Bisa-bisanya selama ini ia berburuk sangka ke Falen. Padahal Falen itu… malah justru adalah orang ter-ramah yang ia kenal selama di Jakarta. Mungkin itu yang membuat Gamal terlalu percaya diri memberi nomor ponselnya ke Falen saat itu, memintanya mengabari pula. Untungnya, kepercayaan diri Gamal yang menurutnya agak berlebih itu membuahkan hasil.
Falen benar-benar mengiriminya pesan.
Gamal, ini Falen. Aku udah sampai rumah. Terimakasih untuk hari ini :)
Ia membaca kembali SMS yang diterimanya itu. Singkat, tapi kenapa rasanya begitu hangat? Ia tersenyum kecil. Gamal membaca pesan itu berkali-kali. Selangkah kemudian ia menyimpan nomor itu dengan nama: Falena.
Tapi bukan saatnya senang dulu. Ia harus membalas pesan itu. Ia sempat menulis beberapa kata, namun dihapus dan diketik lagi. Butuh beberapa menit hingga akhirnya Gamal mengirim pesan balasan—yang pada akhirnya, isinya sangat biasa.
Alhamdulillah… Sama-sama, Falena.
Keesokan harinya, sebelum bel masuk berbunyi, untuk pertama kalinya Gamal menghampiri dan menyapa Falen ke bangkunya.
“Kamu masih capek, enggak?” tanya Gamal.
Falena memiringkan kepalanya. Ia terdiam beberapa saat. “Oooh… capek karena fun walk? Udah mendingan banget, kok. Tapi Viera jadi bolos hari ini. Katanya dia mau istirahat. Apalagi hari ini ada upacara, gak kuat kakinya.”
Gamal dan Falen tertawa ringan.
“Kasihan,” ujar Gamal.
Sejurus kemudian, Hanan datang. Gamal dan Falen menoleh begitu sosok tinggi itu melewati pintu. Falen tersenyum tipis ke Hanan.
“Eh, Hanan…,” sapa Gamal ringan.
Hanan sempat menghentikan langkahnya sepersekian detik. Baru kali ini ia melihat Gamal berdiri selama itu di depan bangku Falen.
“Yo,” balas Hanan singkat sambil mengangkat tangan. Ia kemudian duduk di kursinya.
“Kamu sekarang deket, ya, sama Hanan?” tanya Falen.
“Yap, sejak UTS. Kan, dia duduk di belakangku.”
“O iya ya.” Falen menepuk-nepuk keningnya. “Pantesan,”
“Pantesan gimana?”
“Akhir-akhir ini kamu sering kesini, maksudnya… ke tempat duduk Hanan dan Syarif. Ku pikir kamu orangnya—” Falen terdiam sejenak. Dalam hati ia melanjutkan, kirain kamu enggak mau temenan sama siapa-siapa.
“Hm?”
“Enggak, enggak jadi. Hehe,” kata Falen kikuk. Ia membenarkan duduknya seraya mendesis pelan. Kakinya bergerak-gerak kecil.
Gamal menaikkan kedua alisnya. “Tadi katanya udah mendingan? Mau istirahat di klinik, enggak?”
“Enggak, enggak usah!” tukas Falen. Ia memang tadi berbohong sedikit kalau kakinya sudah membaik. Tapi, tetap saja kemarin itu ia habis jalan kaki 5 km! Meskipun demikian, Falen paling anti ke klinik, lantaran ia tak mau tertinggal pelajaran. “Lagian belajar gini, cuma duduk doang.”
Melihat Falen yang bersikeras begitu, Gamal melonggarkan bahunya. “Ya udah kalau enggak mau,” Gamal kemudian menyilangkan tangannya ke dada. Ia mencondongkan tubuhnya. “Kamu… kapok, enggak?”
“Enggak, lah!” sergah Falen. Raut wajahnya seketika berubah berbinar-binar. “Pegel dikit doang, enggak masalah. Kalau ada event lagi, ajak-ajak, ya. Soalnya aku enggak pernah ikut kegiatan di luar sekolah.”
“Hm? Benar, ya?”
Falen mengangguk cepat.
—
Siang ini, seperti hari-hari sebelumnya, begitu ia melihat sosok anak perempuan berjilbab putih dengan setumpuk kertas di tangannya dan duduk di bangku taman itu, Gamal langsung buru-buru berberes klinik. Setelah ia pastikan semua peralatan dan obat-obatan berada pada tempatnya, Gamal menyampirkan tasnya di bahu. Lantas ia merogoh kantung celananya, meraih sebuah kunci. Beberapa detik kemudian, ia sudah di luar klinik, mengunci pintu, lalu beranjak, menghampiri sosok itu.
Siapa lagi kalau bukan… Falen.
“Udah beres semua?” tanya Gamal begitu ia berada di hadapan Falen.
Falen tersenyum tipis, mengangguk cepat.
“Ayo,” ajak Gamal.
Falen berdiri, mereka lalu berjalan bersama ke gerbang.
“Dipikir-pikir, kita sekarang sering bareng, ya,” ucap Gamal, matanya lurus memandang langit.
“Iya, ya?” Falen menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kenapa Gamal tiba-tiba berkata begitu? Selama ini Falen melihatnya seperti normal-normal saja. Toh, dia memang tak ada kegiatan lain setelah selesai latihan olimpiade. Jadi sekalian saja ia menunggu di bangku itu. Dan bertemu Gamal adalah… bonus?
“Falena latihan setiap hari?”
“Enggak juga, sih. Segimana Bu Indah aja. Tapi latihannya makin sering kalo udah deket harinya. Kalo kamu?”
Sebenarnya jadwal latihan PMR tidak sering-sering amat. Tapi akhir-akhir ini Gamal hampir selalu ada di klinik. Kadang ia menggantikan jadwal jaga orang lain, kadang ia memang datang saja tanpa diminta. Apalagi sekarang sering ada ‘seseorang’.
“Aku, sih, karena nganggur aja. Malas pulang ke rumah, enggak ngapa-ngapain. Jadi aku mending jaga klinik,” jawab Gamal.
“Bilang aja kamu mau bareng aku terus,” ucap Falen ringan, iseng menggoda Gamal.
Gamal sempat tersentak, lalu pandangannya tertunduk. Ia menjawab dalam hati. Kok? Tapi kalau iya? Kamu enggak keberatan, kan?
Gamal berdeham. “Olimpiade-nya besok, ya?” tanyanya, berusaha mengalihkan topik.
“Iya,” jawab Falen, yang ditanya menjawab lesu. “Gak berasa, ya?”
“Kenapa lemes begitu? Semangat atuh.”
“Ini olimpiade terakhirku. Meskipun aku sering jadi perwakilan sekolah, aku enggak pernah menang sampe tingkat provinsi. Tapi enggak apa-apa juga, sih. Bisa bareng Hanan aja aku udah seneng.”
Mendengar nama itu, Gamal terdiam sejenak. Falen senang saat bersama Hanan? Apa maksudnya itu? Pertanyaan itu tak mungkin ia tanya. Beberapa detik berlalu, hanya ada suara kendaraan berlalu lalang. Gamal membuka mulutnya dan bertanya pelan. “Kamu, teh, suka ya sama Hanan? Bilang aja, atuh,” goda Gamal setengah hati.
Falen menunduk, memainkan ujung kakinya. “Hmmm… enggak tahu, ya.”
“Tapi satu sekolahan mah tahunya kamu suka Hanan. Ciye…”
“Haha,” Falen tertawa datar. “Kelihatannya kayak gitu, ya?” kedua ujung bibirnya turun. Sebenarnya Falen agak malas kalau dijodoh-jodohkan dengan Hanan. Kebanyakan temannya tidak memahami kalau Falen hanya… entahlah. Kagum, mungkin? Dulu ia suka mengelak, tapi sekarang mulai pasrah.
Gamal menangkap ketidaknyamanan dalam nada bicara Falen. Ah, sepertinya Falen tidak ingin membahas Hanan dulu, pikir Gamal. Ia mencoba mencari topik lain.
“Kalau aku…,” Gamal berdeham. “Aku mah sukanya sama Salsa.”
Setelah berucap begitu, dalam hatinya Gamal mengaduh. Di antara banyak hal yang bisa dibahas, kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya? Gamal sendiri tak tahu. Salsa memang cantik. Wangi. Suka membelanya —dari Didi. Tapi… apa barusan ia salah bicara?
Falen menatap Gamal tajam, sebelah alisnya naik. Tiba-tiba sekali ia membahas itu? Meskipun begitu, Falen berusaha tersenyum, hanya saja nada bicaranya agak datar. “Ciye… Salsa emang manis, ya. Tapi dia orangnya cuek. Kamu harus effort, tuh.”
“Iya, benar,” Gamal memandang lurus.
“Pantesan kamu ikut PMR, hehe.”
“Yap,” Gamal terdiam sejenak, tatapannya tertunduk. “Mungkin salah satunya… karena Salsa.” Gamal menggoyangkan ujung jarinya. Kenapa ucapannya tadi terdengar salah juga? Memang sebaiknya ia tak usah bicara saja.
Falen memicingkan mata. Aneh sekali Gamal hari ini. Kenapa Gamal seperti tak yakin dengan ucapannya sendiri? Biasanya dia tidak membahas orang lain seperti ini. Tadi Hanan… sekarang Salsa.
Gamal menarik napas pelan. Entah apa yang hinggap di kepalanya hingga obrolan mereka jadi aneh begitu. Ia berusaha mengalihkan topik lagi—yang mudah-mudahan kali ini tak terdengar aneh. “Minggu depan CFD, yuk. Sekalian ajak Hanan dan Salsa. Buat refreshing kamu habis lomba juga.”
“Hmmm…, boleh aja, sih. Tapi… emangnya mereka mau, ya?”
“Kita coba aja dulu.”
—
Beberapa hari setelah olimpiade itu, sekolah terasa lebih ringan bagi Falen. Latihan olimpiade juga dihentikan hingga hasilnya diumumkan. Falen bisa bersantai sedikit. Biasanya selepas bel pulang berbunyi, Falen langsung berlari ke laboratorium. Sebisa mungkin ia tiba lebih dulu daripada Hanan. Soal nilai, Hanan memang selalu menang. Tapi soal ketepatan waktu, Falen juaranya.
Ia menemukan laboratorium kosong—tak ada Bu Indah. Dan Hanan juga tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Seketika ia menepuk jidat. Astaga, bisa-bisanya gue lupa kalau hari ini enggak ada latihan!
Akhirnya ia memutuskan untuk shalat zuhur terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Ting! Ponsel Falen berbunyi, ada pesan dari Gamal. Saat itu Falen baru saja selesai salat dan merapikan mukena yang telah dikenakannya.
Falena, dimana? Kok buru-buru keluar kelas? Lupa ya kalau hari ini gak ada latihan olim?
Bisa-bisanya lagi, Gamal lebih hapal rutinitasnya ketimbang dirinya sendiri! Falen tersenyum kecut. Ia kemudian membalas.
Aku belum pulang, kok. Aku di mushola, abis solat. Ada apa?
Ting! Sebuah pesan masuk, dari Gamal lagi.
Ok. Tunggu disitu ya.
Tak sampai semenit, Gamal sudah disitu.
“Hai,” sapa Falen ramah. Gamal langsung duduk di samping Falen, di teras musala. Falen tersentak kecil. Napasnya tertahan tanpa sadar. Tangannya refleks meremas mukena di pangkuannya, yang tadi belum sempat ia masukkan ke dalam tas.
“Oh, maaf.” Gamal bergeser sedikit dari tempat duduknya.
Falen menunduk sedikit, ia memaksakan senyum. “Ada apa?”
“Ini… Soal CFD,”
“Oh ya, gimana?” Falen sedikit mencair. Ia menaikkan alis, sedikit mencondongkan tubuh ke arah Gamal.
“Salsa enggak mau ikut, katanya malas, soalnya rumahnya jauh. Kalau Hanan, dia mau. Dia juga ajak Syarif.”
Falen manggut-manggut, lalu ia menyunggingkan senyum. “Sabar, ya. Salsa itu emang begitu orangnya. Dia kayaknya tipe yang enggak gampang diajak,” kata Falen. Falen meletakkan mukena itu ke sampingnya, kakinya bergoyang-goyang. Salsa tidak ikut? Baguslah. Dipikir-pikir kenapa juga ia waktu itu mengiyakan ide Gamal? Tak terbayang suasananya akan secanggung apa. Untung Salsa tak mau—mungkin ia sudah sadar duluan kalau ide Gamal aneh.