15
Hana memapah Minki menjauh dari tebing dan membawanya kembali melalui jalan setapak menuju rumah pantai itu. Rumahnya dingin, sunyi, hampir tidak terasa ditinggali, seperti ruang yang pernah menjadi tempat berlindung, tetapi kini hanya menyimpan gema dari masa lalu. Ia mendudukkan Minki di sofa besar, menyalakan pemanas, dan mencari selimut tanpa banyak bicara.
Minki tampak kosong, seperti seluruh energinya sudah jatuh bersama air mata di tepi tebing tadi. Tidak ada upaya untuk menyembunyikan kelemahannya, dan ia tampak terlalu lelah untuk merasa malu. Hana membawakan teh hangat dan selimut tebal. Ia tidak mengajukan pertanyaan tentang masa lalu, tidak tentang jendela atau ibunya. Ia tahu, setelah pengakuan yang begitu menyakitkan, Minki hanya butuh jeda dan kehadiran yang diam.
Setelah Minki terbaring di sofa yang hangat, terbungkus selimut seperti kepompong, Hana duduk di lantai, membiarkan kehangatan perlahan meresap ke ruangan. Cahaya dari lampu yang remang memantul di wajah Minki, memperlihatkan betapa pucat dan rapuhnya ia.
Tangan Minki yang bebas terulur, gerakannya lambat dan ragu-ragu. Ia tidak mencari selimut, melainkan mencari Hana. Hana mengerti. Ia mengulurkan tangannya, dan Minki segera meraihnya. Genggamannya lemah, namun tidak melepaskan, seolah-olah Hana adalah satu-satunya jangkar yang tersisa di tengah badai.
Ia menarik tangan Hana dan menempelkannya ke pipinya yang dingin. Kehangatan kulit Hana bertabrakan dengan sisa ketakutan yang belum hilang darinya.
Ia menatap Hana dengan pandangan yang tidak terjelaskan. Bukan pandangan cinta yang romantis dan bersinar, tapi sesuatu yang lebih mentah. Sebuah tatapan kepemilikan yang putus asa, bercampur dengan rasa bersalah yang tak terucapkan.
“Jangan pergi,” bisiknya, suaranya nyaris patah. “Tinggallah… sampai aku bisa bernapas lagi.”
Hana merasakan matanya memanas, bukan karena sedih, tetapi karena memahami bobot yang terkandung dalam kata-kata itu. Minki tidak meminta cinta, ia meminta keberadaan. Ia meminta Hana untuk menangguhkan penilaiannya dan berfungsi sebagai penyelamat jiwanya.
“Aku di sini,” kata Hana pelan. “Aku tidak akan pergi.”
Minki menghembuskan napas yang gemetar. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu. Aku sudah mencarimu, jauh sebelum kau mencariku. Kau melihatku… bahkan saat aku hanya noda di balik kegelapanku sendiri.” Suaranya merosot, lebih jujur dari apa pun yang pernah ia ucapkan.
Hana tahu, ini adalah pengakuan cinta yang paling jujur dan menyakitkan yang pernah ia dengar. Itu adalah janji kesetiaan yang lahir dari trauma, pengakuan bahwa keberadaan Hana adalah kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Ia membiarkan Minki terus memenjarakan jemarinya di sana, seolah takut kehangatan itu akan menguap jika dilepaskan.
Malam itu, Hana tidak tidur. Ia duduk di sana, mendengarkan deru ombak dan napas Minki yang perlahan menjadi lebih teratur. Saat itu, ia tahu ia sudah mengambil keputusan untuk tinggal, dan kata “cinta” yang sempat ia hindari kini terasa jauh lebih mudah diterima.
***