10
Kafe itu tenang, musiknya pelan, dan udara sore membawa aroma hujan yang tertunda. Hana menyesap pelan ice Americano-nya, sementara Minki duduk di hadapannya. Matanya tak berusaha bersembunyi, ia memperhatikan gadis itu tanpa malu, seolah ada kerinduan yang tak sempat ia samarkan. Suasana di kafe yang tenang itu terasa sedikit canggung, seakan pesan-pesan singkat mereka selama seminggu terakhir tak cukup untuk meruntuhkan dinding tipis di antara mereka; lemah, tapi masih ada.
“Apa yang membawamu ke Seoul?” tanya Hana.
Minki menarik napas pelan, seolah memberi dirinya waktu untuk mempercayai apa pun yang akan ia ucapkan.
“Ada urusan kecil” jawabnya tanpa kehangatan yang dibuat-buat. Tatapannya tenang, sulit dibaca. Dalam kepalanya, masih terbayang rumah kosong di salah satu sudut kota yang beberapa jam lalu ia datangi, rumah tempat ia tumbuh besar. Rumah yang kini sunyi, penuh debu, jendelanya sama persis dengan yang ada di rumah pantainya. Ia berdiri lama di sana tanpa benar-benar tahu mengapa, hanya merasa bahwa cahaya di jendela itu sudah tidak mengenalinya lagi.
“Itu pasti urusan penting, sampai kau rela jauh-jauh ke sini,” ucap Hana dengan senyum kecil, sebelum kembali menyesap kopinya.
Minki tak menjawab. Ia masih memikirkan bagaimana perjalanan tanpa tujuan itu berakhir di sini, di hadapan Hana. Sekali lagi, rumah pantainya yang biasanya dipenuhi cahaya lembut matahari tiba-tiba terasa terlalu luas baginya. Terlalu sunyi. Ia tak tahan lebih lama, harus pergi, keluar, menenangkan diri dari sesuatu yang bahkan belum bisa ia beri nama. Dan tanpa sadar, ia sudah setengah jalan menuju Seoul.
Sekarang, di sini ia duduk, bersama wanita yang memenuhi pikirannya. Minki tahu ia harus menuntaskan ini. Ia sedikit tak terima; mengapa wanita ini begitu “mengganggunya” dengan cara yang entah kenapa ia nikmati. Mungkin karena Hana satu-satunya yang berani cukup dekat untuk mengetuk “jendelanya.” Ia hanya ingin memastikan, apakah kegelisahannya akan reda setelah melihat Hana.
Namun yang ia rasakan sekarang justru kebalikannya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergolak, bukan karena Hana mengatakan sesuatu yang istimewa, melainkan karena Hana tetap sama. Dengan caranya yang sederhana, Hana selalu tampak nyaman di dalam hidupnya sendiri. Ia tidak menunggu siapa pun untuk membuatnya utuh. Kehangatan itu, yang mengalir begitu alami dari dalam diri Hana, seolah menempel padanya. Bagi Minki, perasaan semacam itu terasa asing, dan sedikit mengusiknya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Hana tiba-tiba, suaranya lembut dan ramah.
“Baik,” jawab Minki, terlalu cepat. Ia bahkan mendengar sendiri nada gugup dalam suaranya.
Baik, padahal setiap pagi di rumah pantai itu, ia membuka jendela dan hanya menatap laut tanpa tahu untuk apa. Baik, padahal ia sudah mengetik dan menghapus pesan untuk Hana berkali-kali, mengetik cukup panjang hanya untuk mengirim kalimat pendek tentang cuaca.
Ia tahu kebohongan itu kecil, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.
“Aku sempat berpikir kau tidak akan kembali ke Seoul,” kata Hana pelan, sambil menatap keluar jendela kafe. Cahaya sore memantul di rambutnya, menimbulkan kilau keemasan yang anehnya membuat Minki merasa bersalah, karena ia datang bukan untuk menyapa, tapi untuk memastikan sesuatu yang tidak ingin ia akui: bahwa ia masih belum selesai.
Hening menggantung di antara mereka. Suara sendok yang beradu dengan gelas di meja lain terasa terlalu nyaring.
Dalam hati, Minki ingin berkata: Aku datang karena kau tidak pernah benar-benar pergi. Tapi ia hanya tersenyum kecil, menyembunyikan kata-kata itu di balik tegukan kopinya yang pahit.
Hening itu bertahan lama. Hana menggulir ujung sedotan di antara jari-jarinya, seperti mencari sesuatu untuk dilakukan agar tidak memecah suasana terlalu cepat. Ia bisa merasakan sesuatu yang berat dalam tatapan Minki, yang seperti biasa, ia tak yakin apa.
“Aku baca sesuatu yang mengingatkanku padamu,” katanya akhirnya, suaranya datar tapi hati-hati. Minki menoleh, sedikit waspada.
“Begitu?”
“Ya. Bab terbaru… Velvet Shadows.”
Judul itu membuat dada Minki menegang sesaat, meski wajahnya tetap tenang. Ia mengangkat alis, pura-pura acuh.
“Kau suka?”