5
Acara promosi itu berlalu begitu saja tanpa ada perubahan besar, setidaknya bagi orang lain. Namun bagi Hana, pertanyaan yang tak terjawab itu justru membuat rasa penasarannya semakin menjadi. Seolah pria itu sengaja meninggalkannya menggantung di tepi tebing, tanpa berniat mengulurkan tangan untuk menariknya kembali atau sekadar mendorongnya jatuh sekalian.
Ada kalanya ia merasa harus menuntut keadilan bagi rasa ingin tahunya. Namun di saat lain, ia merasa harus membiarkan pintu yang hampir terbuka itu tetap tertutup, demi kesopanan, atau demi keinginannya untuk tetap menghargai sosok yang kini sudah menjadi nyata di matanya.
Hana menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia pergi bekerja, ia makan dengan teman-temannya, atau hanya sekedar duduk diam di apartemennya, menikmati cahaya sore kota Seoul yang menerobos masuk melalui balkon kecilnya. Balkon yang penuh dengan tanaman-tanaman yang ia rawat seperti anaknya sendiri. Tempat ia menghabiskan waktu membaca buku, atau hanya mendengarkan musik sambil menyesap es kopi di ujung hari yang lelah.
Namun, di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang ia pelihara. Sosok Kang Minki kini bukan lagi sekadar nama di kolom kredit webcomic terkenal, atau bayangan samar dalam imajinasinya. Ia adalah pria dengan sweater abu-abu yang nyata, pendiam, dan—jika Hana jujur pada dirinya sendiri—sedikit tampan.
Getaran ponsel menarik Hana dari lamunannya. Nama Kim Somi muncul di layar.
Kau free akhir pekan ini?
Hana menatap pesan itu sebentar, lalu jemarinya bergerak di atas layar.
Aku akan ke Sokcho dengan teman-temanku, Eonni. Ada apa?
Tak lama, ponselnya berdering. Rupanya Somi memilih untuk langsung menelepon daripada berbalas pesan teks.
“Ada sedikit perubahan pada detail naskah untuk episode pertama Everyday, Somewhere. Aku tahu kau sudah melakukan banyak sekali bagianmu Hana, tapi aku pikir kau akan tertarik. Pada dasarnya, aku sedang mengajakmu lembur di akhir pekan, haha…”
Suara Somi terdengar bercanda, tapi ada nada tidak enak di sana. Dan Hana bisa merasakannya.
“Apakah ini mendesak?” tanya Hana dengan nada khawatir.
“Tidak, hanya perubahan minor. Tapi bos ingin siap hari Senin. Aku tidak bisa lembur malam ini, jadi akan kukerjakan besok. Tidak apa-apa, kau bersenang-senanglah dengan teman-temanmu. Kau sudah lama menunggu-nunggu ini. Kalau begitu, sampai jumpa Senin.”
Tuuuttt…tuuutttt…tuttttttt…
Sambungan terputus sebelum Hana sempat memberi jawaban. Ia hanya menatap ponselnya lama, seolah sedang menimbang. Seandainya besok bukanlah hari ulang tahun sahabatnya, atau andai ia masih menjadi dirinya yang dulu sebelum bertemu Kang Minki, ia pasti akan dengan bersemangat turun dari lantai delapan apartemennya dan langsung menuju kantor esok pagi, tepat ketika matahari Sabtu baru naik di langit kota yang lengang.
Namun kini, ia sadar ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya. Hasratnya yang dulu begitu kuat untuk mencari jawaban tentang jendela-jendela itu kini beralih jalur. Walau ia punya alasan mendalam yang membuat jendela-jendela itu terasa mengundangnya untuk mencari tahu lebih jauh, alam bawah sadarnya seolah sudah menganggap penolakan Minki sebagai sebuah konfirmasi. Meski akal sehatnya berkata lain, Hana tahu satu-satunya jalan adalah bertanya sekali lagi.
Hana kembali membuka ponselnya dan mencari nama Minki di kolom kontak. Jemarinya ragu sejenak, namun dorongan rasa penasaran itu jauh lebih kuat daripada akal sehatnya. Ia mulai mengetik tanpa membiarkan dirinya berpikir dua kali.
Saya masih menunggu jawaban Anda untuk pertanyaan saya sebelumnya.