13
Sudah satu bulan. Satu bulan yang terasa seperti lumpur yang tebal, lengket, dan menyeret segalanya ikut tenggelam.
Setelah panggilan terakhir yang terputus, Minki menghilang sepenuhnya. Ia tidak membalas pesan Hana, dan rumahnya di Sokcho kosong seperti cangkang yang ditinggalkan. Jiho, manajernya, pun tak tahu di mana ia berada, atau mungkin hanya tak ingin membagi informasi itu pada Hana, entahlah. Ia tahu Minki tidak ingin ditemukan, dan ia menghormatinya. Namun, rasa hormat itu datang dengan harga yang mahal. Hana harus kembali ke kantor setiap hari, kembali ke meja kerjanya yang kini terasa asing, membawa beban yang tidak bisa ia bagi dengan siapa pun.
Waktu menyelesaikan tugasnya. Publik menemukan target amarah baru, dan isu tentang penulis ganda itu mereda menjadi sekadar catatan kaki di forum-forum gosip. Produksi drama berjalan lagi, lancar tanpa suara miring bersisa. Nama Minki tetap tercantum, tetapi kini diselubungi aura misterius yang dianggap publik sebagai strategi pemasaran yang aneh.
Semua orang di kantor sudah kembali normal, tetapi Hana tidak pernah kembali menjadi dirinya yang dulu. Sebelum mengenal Minki, ia adalah seorang pengamat yang cerdik, terobsesi pada teka-teki. Kini, ia hanya seorang wanita yang kesepian, terbebani oleh ketakutan bahwa ia telah mendorong seseorang yang rapuh kembali ke dalam persembunyiannya. Ia memandang layar komputernya; chat Minki di kolom aplikasi pesan masih kaku, berhenti di kata-kata yang ia kirimkan dulu: Apa kau baik-baik saja?
Sore itu, ketika ia pulang ke apartemen, lampu lorong masih dingin dan pucat. Ia hendak memasukkan kode pintu unitnya ketika matanya menangkap sesuatu di balik pot Monsteranya. Sebuah amplop besar berwarna cokelat tebal, tersembunyi setengah hati. Itu tidak dikirim melalui pos, seolah-olah seseorang tahu persis kapan ia akan pulang dan menaruhnya secara diam-diam.
Jantung Hana berdebar lebih kencang. Amplop itu tidak bertanda, kecuali namanya yang ditulis dengan rapi menggunakan huruf hangul sederhana. Ia membawanya masuk dan merobek ujungnya dengan jari yang gemetar.
Di dalamnya, ada dua hal:
Pertama, tumpukan sketsa kasar yang tidak asing lagi. Sketsa-sketsa yang gelap, suram, penuh goresan kemarahan. Itu adalah Velvet Shadows dalam bentuk mentah. Hana bisa melihat detail-detail yang dulu sempat ia intip pada salah satu buku sketsa Minki. Gambar jendela yang setengah terbuka muncul berkali-kali, dipadukan dengan bayangan yang terdistorsi. Jendela itu bukan fiksi, itu adalah lokasi kejadian. Jendela itu adalah pengakuan Minki yang paling jujur.
Kedua, ada lembar kertas terlipat rapi. Sebuah surat. Hana meletakkan sketsa itu, dan dengan napas tertahan, ia membuka surat itu. Tulisan tangan Minki yang rapi, namun terasa gontai, memenuhi halaman itu:
Hana,