8
Minki belum sempat menjawab pertanyaan Hana tadi. Kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya, sementara pikirannya masih penuh dengan bayangan yang sulit ia uraikan. Namun keheningan itu buyar begitu suara keroncongan perut Hana terdengar jelas di antara debur ombak. Hana spontan memegangi perutnya dengan kedua tangannya, tertawa kecil menutupi rasa malunya.
“Sepertinya aku terlalu larut mengobrol denganmu sampai lupa kalau aku belum sarapan,” ucapnya pelan.
Minki menatapnya, merasa bersalah. “Aku yang seharusnya meminta maaf, Hana-ssi. Mari kita kembali ke rumahku saja, jauh lebih dekat. Aku akan membuatkan sesuatu.”
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah Minki. Begitu masuk, Hana langsung merasakan suasana yang berbeda dibanding malam sebelumnya. Kini, cahaya matahari menembus tirai putih tipis di ruang tamu, membuat ruangan itu tampak lebih hangat, lembut, dan nyata. Ia terdiam sejenak, matanya menelusuri bagaimana cahaya yang terfilter oleh kain itu jatuh di lantai kayu, seolah menciptakan dunia yang selama ini hanya ia bayangkan lewat panel-panel komik.
Sementara Minki masuk ke dapur untuk mengambil sesuatu untuk mereka minum, Hana perlahan melangkah mendekati jendela. Ada ketenangan yang aneh di sana, sekaligus debar yang tak bisa ia jelaskan. Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah tumpukan buku sketsa di meja yang terlihat ramai oleh berbagai jenis alat gambar yang tersusun rapi sesuai warna, namun ada juga beberapa yang tidak beraturan.
Dengan ragu, ia membuka salah satunya. Lembaran pertama membuatnya terpaku. Gambar itu, jendela yang sama. Halaman demi halaman berikutnya memperlihatkan sketsa kasar yang tak asing lagi, potongan adegan, bayangan karakter, semuanya adalah cikal bakal dari Velvet Shadows.
Jantung Hana berdegup lebih cepat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia temukan. Jemarinya bergetar ketika ia menutup kembali buku itu, mengembalikannya ke tempat semula seakan tidak pernah tersentuh. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya.
Saat Minki kembali dengan secangkir teh, Hana sudah duduk kembali di sofa, senyumnya terlihat biasa saja. Namun dalam hatinya ia tahu, rahasia itu baru saja terbuka di depan matanya.
“Tunggulah sebentar, aku akan membuat sesuatu untukmu.”
Hana hanya mengangguk kecil. Tubuhnya terasa kikuk ketika ia duduk di atas sofa rumah Minki yang kembali memberi ketidaknyamanan seperti malam sebelumnya. Pikirannya bergejolak, meski ia sudah lama menaruh curiga, tetap saja sulit menenangkan diri setelah mendapati kecurigaannya benar adanya.
Dalam kesunyian rumah itu, Hana bisa mendengar jelas irama pisau yang beradu dengan papan kayu dari ruangan sebelah, tempat Minki entah sedang mengiris apa. Tak butuh waktu lama, aroma sesuatu yang lezat mulai tercium, membuat perutnya yang kosong ikut bergejolak.
Tak lama kemudian Minki muncul, membawa dua piring berisi kue beras dengan saus merah dan uap yang mengepul di atasnya.
“Maaf, Hana-ssi. Aku hanya punya ini. Ini instan, semoga kau tidak keberatan.”