Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #9

Gema yang Tertinggal

9

 

Hana duduk di sofa apartemennya di Seoul. Ia baru saja pulang dari kantor. Tubuhnya tenggelam di bantal lembut, sementara cahaya sore menembus tirai tipis. Ia tidak segera menyalakan lampu, membiarkan ruang itu diselimuti rona hangat yang redup, seperti mengundang ketenangan, namun hatinya tidak tenang. Setiap detik kebersamaannya dengan Minki terasa bergema di pikirannya. Bayangan wajahnya, cara Minki menatapnya tanpa mengungkapkan banyak, bahkan senyum tipisnya, masih menempel di kesadaran Hana.

Hana menekankan kepalanya ke bantal, memejamkan mata. Ada kerinduan samar yang lahir dari ruang kosong di dadanya, ruang yang sebelumnya tak pernah ia ketahui keberadaannya. Hana menyadari satu hal: ia tidak lagi bisa memandang Minki sekadar sebagai penulis webcomic yang karyanya ia kagumi. Ada dorongan halus yang ia enggan beri nama. Terlebih lagi, rahasia itu kini ada di genggamannya. Ia tahu Minki adalah Bada, sosok di balik Velvet Shadows. Haruskah ia mengakuinya sekarang, atau terus berpura-pura demi menjaga kenyamanan pria itu?

Ia menatap layar ponsel. Jari-jarinya tertahan, ragu untuk mengirim pesan yang sudah berkali-kali ia ketik: Semoga harimu menyenangkan, Minki-ssi. Namun, setiap kali hendak menekan send, keraguan selalu menang. Pada akhirnya, ia menyadari hari sudah hampir berakhir untuk sebuah ucapan penyemangat pagi. Dengan geram pada diri sendiri, ia melempar ponsel itu ke sudut sofa dengan kursor yang masih berkedip di kolom pesan.

Hana melangkah menuju balkon apartemennya. Ia berdiri di sana memandangi kota yang bergerak di luar. Mobil-mobil melintas, orang-orang bergegas, tapi dunianya terasa terhenti di sini. Ia membiarkan pikirannya melayang pada setiap detail yang masih tersisa dari dua hari terakhir, cahaya yang menembus tirai putih tipis, tumpukan buku sketsa Minki, aroma kue beras instan, bahkan senyum tipis yang ia coba simpan tanpa mengatakan apa pun. Hana tersenyum tipis, sekaligus merasa sedikit getir. Ada rasa ingin mengejar perasaan yang ia rasakan, namun juga takut terlalu dekat dengan perasaan itu.

Kepala Hana menunduk, mengalihkan pandangannya dari langit jingga yang kian menghitam. Di dalam hati, ada percakapan yang belum pernah terjadi, pertanyaan-pertanyaan yang ia simpan sendiri:

Apakah Minki merasakan hal yang sama? Atau aku hanya menafsirkan bayangan dari jarak jauh?

Lihat selengkapnya