Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #4

Angin yang Membawa Kembali

4

 

Hari-hari Minki kembali melambat.

Sejak naskah adaptasi itu selesai dan semua tinggal menunggu proses syuting, keberadaannya tak lagi diperlukan di ruang rapat atau panggung promosi. Tak ada jadwal pagi yang memaksa, walau masih ada email yang sesekali harus ia balas untuk konfirmasi revisi mendadak. Ia kembali ke rumahnya yang terang, dengan jendela lebar yang membingkai laut luas di depannya. Angin asin masuk tanpa diundang, menyusup lewat tirai tipis yang bergoyang pelan.

Di meja kerjanya, dua jendela peramban terbuka berdampingan. Satu sisi menampilkan dunia yang terang dan hangat, sementara sisi lainnya terasa berat dan menekan. Perbedaan gaya dan suasananya begitu kontras, seolah mustahil jika keduanya lahir dari satu tarikan napas yang sama. Minki menatap keduanya cukup lama, membiarkan pantulan cahaya dari monitor menyinari wajahnya yang datar. Ia hanya diam, membiarkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang paling jujur di antara kedua dunia itu menggantung begitu saja di udara.

Pagi-pagi ia akan menggambar, kadang lebih banyak dari yang seharusnya, hanya karena bosan. Kadang ia duduk di samping jendela itu, menyesap kopi perlahan sambil membiarkan pikirannya berjalan tanpa tujuan. Sesekali pikirannya melayang ke masa lalu, ke hiruk pikuk Seoul yang pernah ia tinggali. Lampu kota, suara lalu lintas yang tak pernah tidur, dan ritme hidup yang memaksa napasnya pendek-pendek. Di sini, di tepi laut, waktu terasa seperti pasir yang mengalir pelan di sela jari, kadang menenangkan, kadang membuatnya gelisah.

Siang itu, ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk. Nama pengirimnya membuat alisnya terangkat: Im Hana.

 Kalimatnya singkat.

Saya masih menunggu jawaban Anda untuk pertanyaan saya sebelumnya.

Jemarinya berhenti di atas meja. Untuk beberapa detik, ia menatap layar itu tanpa berkedip, mencoba mengingat jelas pertanyaan yang dimaksud. Dan ingatan itu datang.

***

 

Hari itu, setelah acara promosi selesai, ia pikir semua sudah berakhir. Minki sedang bersiap pergi ketika Hana mendekatinya. Awalnya ia mengira gadis itu hanya ingin berpamitan atau mengucapkan terima kasih.

“Saya pengagum karya-karya Anda,” kata Hana, nadanya tenang tapi matanya menyimpan sesuatu. “Itu sebabnya saya sangat senang diberi kesempatan menjadi penanggung jawab Anda hari ini.”

Minki mengangguk kecil. “Terima kasih,” ucapnya pelan, hanya sisa-sisa energinya yang bicara saat itu.

“Tapi saya juga pembaca setia Velvet Shadows,” lanjut Hana. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang… aneh. Bukan sekadar ramah, tapi seperti seseorang yang tahu ia memegang kartu penting. “Saya rasa Anda cukup tahu tentang webcomic itu.”

Lihat selengkapnya