Aku terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Sebisa mungkin mencoba untuk memasok oksigen memenuhi paru-paruku. Mataku pun mulai menyesuaikan sinar dari lampu di langit-langit ruang rawat. Tunggu. Aku bukan berada di ruang sebelumnya. Kali ini aroma obat-obatan semakin jelas. Bahkan, aku baru menyadari kalau sebuah alat bantu pernapasan telah dipasang pada hidungku. Ingatanku samar-samar. Tidak mengerti alasan terbaring di ruang rawat ini.
Tanganku meraih sebuah tombol berwarna merah yang tergantung di samping tempat tidur. Mencoba menghubungi perawat yang ada. Meskipun sedikit meringis kesakitan, karena bekas luka tembak dan kepalaku yang seakan terhantam batu. Aku berusaha untuk bangkit duduk. Jam di dinding menunjukkan waktu pukul sebelas malam. Di luar jendela sudah gelap. Hanya beberapa lampu menerangi lorong. Herannya aku tidak mendengar suara dari pasien lain. Aku benar-benar sendirian.
Benar saja. Baru membunyikan bel yang ada, sosok perawat pria berpakaian biru muda berjalan di lorong. Lalu, perawat itu mengetuk pintu ruang rawatku, sebelum bergegas menghampiri.
“Selamat malam, Nona Ha-Na. Saya adalah perawat yang berjaga hari ini,” ucap perawat tersebut dengan tersenyum ramah. “Nama saya adalah Park Jun-Hwa. Apakah kondisi anda sudah membaik sekarang? Atau, ada yang ingin dikeluhkan?”
“Pundakku masih terasa sakit. Dan, agak sedikit mual. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Aku tidak benar-benar mengingat semuanya. Hal terakhir yang terjadi adalah kedatangan Eomma di ruang rawatku sebelumnya. Waktu itu aku berjanji untuk lebih berhati-hati lain kali. Aku sama sekali tidak mengingat kalau mereka memindahkanku ke ruangan lain. Atau, mungkin ada yang telah kulewatkan? Kuharap perawat ini dapat menjelaskan situasinya sekarang.
“Nona dilarikan ke ICU karena keracunan minuman. Untung saja racun tersebut bisa dipompa keluar. Setelah melewati kondisi kritis, para dokter sepakat memindahkan Nona ke ruang kosong yang ada di rumah sakit ini.”