3
Ruang VIP itu terlalu luas untuk dua orang. Minimalis dan putih, dengan jendela besar yang memamerkan langit Seoul yang mendung. Hana masuk lebih dulu, berusaha terlihat santai sambil membawa folder tipis berisi rangkaian acara. Ia menata napasnya, membayangkan Minki sebagai seseorang yang sulit diajak bicara, seperti yang sudah dikabarkan.
Tapi yang ia temukan saat pintu terbuka hanyalah seorang pria dengan sweater abu-abu, duduk menyandar di sofa sambil menatap ponsel tanpa ekspresi. Tidak ada aura “penulis misterius” yang sulit dijangkau seperti yang sering dibicarakan orang.
Dia terlihat… biasa saja. Namun, Hana menyadari satu hal: cara pria itu duduk memunggungi jendela seolah dia sedang berusaha tidak menjadi bagian dari pemandangan di belakangnya.
“Im Hana?” Suara Minki datar, namun tidak terdengar ketus.
“Ya. Kang Minki-ssi... maksud saya, Penulis Kang,” Hana meralat sapaannya dengan sopan. “Saya LO yang bertanggung jawab untuk Anda hari ini.”
Minki meletakkan ponselnya, menatap Hana dengan tatapan yang berusaha terlihat biasa saja, tetapi tak sepenuhnya berhasil; ada isyarat kecil yang mengkhianati usahanya untuk menyembunyikan bahwa ia berharap menghilang dari tempat ini.
“Kau akan dapat masalah kalau aku kabur?”
Hana tersenyum kecil. “Kurang lebih begitu. Tapi saya juga di sini untuk memastikan tidak ada yang memaksa Anda bicara hal-hal yang tidak mau Anda bicarakan.”
Minki terdiam. Untuk pertama kali ada bayangan senyum samar di ujung bibirnya, nyaris tak terlihat. Namun ia hanya mengangguk kecil, merasa sedikit lebih relaks sejak pertama kali sampai di tempat ini.
Hana duduk di seberang, meletakkan folder di atas meja tanpa membukanya.
“Acara ini sangat penting untuk karya Anda. Saya rasa, Anda tentu ingin memastikan ceritanya tetap milik Anda, bukan interpretasi sepihak dari orang-orang di luar sana.”
Minki menatap Hana beberapa detik, lalu menyandarkan diri lebih dalam ke sofa.
“Tidak banyak orang yang bisa melihatnya seperti itu.”
Hana tidak menundukkan pandangannya. “Saya tahu rasanya saat orang lain berasumsi tentang apa yang kita pikirkan, padahal kita tidak pernah mengucapkannya.”