air matanya. Aku paham perasaan itu. Ia pasti benar-benar cemas. Apalagi melihat kondisiku yang terluka.

“Maafkan Ha-Na. Tapi, situasi ini tidak terduga.”

“Untung saja peluru itu tidak mengenai bagian vital di tubuhmu. Kalau tidak nyawamu pasti tidak tertolong,” ucap Eomma lagi. Kali ini menangis sesenggukan. Mungkin saja membayangkan jika hal buruk terjadi.

Aku menggeser tubuhku. Mencoba untuk bangkit duduk dan mendengarkan penjelasan dari Eomma. Aku baru ingat kejadiannya. Waktu itu aku mengejar bayangan hitam di rumah duka. Sampai akhirnya di luar gedung, seseorang memanggil namaku, kemudian menyadari darahku menetes dari pundak. Aku mendapatkan luka tembak di pundak kiriku.

Rasa perih mulai merambat. Aku memeganginya sambil mencoba mengingat sosok yang menembakku. Yang kuingat jelas adalah sebuah senyuman lebar sebelum kehilangan kesadaranku. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas. Namun, suara itu terdengar familiar.

“Kalau begitu Ha-Na beruntung.”

“Apanya untung? Kamu hampir kehilangan nyawamu.. Eomma tidak sanggup membayangkannya.”

Aku mengambil tangan Eomma yang terasa dingin. Lalu, mengarahkan ke wajahku. Meskipun sedikit kesakitan, aku tersenyum memandangi wajahnya. “Eomma tidak perlu khawatir. Malaikat sudah menyelamatkanku dua kali.”

Lihat selengkapnya