11
Mereka berkendara dalam keheningan.
Hujan turun lebih rapat, meredam suara kota. Lampu toko-toko kecil memantul di genangan, seolah kota menyimpan pantulan kehidupan lain di bawah permukaannya. Udara dingin yang menyusup dari celah kecil bukaan kaca mobil membuat Hana memeluk lengannya tanpa sadar. Melihat itu, tangan Minki bergerak memutar kenop penghangat secara otomatis tanpa berkata apa-apa.
“Terima kasih”, gumam Hana pelan.
Wangi parfum yang biasanya tercium dari tubuh Minki menguar tajam di antara hangatnya udara di ruang sempit. Hana tampak tenang, tapi jantungnya sibuk memukul dadanya sendiri.
“Di depan belok kiri, kita hampir sampai,”
Minki mengangguk tanpa kata, lalu membelokkan mobil memasuki sebuah kawasan gedung apartemen.
Beberapa saat lalu, ketika hujan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Minki menawarkan diri untuk mengantar Hana yang tidak membawa payung. Hana tidak melihat alasan untuk menolak, sebagian karena pertimbangan praktis, sebagian lain karena ia ingin waktu itu bertambah sedikit lebih lama.
“Apa kau akan kembali ke Sokcho setelah ini?”
“Mungkin,” jawab Minki singkat.
Hana tampak berpikir sejenak, lalu keberanian menguat dalam nadanya. “Kau mau mampir sebentar?”
Minki menoleh dengan cepat, seolah tidak yakin ia mendengar ajakan itu dengan benar.
“Aku rasa agak berbahaya jika menyetir jarak jauh dalam cuaca seperti ini,” lanjut Hana, suaranya terdengar ringan dan beralasan.
Pintu apartemen Hana terbuka dengan bunyi klik lembut. Aroma tanah basah bercampur wangi kayu manis dari diffuser di dekat pintu. Ruangan itu sederhana, tapi hangat, warna krem mendominasi, dengan tanaman hijau kecil di setiap sudut.
“Maaf agak berantakan,” katanya sambil meletakkan mantelnya, meski jelas setiap benda telah berada di tempatnya. Minki berdiri di ambang ruang tamu, menatap tanaman-tanaman kecil di sudut ruangan.
“Kau menanam semuanya sendiri?” Minki menunjuk ke arah tanaman-tanaman itu dengan dagunya.
“Ah ya, mereka anak-anakku,” ujar Hana sedikit malu-malu, lalu sibuk mencari-cari sesuatu di kabinet dapur yang berhadapan langsung dengan sofa di samping balkon. Minki mengangguk kecil, menangkap sisi Hana yang sebelumnya tak pernah terlihat.
Suara hujan di luar terdengar samar di balik dinding apartemen.
“Aku buatkan teh, ya,” kata Hana akhirnya. Suara air mengalir dari teko, bunyi porselen saling bersentuhan, semuanya terasa akrab namun jauh.