Ruang Napas Falena

fitri yulia rachmawati
Chapter #3

BAB 2—FALENA BUKAN FALEN

Pagi itu ruang ujian masih sepi. Di depan pintu, denah tempat duduk ditempel dengan selotip yang hampir lepas. Falen telah berdiri di depannya, mencari dimana ia akan duduk selama UTS kali ini. Jemarinya menelusuri nama demi nama yang disusun sesuai urut abjad.

Ketemu.

Kali ini Falen akan duduk bersama adik kelas yang tidak dikenalnya. Lalu seperti biasa, Viera—nama depannya adalah Elviera, duduk di depannya. Jari Falen bergeser ke bawah, berhenti di satu nama: Gamal Adipati Rendra.

Si anak pindahan.

Untuk pertama kalinya—dan berarti hingga lulus nanti, anak pindahan itu akan duduk di belakang Falen setiap ujian, menggeser Hanan. Jarinya lama tak bergerak di nama itu. Ada dua hal yang mengganggunya. Pertama, anak baru itu menggeser Hanan, partner sekaligus saingannya selama bertahun itu. Kedua, ia belum berkenalan dengan Gamal. Canggung sekali, bukan? Apalagi anak baru itu dingin sekali. Bertegur sapa saja tidak. Falen menelan ludah. Pada akhirnya Falen melangkah masuk ke ruangan itu, lebih pelan dari langkah kakinya tadi.

Ruangan itu baru berisi tiga adik kelas, mereka sibuk belajar masing-masing. Kursi Falen yang berada di ujung ruangan itu masih kosong. Langsung saja ia menempatinya. Setelah duduk, Falen membuka catatan rangkuman pelajaran untuk ujian hari ini, berharap bisa mengusir kegundahannya soal si anak baru yang akan duduk tepat di belakangnya nanti.

Baru saja dipikirkan, anak itu sudah datang. Falen sempat menangkap anak itu sedang membaca denah ujian. Lalu ia melangkah masuk ke kelas. Semakin ia mendekat, semakin cepat Falen membaca catatannya, tapi tak ada yang masuk. Ekor matanya mengikuti ayunan langkah kaki itu hingga tepat di depannya lalu tepat di sisinya, lalu…

Tuh, kan.

Anak pindahan itu melengos saja. Sombong sekali, sih?

Gamal tiba sepuluh menit sebelum bel masuk. Ruang ujian sudah terisi sepertiganya. Dari denah ujian, ia memastikan tempat duduknya beberapa kali. Ia mendapati bahwa ia akan duduk di kursi pojok agak belakang. Tadi sebelum namanya, ia menemukan nama yang tak asing.

Falena Fiory Aziz.

Gamal melirik ke dalam ruangan. Falen telah duduk di kursinya, membolak-balik lembar buku. Sesekali ia menulis-nulis. Tatapannya saat belajar itu… serius sekali, tak berubah sejak pertama bertemu. Gamal membenarkan tasnya, berusaha melangkah ringan ke dalam ruangan itu. Saat semakin dekat dengan Falen, langkahnya sedikit melambat.

Bolak-balik di kepalanya bertanya, apa perlu ia menyapa anak ini?

Pada akhirnya Gamal melewati Falen begitu saja. Hingga ia terduduk di kursinya, Falen pun tak acuh. Ia semakin mengubur niatnya untuk berkenalan. Ternyata sampai sekarang pun anak perempuan itu masih saja cuek. Dan, Gamal harus duduk di belakangnya selama ujian.

Apa anak ini tak sadar bahwa ia terlalu intimidatif? Sampai kapan aku harus terus menelan sial—

Gamal menghentikan pikirannya. Ia tertegun saat menatap punggung anak perempuan itu. Tak sengaja pandangannya malah menemukan sesuatu di sela-sela hijab putih yang dikenakan Falen. Gamal menelan ludah. Ia tak ingin mengganggu Falen, namun sepertinya ia tidak bisa diam saja. Ia tadinya ingin langsung memanggil namanya, tapi tak jadi. Mungkin sebaiknya itu tak usah dihiraukan.

Namun ‘sesuatu’ itu hampir masuk ke sela kerudungnya. Gamal tak bisa diam saja.

"Mmm... Hai...," suara Gamal canggung, memecah konsentrasi Falen. Akhirnya ia memanggil anak itu.

"Ya?" Falen menoleh ke belakang, menatap Gamal tajam. Akhirnya anak sombong ini menyapa juga. Kenapa baru sekarang? Jangan-jangan mau minta contekan.

"Sorry ganggu kamu belajar. Tapi di bahu kamu ada ulat bulu. Eee... ukurannya kecil, sih," Gamal menunjuk bahu kanan Falen. "Aku singkirin, ya. Sebentar," Gamal terlihat ragu sejenak, lalu merogoh tasnya, mengambil sebuah buku tulis. Ia merobek kertas dari buku tulisnya itu, melipatnya, lalu dengan hati-hati memindahkan ulat bulu itu dari bahu Falen.

Falen kehilangan kata-kata. Matanya terbelalak ketika melihat ulat bulu yang menggeliat-geliat di potongan kertas. Sebenarnya ia tidak takut ulat bulu. Namun menyingkirkan ulat bulu di bahu sendiri jelas merepotkan. Lagipula tanpa menunggu ijinnya, Gamal langsung menyingkirkan ulat bulu itu. Otak Falen seakan melambat, memproses apa yang barusan terjadi. Tak sadar Falen membeku beberapa detik.

"Udah beres, kok. Sok atuh kamu belajar lagi."

"Hah? Eh?" Falen tersadar dari lamunannya. Ah… harusnya ia berterima kasih ke Gamal, bukan? Dan mungkin ia juga perlu minta maaf karena sempat menganggapnya tidak-tidak? Falen menggeleng. "Terimakasih banyak, Lo... “ Falen berhenti sejenak. Telunjuknya berayun pelan di depan si anak baru, memastikan tak salah sebut nama. “Lo… Gamal, kan?"

"Iya," jawab Gamal. Ia tersenyum tipis. "Mmm... kita belum kenalan, ya?" Gamal menjulurkan tangan kanannya. “Gamal.”

 Falen menyambut tangan itu. "Gue Falen. Pakai F, bukan V," ucap Falen seraya bersalaman dengan Gamal. Itu adalah kata-kata template setiap ia berkenalan dengan siapa pun.

"Falen. Pakai F, bukan V," Gamal mengulang kata-kata Falen dan tersenyum. Seakan tertular Gamal, Falen ikut tersenyum. “Kalau enggak salah… Nama lengkapmu Falena, ya?”

Falen mengangguk. “Falena Fiory Aziz.”

“Nama yang bagus. Apa artinya?” tanya Gamal.

Falen mengangguk lagi, kali ini lebih cepat. Memang banyak yang berkata begitu. Ia sendiri juga mengakui namanya bagus, tak banyak yang punya. Sangat wajar kalau setelah itu diikuti dengan pertanyaan apa arti namanya. Falen tak akan segan-segan menjelaskan, justru ia senang menjabarkannya panjang lebar. “Aku lahir di hari valentine. Tapi sebagai muslim, kan enggak boleh merayakan itu. Jadi sama orang tuaku dimodif jadi Falena, sekaligus plesetan dari vanilla juga. Vanilla itu… kata orang tuaku, kesannya manis,” jelasnya. Saat mengucap itu, Falen menelan ludah. Mengingat sifatnya yang grasa-grusu, rasa-rasanya ia agak keberatan nama. “Terus… Fiory, artinya bunga-bunga yang bermekaran. Aku tahu kamu pasti bertanya-tanya kenapa nama belakangku Aziz, bukan Azizah. Itu nama belakang Papa-ku,” Falen memelankan suaranya di kalimat terakhir.

Mendengar penjelasan soal nama itu, Gamal terkekeh. Nama itu memang cocok sekali dengan perawakan Falen. Tadinya ia pikir, sebagai anak perempuan ambisius, Falen (seharusnya) galak dan tak mudah didekati. Ternyata Falen jauh lebih menarik dari apa yang ia kira. Ini pertama kalinya Gamal berbicara sedekat ini dengan Falen. Ia suka mendengarkan Falen berceloteh. Suaranya renyah sekaligus ringan, membuat betah siapapun yang mendengar. Tak heran Falen punya banyak teman. Dan menurutnya, dilihat dari dekat begini, wajah Falen manis juga. Sekali lagi, sesuai namanya.

“Halo? Kok bengong?” Falen menjentikkan jari di depan wajah Gamal, terkekeh.

“Aku dengerin, kok,” ucap Gamal. Tak sadar ia terdiam dan entah berapa lama. Ia jadi serba salah. Pandangannya kemudian tertuju ke meja. Disitu masih tergeletak buku tulis yang ia robek tadi. Ia meraih buku itu, lantas merapikannya.

Falen memperhatikan gerak-gerik Gamal. Ia meringis. "Sorry banget buku lo jadi robek gitu. Itu ulat bulu pasti dari pohon jambu di depan rumah gue. Pohonnya gede banget. Tapi banyak ulatnya. Gue udah sering banget ketempelan ulat bulu," jelas Falen panjang lebar. Falen tertegun, baru menyadari sesuatu. Peduli apa Gamal dengan pohon jambu di depan rumahnya itu?

"Haha... begitu, ya? Pantesan Falena enggak ketakutan. Biasanya perempuan takut serangga."

Falen terkesiap, meyakinkan diri bahwa tadi ia tak salah dengar. Apa barusan ia dipanggil dengan nama lengkapnya? Falen mengernyitkan dahi. “Falena? Barusan lo… panggil gue Falena?” tanya Falen. “Panggil Falen aja,”

Nama Falen begitu melekat dalam dirinya. Sehingga jika ada yang memanggilnya dengan nama lengkapnya, Falena, itu justru terkesan seperti orang yang sangat asing. Bahkan, seingat Falen, tak ada yang memanggilnya dengan Falena—termasuk guru-guru, staf dan satpam sekalipun. Saking asingnya nama itu baginya, bisa-bisa kalau ia dipanggil dengan ‘Falena’, kemungkinan besar ia tak akan menoleh. Ia jadi mendadak teringat pernah diomeli ibunya karena saat kelas 1 SD, gurunya terus-terusan mengucap nama ‘Falena’ namun yang dipanggil tak menyahut, sehingga ia ditandai absen di kelas. Lagipula, entah kenapa nama Falena itu terkesan agak dangdut—mirip-mirip kata ‘terlena’.

“Nama bagus gitu, masa dipotong-potong,” tukas Gamal.

Dahi Falen berkerut. Entah kenapa ia tak bisa berkata lagi. Baru kali ini ada orang yang tak mau memanggilnya Falen meskipun ia sudah jelas-jelas meminta.

“Falen!!!”

Seseorang memanggil Falen berteriak. Falen refleks menoleh ke sumber suara, seketika membuyarkan obrolannya dengan Gamal. Ia tersenyum lebar mendapati Viera telah tiba. Viera setengah berlari ke arah Falen, rambut keritingnya yang masih setengah basah, ikut naik turun. Ia lalu langsung duduk di kursinya, tepat di depan Falen. Ia langsung menaruh tasnya sembarang dan memutar tubuhnya menghadap belakang.

Viera menengadah kedua tangannya tinggi-tinggi. “Alhamdulillah, belakang gue Falen lagi!”

“Lebay deh, lu. Tiap ujian juga begitu,” Falen merapikan catatan-catatannya. Ia tak jadi belajar lagi. “Lagian tetep aja…”

“Iya, iya… Gue tau lo enggak bakal mau gue contekin, kan?”

Seakan bisa membaca pikirannya, Falen tersenyum lebar.

Viera melirik ke tempat duduk di belakang Falen dan mendapati Gamal yang duduk disitu, bukan Hanan lagi. “Ohhh… sekarang si Jamal yang duduk di belakang lu?”

Falen mencubit pelan lengan Viera. Viera mengaduh. Falen mencondongkan wajahnya ke dekat telinga Viera, berbisik dengan nada penuh penekanan. “Gamal! Bukan Jamal!”

“Aduh… Iya-iya! Gamal!”

Mendengar namanya disebut, Gamal mendelik. Kedengaran, tahu.

Bunyi bel membuyarkan obrolan Falen dan Viera. Tak lama kemudian, pengawas ujian, Bu Indah masuk. Seperti biasa, di hari pertama ujian, pengawas akan menjelaskan peraturan. Falen jelas sudah hapal dengan peraturan itu—lagipula ia tak pernah melakukan hal aneh selama ujian. Dan kali ini pikirannya tidak disitu, loncat ke obrolannya dengan Gamal beberapa saat lalu.

Gamal, si anak pindahan dari Bandung. Tanpa dibilang dari Bandung pun, dari logatnya sudah ketahuan. Bahasanya juga sopan dan terdengar lembut. Persis seperti orang-orang Bandung yang ia temui tahun lalu di pernikahan pamannya. Falen jadi tidak enak karena sedari tadi ia menggunakan lo-gue. Sedangkan Gamal memakai aku-kamu. Ia jarang bertemu lelaki yang seperti itu di Jakarta. Falen berjanji dengan dirinya sendiri untuk selanjutnya jika ada kesempatan mengobrol lagi dengan Gamal, ia akan lebih sopan dan… mungkin menggunakan aku-kamu—meskipun terdengar ambigu.

Dan… satu lagi yang terus mengusiknya, yang tak kunjung terhempas dari pikiran. Kenapa dia manggil gue Falena, sih?

Falen baru selesai pelatihan olimpiade. Ia tak langsung pulang—seperti Hanan, melainkan berjalan menyusuri koridor. Ia ingin duduk-duduk dulu dekat taman, merapikan soal-soal yang dikerjakannya tadi, juga merapikan pikirannya. Agak sulit untuk fokus ke lomba setelah UTS minggu lalu sekaligus memikirkan persiapan Ujian Nasional sekaligus. Ia perlu bernapas sebentar. Suasana sekolah sangat sepi, namun sayup-sayup masih terdengar suara murid dari lapangan, tanda masih ada kegiatan ekstrakulikuler.

BRAK!!!

Tiba-tiba terdengar suara besi yang beradu cukup keras, membuat Falen terkejut. Tiga anak ekskul PMR menabrakkan tandu ke pintu teralis yang berada tak jauh dari tempat Falen duduk. Ia berhenti merapikan kertas soal setelah menyadari salah satu dari ketiga anak itu adalah Gamal. Falen sumringah. Spontan Falen berteriak. “Gamal!!!”

Lihat selengkapnya