Viera mengunyah donat cokelat yang ia beli dari kantin dengan lesu. Bangku di sebelahnya kosong sejak pagi—aneh rasanya istirahat tanpa kedua sahabatnya, Falen dan Joy. Joy tidak masuk sekolah karena sakit dan Falen sejak pagi mendadak ditarik Bu Indah untuk latihan olimpiade IPA. Saat hampir suapan terakhir, Viera menangkap sosok yang dikenalnya, sedang berjalan santai di koridor, bersisian dengan seorang laki-laki jangkung berkacamata. Mereka menuju ke kelas. Mata Viera terbelalak, perlahan senyumnya mengembang. Ia langsung menelan sisa donatnya dan minum terburu-buru.
“FALEN!!!” teriak Viera keras, membuat Falen dan Hanan—serta seisi kelas sontak menoleh.
Falen sumringah. Ia berjalan dengan cepat, tas ransel dan kerudungnya bergoyang-goyang. Ia agak kerepotan karena tangannya penuh dengan kertas dan buku tebal. Kakinya sempat terantuk sesuatu. Untungnya ia tak jatuh.
Sementara itu lelaki jangkung yang tadi berjalan bersama Falen, namanya Hanan. Ia tetap berjalan santai, mengikutinya dari belakang. “Hati-hati!” ucapnya. Namun suaranya terlalu pelan, hampir pasti tak terdengar oleh Falen yang sudah ngibrit.
“Yeeyyy… Latihannya udah selesai. Cepet, kan?” ucap Falen riang.
Viera mengangguk cepat. Suara berdebam terdengar ketika ia tak sengaja melepas tumpukan kertas dan buku itu saat belum mendarat betul di atas meja. Viera terperanjat. “Buset! Pelan-pelan, lah!”
“Sorry,” ucap Falen sembari menyengir. Tak ia sangka suaranya bisa sekeras itu. Ia langsung duduk di kursinya setelah menyampirkan tasnya di belakang bangku. Beberapa detik kemudian Hanan masuk kelas dan duduk di bangkunya sendiri yang hanya berbeda satu baris di samping bangku Falen dan Viera.
Viera menggeleng pelan. Dengan telunjuknya, ia menyusuri tumpukan buku dan kertas yang dibawa Falen, mungkin tebalnya hampir 2 rim kertas. “Kayaknya makin banyak aja beban hidup lo,” ujarnya. Ia lalu melirik Hanan yang hanya membawa sebuah map plastik tebal. “Hanan aja enggak segitunya.”
“Dia, mah, udah jenius dari sononya,” ucap Falen setengah berbisik. “Gue harus usaha lebih!”
“Terus ini… apa, sih?” Viera mengambil beberapa lembar kertas, melihat-lihat sebentar, lantas mengambil kertas lain.
“Kalo yang lo pegang itu soal olim—”
“Soal segini banyak… lo sehari harus kerjain berapa? Kayaknya dulu enggak sebanyak ini?”
Falen menelan ludah. Perlahan ia menyeringai. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Baru-baru ini ia menambah target belajarnya lagi. Tapi melihat reaksi Viera, jangan-jangan ia terlalu berlebihan. Habisnya mau bagaimana lagi? Ini olimpiade terakhirnya. Lalu sebentar lagi mereka lulus. Belum sekalipun ia mengalahkan Hanan.
“Ya ampun Fal…, segitunya banget. Awas aja kalo enggak menang,” ucap Viera. Ia kemudian merapikan kembali kertas-kertas itu. “Gimana tadi latihannya?”
“Yah… seperti biasa, Hanan jago banget. Tapi gue pasti bisa ngejar!”
“Pasti!” ucap Viera, mengacungkan kedua jempolnya. “Oh iya, Fal… boleh minta tolong, enggak?”
Falen menatap Viera yang terus cengar-cengir di sampingnya. “Apa?” bibir Falen manyun. Ia sebenarnya sudah tahu apa mau Viera, tapi ia tetap bertanya dengan sinis.
“Hehe… biasalah,” jawab Viera, sambil menggulung-gulung rambut keritingnya dengan jari telunjuk. “Bagi jawaban PR IPA, dong,”
“Kebiasaan!” Falen mendengus. Saat Falen merogoh tasnya untuk mengeluarkan sebuah buku tulis, ekor matanya tak sengaja melihat seorang anak laki-laki yang tak dikenalnya. Ia duduk di sebelah Didi, di bangku yang seharusnya kosong. Sembari memberikan buku tulisnya, Falen bertanya ke Viera. Matanya tak lepas dari sosok asing itu.
“Siapa, tuh, Ra?” Falen menunjuk anak laki-laki itu dengan dagunya.
Viera menoleh, mengikuti arah yang ditunjuk Falen. “Anak baru, pindahan dari Bandung,” jawab Viera tak acuh, ia langsung buru-buru menyalin PR Falen.
“Hah? Pindah di tengah-tengah semester gini? Di hari rabu pula. Kenapa enggak hari senin?” Falen tercenung. Dipikir-pikir, mau pindah hari apapun, tetap saja pindah di tengah-tengah semester itu aneh. “Siapa namanya?”
“Aih, siapa, ya? Denger-denger, sih, Jamal? Apa Jamil?” jawab Viera tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tulis.
“Gimana sih, lu,” Falen mencubit lengan Viera.
Viera meringis. “Ih, enggak tahu!” tukas Viera. “Lagian dia udah dateng dari pagi. Masa gue yang nyamperin dia?”
Falen manyun. Dilihat-lihat, fisik anak itu biasa saja. Rambut hitamnya tipis hampir gundul, model buzz cut. Anak pindahan itu tidak terlalu tampan, tidak buruk rupa juga, tidak kurus dan tidak gemuk. Kulitnya sawo matang. Dan… ia sudah disitu sedari pagi? Berarti ia tak diperkenalkan oleh wali kelas, seperti di film-film? Tidak seru jadinya. Teman-teman sekelasnya juga tidak heboh. Malah, seakan dia tak ada disitu. Bisa-bisanya ada orang se-figuran ini.
Kalau ditanya apa yang mencolok, jelas seragamnya. Seragam anak itu berbeda sendiri. Tak terbayang jika itu adalah dirinya. Memakai seragam yang berbeda? Malunya. Ia lebih baik tak masuk sekolah saja.
“Dengarkanlah…,” Syarif mulai bernyanyi. “HANAN impianku…”
Mendengar penekanan pada kata Hanan pada lirik lagu yang sedang naik daun itu, Falen buru-buru menoleh ke kanan, ke sumber suara. Siapa lagi kalau bukan Syarif, teman sebangkunya Hanan. Tadi saat Falen baru datang bersama Hanan, ia belum ada. Mungkin ke kantin. Sekarang tahu-tahu dia sudah disitu. Falen mengernyitkan dahi. Sedangkan pemilik nama itu, dia disitu, tapi pura-pura tak mendengar.
Syarif lanjut berdendang dengan suara rendahnya yang menggelegar. “Malam ini akan ku sampaikan…, ” Syarif lalu mengambil penggaris, menjadikannya mik. Kemudian ia lompat lirik. “Aku ingin… mempersuntingmu…”
Viera menutup kuping. “Aaahhh!!! Berisik banget, lo, Rif!” ia berhenti menyalin PR. Matanya melotot ke Syarif. “Apa-apaan, sih?!”
“Romeo udah balik nih sama Juliet…,” ujar Syarif. Saat berkata Romeo, kepalanya menghadap Hanan. Saat berkata Juliet, kepalanya menghadap Falen.
Falen menoleh ke Viera. Mereka bertatapan. Lalu keduanya menaikkan alis, sama-sama sepakat. Enggak usah diurusin, entar dia makin jadi.
Begitu pelajaran dimulai, diam-diam Falen perhatikan lagi anak pindahan itu. Sesekali Didi menggeser bukunya agar mereka bisa melihat soal yang ditunjuk guru.
Belum punya buku, ya?
Aneh. Padahal baru pindah, duduk dengan Didi, harus berbagi buku sama dia pula. Kombo sial. Tapi… bagaimana bisa ia setenang itu? Gerak-geriknya juga sangat terukur, tak heboh. Jauh sekali dengan dirinya yang kata orang, grasa-grusu. Bahkan beberapa kali kelas ramai, ia tetap tak bergeming.
Dia hidup tidak, sih? Apa jangan-jangan… dia hantu? Tapi Viera dan Didi bisa lihat?
Ih, pikiran macam apa itu?
“Udah sono, kenalan aja,” goda Viera.
Falen menoleh cepat. “Apa?”
Viera cengar-cengir. “Lo nengok-nengok terus ke anak baru. Penasaran, kan?” telunjuknya terangkat ke depan muka Falen.
“Apaan? Enggak!” tukas Falen. Tapi matanya terus melirik-lirik.
“Halah, enggak ngaku.”
Lantaran terlalu sibuk ‘menganalisis’ si anak baru, Falen baru menyadari seperti ada sesuatu yang penting dan terlewat begitu saja. “Oh ya. Tadi kata lo… dia pindahan dari mana?”
“Bandung.”
Bandung, ya? Falen manggut-manggut. Falen jadi ingin bertanya sesuatu. Tapi dari tindak-tanduknya… sepertinya anak itu cuek sekali dan tidak ingin ditanya-tanya?
“Tuh, kan. Lo liatin dia lagi—”
Falen buru-buru menghadap depan. Ia tak menyahut Viera, (berusaha) tidak begitu peduli. Kali ini ia harus pastikan lehernya terkunci! Tapi diam-diam ia menguping sana-sini hingga akhirnya di penghujung hari ia tahu kalau anak itu bernama Gamal.
—
Suara riuh terdengar dari luar kelas. Kelas hampir kosong, menyisakan beberapa murid saja yang masih mengobrol. Sesekali terdengar suara kursi diseret. Tapi Gamal masih santai, merapikan isi tasnya.
Meskipun awalnya sempat cemas, hari itu ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Suasana kelasnya mirip dengan sekolahnya di Bandung, namun orang-orangnya agak berbeda. Orang-orang di kelasnya berbicara dengan cepat, agak blak-blakan, namun sekaligus… cuek. Untunglah hari itu ia tak dikerumuni atau ditanya ini-itu sehingga membuatnya kewalahan. Apalagi ia pindah di tengah-tengah semester begini, pakai seragam berbeda pula. Bisa dibilang, hari itu Gamal berhasil membangun dan berlindung di ‘cangkangnya’, pura-pura tak terlihat.
Seharian ini baginya tidak ada kejadian yang mencolok. Hanya saja saat istirahat pertama tadi, ada dua murid, laki-laki dan perempuan yang baru datang. Perempuan itu berjilbab agak gempal, sedangkan yang laki-laki berkacamata dan tinggi kurus. Gamal mengira mereka semacam murid nakal yang terlambat dan habis dihukum. Meskipun dari perawakannya, justru mereka terlihat seperti murid teladan—keduanya membawa banyak kertas-kertas dan buku tebal, pakaiannya juga sangat rapi. Mereka terlihat seperti teman dekat, tempat duduk mereka hanya terpisah 1 baris. Beberapa kali mereka juga terlihat mengobrol santai.
Anak perempuan itu sangat aktif di kelas. Sedangkan yang laki-laki sangat pendiam. Keduanya sama-sama sering diandalkan guru untuk menjawab soal. Belakangan Gamal tahu bahwa mereka adalah Hanan dan Falen. Tapi kenapa mereka berdua tadi dihukum? Gamal menggeleng. Ah, sepertinya bukan.
Setelah selesai merapikan isi tasnya, Gamal beranjak dari bangkunya, hendak lewat tepat di depan bangku Falen—dan masih ada orangnya disitu. Mata Gamal tak berpaling. Anak perempuan itu sibuk mencatat-catat. Gamal sempat memelankan langkahnya, hendak menyapa—siapa tahu anak bernama Falen itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan pandangan mereka bertemu. Tapi anak itu tetap tak bergeming. Ia hanya nampak membetulkan kerudung putihnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Sayang sekali, ia tak bereaksi apa-apa saat Gamal benar-benar tepat di depannya.
Gamal membetulkan tasnya. Melihat keseriusan dan sorot matanya yang tajam, membuat anak perempuan itu terlihat seperti… agak kurang ramah?
Gamal kembali mempercepat langkah. Ya sudah. Kapan-kapan lagi saja.
—
Gamal menenteng tas besar pemberian wali kelasnya beberapa saat lalu, setelah bel pulang sekolah berbunyi.
Di antara ratusan manusia di sekolah itu, Gamal berjalan sendirian di koridor. Namun ia tetap menjaga langkahnya, agar tak terlalu gontai. Dalam hati ia menyesal. Harusnya ia pakai jaket saja hari itu. Seragamnya yang berbeda sendiri itu tentu kontras sekali.
Gamal memelankan langkahnya. Selain teman-teman yang cenderung cuek, namun ternyata guru disini juga begitu. Jika diingat-ingat lagi, saat memberi tas yang berisi sebagian buku cetak dan seragamnya tadi, rasa-rasanya wali kelasnya itu… terlalu ketus? Entah itu hanya perasaannya saja atau… kepindahannya ke sekolah yang terlalu mendadak ini memang merepotkan?
“Gamal,”
Mendengar namanya dipanggil, lamunannya buyar. Suara itu amat dikenalnya. Tapi… mana mungkin? Begitu ia menoleh, terkejutlah ia bahwa dugaannya benar. Alisnya bertemu. Ia lalu berkata terlalu pelan. “Ibu?”
“Abang!” sapa seorang anak laki-laki berbaju seragam merah putih yang berdiri di samping ibunya. Riang.
“Gema?” senyum Gamal akhirnya mengembang.
Ibunya Gamal merangkul Gamal dengan lembut.
Tubuh Gamal kaku sesaat. Ia tak tahu harus bagaimana. “Ibu… enggak kerja?” tanya Gamal pelan, setengah tak percaya. Padahal tadi pagi saat berpamitan, ibunya juga sedang bersiap-siap.
“Kamu ngomong apa, sih? Ini, kan, hari pertama kamu sekolah,” ibunya Gamal tersenyum, mengusap kepala Gamal. “Yaaa… Ibu tadi memang berangkat kerja, tapi ijin pulang cepat. Terus jemput Gema, terus jemput kamu.”
Gamal mengangguk. Ia membenarkan tas besar pemberian wali kelasnya tadi.
“Oh? Itu seragam sama buku?” tanya ibunya seraya menunjuk tas besar yang Gamal bawa.
Gamal mengangguk.
“Udah lengkap?”