Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #6

Jejak di Balik Jendela

6

 

Ruang tamu Minki diselimuti cahaya lembut dari lampu dinding di beberapa sisi ruangan. Bayangan samar menari di lantai kayu saat angin malam menyelinap melalui tirai tipis. Hana duduk canggung di sofa, kaleng bir di tangannya terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Udara terasa tebal, setiap napas berat, penuh tekanan, antara lega, malu, dan kegelisahan yang menumpuk.

Minki duduk berlawanan, menatapnya dalam diam. Ia memperhatikan gerak-gerik kecil gadis itu, cara jarinya menelusuri kaleng bir, bagaimana matanya sesekali menatap jendela, seperti mencari sesuatu yang tak pernah bisa ia temukan. Keheningan di antara mereka terasa hidup, berdenyut seperti detak jantung yang tidak sinkron.

“Kau cukup gigih, Im Hana-ssi,” ucap Minki memecah keheningan, suaranya lembut tapi tegas, menyibakkan kesunyian yang tebal itu.

Hana menatapnya sekejap, ada keinginan untuk menolak pernyataan itu, namun kata-katanya tak muncul. Ia menunduk, tatapannya kembali ke kaleng bir, memantulkan cahaya kuning hangat dari lampu di sudut ruangan.

“Kau datang jauh-jauh dari Seoul hanya untuk diam?”

“Tidak… saya tidak tahu Anda tinggal di sini,” jawab Hana lirih. “Ini murni kebetulan.”

Minki meneguk birnya perlahan, dinginnya menuruni tenggorokan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun matanya tetap tidak lepas dari Hana, meneliti setiap gerakan kecil, mencari jejak emosi yang terselip di balik ketenangan gadis itu.

Hana mengalihkan pandangannya jauh ke balik jendela, menatap cahaya lembut yang beberapa saat lalu menaunginya, Minki mengikuti, merasakan setiap kilasan cahaya dan bayangan yang menari di wajahnya. “Saya menginap tak jauh dari sini,” kata Hana akhirnya. “Bangunan pertama yang akan Anda temui bila hendak ke jalan besar.”

Minki menunggu, matanya menahan perasaan campur aduk. Hana melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, “Saya dan teman-teman sampai tadi sore. Saat berjalan-jalan, saya melihat rumah ini. Jendela ini menarik perhatian saya. Saya hanya ingin melihatnya sekali lagi… dari dekat… lalu pergi.”

Lihat selengkapnya