Ruang Sempit Kita

Alana Cullen
Chapter #17

Ruang Sempit Kita

17

 

Enam minggu telah berlalu sejak bab terakhir Velvet Shadows diunggah. Keputusan Minki untuk mengakhiri karyanya dengan adegan di jendela itu memang menjadi sensasi, tetapi bukan sensasi yang ia takutkan. Alih-alih melabeli lebih jauh, sebagian besar kritikus dan pembaca, yang kini dipimpin oleh narasi trauma, menafsirkan bab itu sebagai ratapan autobiografi. Cerita Velvet Shadows berakhir, begitu pula persona 'Bada' yang kelam. Minki memenuhi janjinya; ia menghilang dari radar, memasuki jeda panjang yang tidak diketahui kapan akan berakhir.

Rumah pantai Minki di Sokcho ditinggal dalam perawatan seorang petugas, sementara Minki sendiri terdampar di apartemen kecil Hana di Seoul. Itu adalah perubahan yang kontras. Dari pemandangan laut yang luas dan isolasi yang mewah, Minki kini harus menyesuaikan diri dengan dinding-dinding yang tak seluas rumahnya di Sokcho, suara bising dari apartemen tetangga, dan yang paling aneh kehadiran Hana yang konstan.

Mereka tidak pernah secara eksplisit mendiskusikan pengaturan ini. Setelah kembali dari Sokcho, Minki hanya mengikuti Hana, dan saat Hana menanyakan apakah ia butuh kembali ke Sokcho, Minki hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Aku harus ada di tempat di mana aku bisa dilihat."

Apartemen kecil Hana dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehadiran Minki. Ruangan-ruangannya memang pas untuk dua orang, dan di setiap sudut kini ada sentuhan yang tidak disengaja dari Minki, tumpukan buku filsafat yang diletakkan di samping koleksi novel-novel Hana, atau mantel tebalnya yang tergantung di belakang pintu. Meja makan kecil mereka kini dipenuhi oleh sketsa dan pensil, tetapi kini sketsa-sketsa itu tidak lagi gelap dan penuh darah ataupun dunia yang cerah milik Everyday, Somewhere; melainkan hanya garis-garis acak, Minki melatih tangannya tanpa tujuan.

Minki, pria yang terbiasa hidup sendiri dengan rahasia, kini harus berurusan dengan kedekatan fisik yang tak terhindarkan. Setiap malam, mereka tidur di ranjang kecil itu, cukup untuk dua orang namun tidak lega, tapi setidaknya itu membuat mereka harus berpelukan setiap malam. Tubuh Minki yang biasanya kaku dan waspada kini rileks di samping Hana, meskipun ia kadang masih tidur menghadap dinding, kebiasaan yang Hana yakini adalah cara Minki untuk tetap menjaga satu sisi rahasianya.

Pagi itu, Hana sedang menyibukkan diri di dapur, membuat kopi. Minki sudah bangun. Ia tidak menggambar; ia hanya duduk di lantai kayu, bersandar pada rak buku, memandangi Hana.

"Kau menghalangi jalan," ujar Hana sambil tertawa kecil, mencoba mengambil gula di rak belakang Minki.

Minki tersenyum tipis, senyum yang Hana kenal kini, senyum yang menunjukkan adanya cahaya di balik trauma, tetapi juga senyum yang selalu diiringi oleh kesedihan di matanya. Ia mengulurkan tangan, meraih gula itu, dan menyerahkannya pada Hana.

"Aku tidak ingin kau sendirian terus saat aku pergi bekerja," kata Hana, sambil menuang kopi untuk mereka berdua. "Jadi, kurasa kau harus mulai mencari pekerjaan paruh atau sejenisnya, kau butuh kegiatan di luar rumah."

Minki mengambil cangkir kopinya dan meminumnya perlahan. "Aku tahu."

"Kau hanya mengambil jeda, bukan berhenti," Hana mengingatkan, matanya lembut. "Kau akan menggambar lagi."

Lihat selengkapnya