12
Sudah tiga hari berlalu sejak malam ketika Minki tertidur di sampingnya dan tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang membuat dunia di antara mereka bergeser setengah inci. Tak ada yang dibahas setelahnya. Tak ada yang dijelaskan. Pagi datang seperti biasa, tetapi sejak itu, Hana merasa seolah ada ruang kosong yang senyap mengikuti mereka... seperti dua garis yang berjalan sejajar, terikat oleh kedekatan fisik, namun ragu apakah harus lebih mendekat secara emosional.
Pagi itu, ketika Hana terbangun, ia mendapati dirinya masih berada dalam pelukan Minki. Ada ketenangan aneh di momen itu, ketenangan yang membuatnya sadar bahwa Minki sudah terjaga lebih dulu, barangkali sudah lama, dan memilih tetap di sana.
“Minki,” panggilnya ragu.
“Selamat pagi, Hana,” jawabnya, suaranya serak dan luar biasa seksi di telinga Hana.
Keheningan panjang menyusul. Semacam ruang kosong yang terisi oleh hal-hal yang tak terucap. Lima belas menit itu terasa seperti jeda yang terlalu panjang untuk dua orang yang seharusnya saling dekat, namun terlalu singkat untuk benar-benar memahami apa yang sedang berlangsung di antara mereka.
Akhirnya Hana bangkit. Ia tersenyum tipis, mencoba memberi bentuk pada sesuatu yang tak ia mengerti. “Akan aku buatkan sarapan.”
Mereka makan dalam diam. Minki tampak kembali menjadi dirinya yang biasa, tidak dingin, hanya… mundur selangkah. Seperti seseorang yang tiba-tiba teringat akan batas yang ia pasang sendiri.
Saat Hana mengantarnya ke pintu, ia berkata lembut, “Mengemudilah dengan aman. Hubungi aku saat sudah sampai.”
Minki mengangguk, tangannya masih menggenggam tangan Hana, lama, seolah digerakkan oleh sebuah keengganan yang tidak ia izinkan menjadi kata. Tatapannya hangat, tetapi rumit, seperti seseorang yang ingin tinggal, namun takut pada konsekuensi dari keinginannya sendiri.
Hana memeluknya. Minki membalas tanpa suara. Tidak ada penjelasan, tidak ada janji, hanya diam yang meninggalkan jejak aneh di dada, lalu ia pergi, meninggalkan apartemen Hana dengan sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
Pesan dari Somi sudah menunggu di layar ketika Hana mengecek ponselnya saat terbangun di pagi hari. Seniornya itu bukan tipe yang mengirim kabar tanpa alasan. “Hana, kau harus lihat ini,” tulisnya, diikuti tautan forum yang sudah dibuka puluhan ribu kali. Somi tahu persis obsesi Hana tentang kemungkinan Minki dan “Bada,” ia tahu Hana pernah bersikeras soal pola-pola kecil yang tak dilihat orang lain. Justru karena itu, pesan itu terasa seperti pukulan dingin.
Hana membuka tautannya. Unggahan panjang, analisis fanatik yang telaten, rangkaian jejak digital yang dirajut dengan gairah mengungkap rahasia orang lain. Semua potongan itu mengarah pada satu nama yang ia kenal lebih dekat daripada siapa pun beberapa waktu terakhir: Minki.
Udara di dadanya pecah pelan. Bukti-buktinya tidak meyakinkan, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah: seseorang di luar sana punya obsesi yang mirip dirinya, hanya tanpa batas empati. Dan jika Minki melihat ini, hal pertama yang terlintas di benaknya mungkin bukan sang pelaku, tetapi dirinya.
Hana menatap layar ponselnya cukup lama sampai cahaya putihnya terasa menusuk mata. Unggahan itu terus terbuka, komentar baru bermunculan setiap detik, dan nama Minki berulang-ulang disebut seakan mereka sedang membicarakan seseorang yang bukan manusia, hanya bahan teori murahan. Somi masih mengirim pesan, ringkas, cemas, tapi penuh tanda tanya. Hana tidak menjawab.
Ia menutup forum itu, membuka kembali, menutup lagi. Rasa bersalah dan takut mendesak, sebab ia tahu, bayangan yang paling dekat sebagai pemantik kekacauan ini adalah dirinya.
Hana menatap kolom chat yang membeku itu. Sudah dua hari. Dua hari sejak Minki menghilang ke balik tembok yang ia bangun sendiri tepat setelah ia melangkah keluar dari apartemen ini. Hana tahu Minki sedang melarikan diri dari keintiman yang mereka bagi, sebuah langkah mundur yang bisa ia pahami. Namun, berita ini mengubah segalanya. Kini, diamnya Minki bukan lagi sekadar upaya mencari jarak, melainkan sebuah tuduhan yang tak terucap
Hana mengetik sesuatu, menghapusnya. Mencoba lagi, menghapus lagi. Apa pun yang terlalu panjang terdengar defensif. Apa pun yang terlalu pendek terasa pura-pura. Akhirnya jari-jarinya berhenti, dan kalimat yang paling sederhana, dan paling jujur, keluar begitu saja.
Apa kau baik-baik saja?
Ia melihat kalimat itu beberapa detik, merasakan panas di tengkuknya, lalu menekan kirim sebelum pikirannya sempat memutar ulang semua kemungkinan buruk. Dan setelah itu, dunia menjadi sangat sunyi. Tidak ada centang biru. Tidak ada tanda sedang mengetik. Hanya layar kosong yang samar memantulkan wajahnya sendiri.
Hana datang ke kantor dengan kepala yang terasa berat. Sepanjang perjalanan, ponselnya tidak memberikan tanda apa pun. Pesannya masih berhenti di kata-kata yang ia kirimkan tadi pagi, sebuah beban kecil yang menempel di tulang rusuknya.
Begitu masuk ruang kerja, ia langsung tahu suasana hari itu berbeda. Tidak ada yang ribut atau berteriak, justru sebaliknya, ruangan dipenuhi bisik-bisik pendek, tatapan saling lempar, dan layar-layar monitor yang menampilkan artikel yang sama. Forum itu sudah merembes ke lini masa publik. Karena mereka semua terlibat dalam naskah adaptasi webcomic karya penulis yang sama, rasa ingin tahu kolektif jadi lebih besar dari biasanya.
“Bu Somi benar-benar murka, ini kacau sekali.”
“Habis sudah, kerja keras selama ini hancur berantakan.”
“Kalau benar, moralitas Penulis Kang sangat dipertanyakan.”
“Selama ini kita mengurusi penulis bermuka dua.”
“Jijik sekali, adegan-adegannya menjijikkan, walaupun artwork-nya bagus banget sih.”
Obrolan itu keluar begitu saja, tanpa memikirkan siapa yang ada di ruangan. Hana duduk di mejanya sambil berusaha fokus pada monitor. Suara komputer menyala seperti suara hujan yang terlalu rapat di kepala. Ada dingin yang menempel di telapak tangannya.
Somi menghampirinya tanpa basa-basi. Wajahnya serius, tapi bukan marah, lebih seperti seseorang yang mencoba memahami sesuatu yang tidak ingin ia pahami.
“Hana.”
Hana menoleh pelan. “Ya?”