Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #2

Di Balik Naskah

2

 

Pagi di rumah tepi laut itu tidak pernah memaksa Minki untuk bangun. Tidak ada alarm. Tidak ada jadwal rapat. Hanya cahaya matahari yang pelan-pelan menyeret dirinya keluar dari tidur, seperti kebiasaan lama yang terlalu sopan untuk diubah.

Ia membuka matanya, menatap langit-langit putih yang kosong, lalu mengalihkan pandangan ke jendela kaca yang membentang selebar dinding, baru menyadari bahwa semalam ia tertidur di sofa. Ia bangkit dengan malas, melangkah perlahan untuk membuka jendela sekaligus menyibak tirai hingga setengah terbuka, membiarkan angin laut menyelinap masuk tanpa permisi.

Seseorang di luar sana mungkin menganggap ini pemandangan yang menyembuhkan.

Bagi dirinya, ini hanya dinding kaca. Transparan, tapi tetap menjadi jarak yang nyaman antara dirinya dan dunia luar. Ia bangkit perlahan, berjalan ke dapur, dan menyeduh kopi dengan gerakan yang nyaris otomatis. Tidak ada musik, tidak ada suara TV, hanya gemuruh ombak dari kejauhan yang kadang terdengar seperti tawa kecil dari sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Duduk di depan meja kerjanya, Minki menyalakan monitor. Layarnya langsung menampilkan interface aplikasi menggambar yang masih terbuka. Namun, alih-alih mulai mengerjakan sketsa baru untuk Everyday, Somewhere, matanya justru tertuju pada sebuah folder di sudut paling gelap wallpaper-nya. Sebuah folder tanpa nama, tanpa ikon khusus, yang seolah menjadi lubang hitam di tengah tumpukan pekerjaan resminya. Ia menatapnya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk membiarkannya tetap tertutup.

Sebenarnya… apa yang sedang aku lakukan?

Ponsel Minki bergetar di meja, nyaris tenggelam oleh suara ombak di kejauhan. Nama yang muncul di layar bukan kejutan.

[Jiho – Manajer]

Ia membiarkan ponsel itu bergetar sampai detik terakhir sebelum akhirnya mengangkat.

“Aku belum berubah pikiran.”

“Dan aku belum menyerah. Kita impas.”

Suara di ujung sana terdengar ceria, terlalu ceria untuk percakapan di pagi hari.

Minki menyandarkan diri ke kursinya, menatap layar monitor yang masih memajang lembar kerja digitalnya yang kosong. “Kau tahu aku tidak tertarik untuk melihat orang-orang berpura-pura tahu isi kepalaku.”

“Aku setuju. Mereka bahkan tidak tahu isi kepalaku yang lebih sederhana ini.”

Lihat selengkapnya