“Falen, kan? Keponakannya Jaka?” tanya seorang wanita paruh baya berjilbab lebar, dengan gamis brokat.
Saat itu Falen sedang celingak-celinguk di depan meja prasmanan. Falen sempat terkesiap saat disapa perempuan itu. Dipandanginya wanita itu dari atas hingga bawah. Dari bajunya, Falen jelas tahu kalau wanita itu adalah saudara pihak pengantin perempuan. Falen sempat terpana sejenak. Sebab cara bicara tante itu pelan sekali, nadanya mendayu-dayu, dan… sangat Sunda. “Kok… tahu?” tanya Falen.
“Tahu, lah,” jawab wanita itu seraya mengibaskan tangan. “Aku teteh-nya Fitra,” kata wanita itu seraya menunjuk pengantin perempuan yang sedang bersanding di pelaminan. Bibirnya menyunggingkan senyum. “Kamu kayak bingung kitu. Bade cai herang, nya? Nu tiis?”
Falen menaikkan alisnya, tak mengerti maksud wanita itu. “Hah?”
Wanita itu tertawa. “Mau air dingin?”
Mata Falen langsung berbinar. Ia mengangguk.
Wanita itu kemudian pergi ke ujung aula dan kembali berderap ke Falen, memberinya segelas air dingin. Falen menerimanya sambil menahan senyum. Beberapa menit kemudian tahu-tahu ia sudah berdiri bersama beberapa kerabat pengantin perempuan. Mereka bergantian mengajaknya mengobrol. Dan entah darimana mereka sudah tahu kalau ia suka belajar, sering ikut olimpiade, bahkan mereka tahu kalau Falen suka minum air dingin. Mungkin Om Jaka—adik bungsu ayahnya, mempelai pria pada hari itu—terlalu banyak bercerita. Sesekali di antara obrolan itu terselip bahasa Sunda yang tak Falen pahami, lalu mereka tertawa sambil menerjemahkannya.
“Kamu enggak bisa bahasa Sunda, ya?” tanya salah seorang dari mereka.
Falen tersipu. “Belum bisa.”
“Enggak apa-apa, pelan-pelan aja, pasti lama-lama bisa,”
Falen manggut-manggut. Ia baru beberapa jam berada di tengah keluarga besar yang asing baginya, tetapi rasanya lebih mudah bernapas di sini. Perpaduan perhatian yang mereka beri ke Falen dan bahasa Sunda yang terdengar halus dan itu membuatnya terlalu betah. Ia baru tahu, hanya dari bahasa saja, dunia bisa lebih lunak, lebih mendengar dan lebih melambat untuknya. Seandainya… ia bisa lebih lama disitu, sehari saja.
Falen menghela napas. Tak mungkin.
Percakapan itu bubar beberapa saat kemudian. Sebab ayahnya memanggilnya untuk segera beranjak dari situ.
—
Mobil sedan lawas hasil pinjaman dari kantor ayahnya itu terus melaju menuruni bukit. Ayahnya masih fokus menyetir. Sedangkan ibu dan adik-adiknya sudah tertidur pulas. Setelah dari acara pernikahan Om-nya itu, sebelum pulang ke Jakarta, mereka memutuskan jalan-jalan sebentar ke Lembang. Mereka baru pulang hampir larut malam. Falen bersandar ke jendela mobil. Tak ia sangka hari ini berlalu cepat sekali.
Ayahnya terus mengemudi, menyusuri jalan berliku-liku, kadang terjal, kadang landai. Sedari tadi yang terlihat hanya hutan, kebun teh, rumah-rumah penduduk. Namun setelah pandangan tertutup tebing, tahu-tahu panorama monoton itu berganti menjadi hamparan lembah yang terbuka di bawah sana. Lembah itu berhiaskan lampu kota kelap-kelip, di kelilingi bayang-bayang perbukitan. Sementara itu, langit cerah tak berawan di atasnya menghamparkan bintang-bintang. Mata Falen mengerjap-ngerjap. Ia membeku.