Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #7

Bingkai Langit

7

 

Angin laut berembus lembut, membelai wajah Minki saat ia berjalan pelan di tepi pantai. Pasir basah menempel di kakinya yang telanjang, dan setiap langkahnya menimbulkan riak kecil yang segera hilang tersapu ombak. Suara laut, lebih keras daripada pikirannya sendiri, seolah menenggelamkan sisa-sisa kegelisahan semalam.

Di sampingnya, Hana berjalan dengan langkah ringan, gaun pantainya yang bermotif bunga menari-nari tertiup angin. Minki memperhatikan setiap gerakan kecilnya, cara rambutnya tersapu angin, bagaimana matanya mengikuti garis cakrawala, senyum tipis yang muncul sesekali, dan bahu yang tampak rileks, jauh berbeda dari semalam.

Keheningan di antara mereka bukanlah kosong. Setiap hembusan angin, setiap ombak yang pecah di tepi pantai, terasa seperti percakapan yang tak terucap. Minki menyadari sesuatu dalam dirinya yang berbeda. Sepanjang hidupnya, ia jarang membiarkan perasaan kecil begitu hadir, keinginan untuk tetap dekat, rasa ingin tahu tanpa kata-kata, dan kehangatan yang lembut tapi nyata.

Ia menoleh sekilas ke Hana. Pandangan mereka bertemu, tapi tak ada kata yang terucap. Keheningan itu nyaman. Setiap langkah yang mereka ambil seakan menyelaraskan ritme mereka sendiri, saling mengisi tanpa saling menekan.

Minki menarik napas panjang, menghirup aroma asin laut yang menyegarkan. Ia merasa ringan, tapi ada sesuatu yang mengusik hatinya, rasa ingin menjaga momen ini lebih lama, meski ia tahu tidak bisa mengikat waktu. Sesuatu dalam dirinya berubah; sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia kenal.

“Ada sesuatu yang ingin kau ucapkan semalam, kan?”

Hana tiba-tiba memecah sunyi, suaranya lembut tapi tegas, cukup untuk menarik Minki keluar dari lamunannya. Ia menoleh cepat, sedikit terkejut. Pertanyaan itu membuat langkahnya melambat.

Minki tidak langsung menjawab. Ia merasakan angin laut menyapu wajahnya, seolah memberi waktu untuk meredakan detak jantung yang tiba-tiba kacau. Baru beberapa jam lalu ia merasa begitu canggung di ruang tamu rumahnya sendiri, dan kini ia menyadari betapa berbeda rasanya berjalan bersama Hana di pantai, tenang... hampir menenangkan.

Ia menghela napas perlahan, matanya sempat mencari-cari sesuatu di cakrawala sebelum akhirnya kembali menatap Hana. Ada kejujuran yang tertahan di dadanya, tapi lidahnya masih enggan bergerak.

“Mungkin…” ucapnya pelan, hampir seperti gumaman.

Hana menoleh padanya, menunggu. Ia tidak mendesak, hanya menatap dengan tenang, seakan siap menerima jawaban apa pun, atau bahkan ketiadaan jawaban sekalipun.

Minki tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti helaan napas daripada kegembiraan. “Aku… hanya merasa aneh,” akhirnya ia berkata, suaranya berat tapi jujur. “Aneh bagaimana kebetulan bisa menyeret seseorang ke dalam hidupmu… lalu pergi begitu cepat.”

Ia tidak menoleh langsung ke Hana. Kata-katanya menggantung, tidak sepenuhnya jelas, tapi cukup untuk membuat Hana mengerti ada banyak hal yang ia tahan semalam.

Lihat selengkapnya