18
Hana kembali ke apartemen malam itu. Ia sudah menerima pesan singkat dari Jiho, yang terdengar antara bingung dan antusias. Jiho hanya menulis: Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi judul ini... ini benar-benar tidak terdengar seperti Minki. Hana tersenyum kecil di jalan; ia tahu persis apa yang Minki lakukan.
Ia menemukan Minki duduk di lantai, bersandar pada kabinet dapur, persis di tempat ia duduk pagi tadi. Tabletnya tergeletak di samping, kosong.
"Kau sudah mengirimnya," kata Hana, meletakkan tasnya. Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan lega.
Minki mengangguk. "Aku sudah memenuhi janji."
Hana duduk di lantai di sebelahnya, menyandarkan kepalanya ke bahu Minki. Di ruangan yang hangat itu, keheningan di antara mereka terasa damai.
"Kenapa 'Ruang Sempit Kita'?" tanya Hana, suaranya berbisik. "Banyak judul yang lebih indah. Lebih puitis."