14
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Hana sampai di terminal bus. Sebelumnya ia sudah memesan tiket tercepat ke Sokcho, yaitu yang berangkat pada jam delapan malam. Ia tidak mengemasi banyak barang, hanya tas kecil, dompet, dan amplop cokelat berisi pengakuan Minki yang kini terasa seperti benda asing yang menempel di kulitnya. Perjalanannya terasa kabur. Pemandangan Seoul yang ramai merayap berganti menjadi pemandangan gunung dan laut, tetapi pikiran Hana hanya terfokus pada rasa dingin di telapak tangannya, dingin yang sama seperti saat ia membuka amplop itu pertama kali.
Ia telah membaca surat itu berulang kali. Ia tahu ia tidak mencari seorang penulis yang mengasingkan diri, ia mencari seorang anak laki-laki yang telah menjadi korban, yang setidaknya diselamatkan oleh pembunuhan. Ketakutan itu nyata, berdenyut di tenggorokannya, tetapi ia menekannya. Ia harus melakukannya. Jika Minki memberinya pengakuan, berarti ia belum sepenuhnya menyerah.
Terminal Sokcho menyambutnya dengan udara asin yang sepi. Tak ada hiruk pikuk. Hanya ombak yang memantul pada batu dan angin yang membawa bau kayu basah. Hana menyewa taksi, menyebutkan alamat yang sudah ia hafal seperti doa.
Taksi berhenti di ujung jalan. Hana dengan cepat membayarnya, membiarkannya pergi sebelum ia bisa mengubah pikirannya. Ia harus sedikit berjalan kaki untuk sampai ke rumah Minki. Kini ia berdiri di sana, sendirian, tak jauh dari laut yang tampak tak berujung. Ombak menghantam bibir pantai dengan suara keras dan monoton. Rumah di hadapannya tampak modern dan minimalis seperti dalam ingatannya, dan yang paling menusuk, gelap total.
Ia mendekati rumah dengan langkah ragu. Gelap, tanpa kehangatan lampu-lampu yang dulu bersinar lembut dalam ingatannya, tak ada tanda kehidupan.
Hana mengangkat tangannya untuk mengetuk, namun tangannya membeku. Bagaimana jika Minki benar-benar tidak ada? Bagaimana jika ia hanya mengirimkan surat itu sebagai ucapan selamat tinggal?
Ia mencoba memutar kenop pintu. Terkunci.
Rasa dingin yang tadinya hanya di tangannya kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Suara laut kali ini tak memberikannya ketenangan. Ia menarik ponselnya dan hendak mengirim pesan putus asa kepada Minki, atau mungkin kepada Somi untuk meminta bantuan, ketika matanya menangkap sesuatu.
Di sudut rumah, Hana menemukan pintu kecil yang tak pernah ia perhatikan pada kunjungan-kunjungannya yang lalu. Pintu itu mengarah ke ruang penyimpanan dan terbuka hanya setengah meter. Ia mendorongnya perlahan. Ruangan gelap, berbau debu dan kayu. Tak ada yang menarik perhatiannya, hingga matanya menangkap sebuah tas kecil di sudut lantai, tas yang pernah dibawa Minki saat mereka bertemu.
Hana merasakan adrenalin yang dingin menyergapnya. Minki ada di sini. Ia baru saja tiba atau baru saja pergi.
Kemudian, sayup-sayup ia mendengar suara langkah, diikuti batuk samar dari belakang gudang. Suara itu pelan, menjauh perlahan. Suara itu terasa lemah, terdengar seperti seseorang berjuang melawan dingin.
Hana tidak memikirkan rasa takutnya lagi. Ia hanya mengikuti suara itu, melangkah pasti menembus malam ke arah suara itu menuntunnya.
Hana mendorong semak-semak yang basah, matanya menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang dari bulan yang pucat. Pandangan terbuka pada tebing rendah yang menjorok ke laut. Suara ombak yang sebelumnya hanya menjadi latar belakang kini menggelegar di telinganya.