1
“Ada cerita-cerita yang tidak meminta untuk dipahami, cukup dinikmati lalu dilepaskan. Tapi Hana selalu gagal melepaskan cerita yang meninggalkan gema di kepalanya.”
Malam itu, di kantor yang sepi, hanya suara detik jam dinding dan lembaran kertas yang berbisik pelan saat ia membaliknya. Di hadapannya, naskah adaptasi drama Everyday, Somewhere tergeletak dengan tenang, seolah tidak tahu bahwa ada bagian di dalam cerita itu yang sedang mengusik pikiran seseorang.
Di sisi lain meja, layar komputer Hana menampilkan sebuah panel berisi gambar jendela kaca, jendela kaca yang muncul berulang-ulang di setiap panel webcomic yang naskah adaptasinya sekarang sedang menjadi proyek kerja miliknya dan timnya. Jendela lebar yang separuh terbuka, sudut cahaya 45 derajat, dan butiran debu halus yang seakan menari di udara kosong. Tirai putih yang melambai, membiarkan cahaya sore masuk dengan malu-malu. Sangat biasa. Begitu sederhana hingga tak perlu diperhatikan lama-lama.
Tapi mata almond Hana yang lelah menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada rasa familier yang terlalu dekat, terlalu akrab, seolah panel itu bukan sekadar gambar, melainkan pintu yang pernah ia ketuk, tapi tak pernah ada yang membukakan. Sebuah ingatan berdiri di ujung pikirannya, samar dan berat. Ia tidak tahu apakah ia sedang mengejarnya, atau justru ia yang dikejar. Yang jelas, ia belum berani menamai ingatan itu kembali, belum berani membukanya.
Ia beralih pada ponselnya, mengetikkan sesuatu sampai layarnya terbuka pada laman webcomic Velvet Shadows, karya penulis misterius dengan nama pena “Bada”. Dengan cepat Hana membuka acak sebuah halaman di salah satu bab, mengeklik beberapa kali kemudian berhenti. Di sana, ia menemukannya, panel lain, dari cerita lain, dari penerbit lain, tapi dengan sudut pandang yang persis sama. Jendela. Tirai putih. Cahaya yang malu-malu.
Hanya saja, kali ini suasananya bukan sore yang hangat, melainkan malam yang pekat dengan bulan mengintip malu-malu dari kejauhan. Dua gambar yang seharusnya tidak saling berkaitan, tapi terasa seperti dua potong kalimat dari cerita yang sama.
Hana menatap keduanya, dan untuk sesaat, ia merasakan getaran kecil di dadanya. Bukan perasaan menemukan rahasia besar, tapi lebih seperti perasaan saat menyadari bahwa seseorang di luar sana, entah siapa, sengaja meninggalkan jejak untuk ditemukan.
Kebetulan memang sering terjadi… tapi kenapa rasanya ini bukan salah satunya?
Hana menyandarkan punggungnya ke kursi, membuat ikatan rambut panjangnya yang sudah tak sepenuhnya rapi semakin berantakan. Ia membiarkan naskah di mejanya terbuka begitu saja. Cahaya lampu meja yang kuning pucat menciptakan bayangan halus di sudut-sudut ruangan. Seperti ruangan ini tahu bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.
Ia memegang ponsel dengan satu tangan, ibu jarinya meluncur ke aplikasi forum penggemar Velvet Shadows. Sudah lama ia tidak membuka utas diskusi yang dulu sering membuatnya begadang. Ia tidak sedang mencari konspirasi, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Hanya ingin… memastikan.
Unggahan-unggahan lama bermunculan, dipenuhi spekulasi para pembaca tentang makna panel-panel yang terasa ambigu. Hana menelusuri komentar-komentar itu, sebagian membuatnya tersenyum kecil. Ada banyak pembaca yang terobsesi seperti dirinya. Namun fokus mereka biasanya hanya sebatas makna-makna dari simbolisme yang berulang. Bukan melakukan pembandingan dengan karya lain seperti yang ia lakukan.
Ia menatap kembali dua panel di layar ponsel dan komputernya secara bergantian, dua jendela yang terbuka di dua dunia berbeda. Semakin ia menatapnya, semakin terasa bahwa ini bukan tentang kebetulan atau kemiripan gaya. Ini tentang seseorang yang entah sengaja atau tidak, menyelipkan bagian dari dirinya di dalam cerita yang orang lain kira fiksi sepenuhnya.
Hana menghela napas pelan.
***