Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #16

Nadir

16

Minki berhenti, menelan sesuatu yang terasa berat. Tatapannya kosong, tapi di dalamnya ada ketakutan yang sudah terlalu lama disembunyikan. Dengan suara yang hampir pecah, ia melanjutkan, “Malam itu… aku yang menarik pisaunya. Aku yang melakukannya. Aku adalah rahasia tergelap yang bahkan aku sendiri tidak selalu sanggup untuk tatap.”

Mata Minki memerah, air mata terbit perlahan seperti sesuatu yang enggan menyerah pada kenyataan. Genggamannya pada tangan Hana mengencang, bukan sekadar karena panik, lebih seperti seseorang yang takut tubuhnya akan runtuh jika ia melepaskannya. Cengkeraman itu nyaris menyakitkan bagi Hana, namun ia tidak menarik diri.

Hana terdiam. Rasanya seperti seluruh dunia menyempit menjadi satu titik kecil tepat di dadanya. Kata-kata Minki masih menggema, melingkar-lingkar tanpa bentuk. Ia ingin bicara, tapi lidahnya terasa kaku, seakan tubuhnya sedang sibuk menjaga agar dirinya tidak pecah di depan pria yang baru saja menghancurkan fondasi kepercayaannya.

Minki menunggu. Tubuhnya kaku, matanya gelisah. Ada kepasrahan yang dalam di wajahnya, semacam keyakinan pahit bahwa apa pun yang Hana putuskan setelah ini, dia pantas menerimanya. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menahan napas untuk terakhir kalinya.

Ketika Hana akhirnya menemukan suaranya, ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Minki. Gerakan kecil, tapi cukup untuk membuat pria itu tersentak seolah kehilangan pegangan hidupnya.

“Aku… butuh waktu untuk diriku sendiri sebentar.” Kata “sebentar” terdengar rapuh, seperti sedang mencoba meyakinkan diri sendiri.

Hana bangkit dan pergi tanpa menoleh. Bukan karena kejam, tetapi karena jika ia melihat wajah Minki sekarang, ia tahu lututnya akan goyah.

Ia berjalan menuju bangku kayu di dekat pantai. Laut pagi itu tenang, tapi pikirannya tidak. Ia duduk, mengusap wajah, mencoba menata segala sesuatu yang berputar begitu keras, ketakutan, pengkhianatan, dan satu hal yang membuat dadanya semakin berat: kasih sayangnya sendiri.

Di belakang jendela, Minki menatapnya. Ia tidak duduk. Ia berdiri dengan buku-buku jarinya yang memutih karena mencengkeram tepian kusen seperti seseorang yang berpegangan pada harapan yang sangat tipis. Setiap detik Hana menjauh terasa seperti tarikan halus ke arah kehilangan yang selama ini ia takuti, kehilangan yang ia yakini sudah ditakdirkan terjadi pada dirinya. Di kepalanya, suara lama itu kembali: semua yang ia sentuh pada akhirnya akan menjauh.

Ia menunggu lebih dari tiga puluh menit tanpa bergerak. Setiap menit menambah rasa sakit yang menusuk. Baginya, waktu itu bukan sekadar menunggu. Itu penghakiman diam, dan ia yakin hasilnya tak akan menyelamatkannya.

Akhirnya, ia keluar. Langkahnya pelan, seperti seseorang yang tahu ia sedang berjalan menuju sesuatu yang mungkin mengakhiri segalanya. Ia berhenti beberapa meter dari Hana, menelan ketakutan yang membuat dadanya perih.

“Hana…” suaranya pecah, hampir tidak terdengar. Ia hendak bicara lebih jauh, mungkin memohon, mungkin meminta kesempatan, mungkin sekadar mengatakan bahwa ia memahami jika ini adalah akhir.

Belum sempat kata-kata itu keluar, Hana berdiri dan berbalik.

Ia memeluknya.

Lihat selengkapnya