Tengah malam datang bersama cahaya bulan yang menembus celah jendela kamar Aletha. Gadis itu masih terjaga, berbaring diam sambil menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
Sudah lama insomnia menjadi bagian dari hidupnya.
Aletha memejamkan mata, mencoba memaksa dirinya tidur, tetapi baru beberapa menit berlalu mimpi buruk kembali membangunkannya. Napasnya memburu. Dadanya terasa sesak.
Lagi.
Ia menghela napas panjang dan duduk perlahan di tepi ranjang.
“Daripada melototin plafon sampai pagi, lebih baik cari ide novel baru,” gumamnya pelan.
Aletha berjalan menuju meja kerja lalu membuka laptopnya. Jemarinya mulai menari di atas keyboard, menuliskan potongan ide yang berputar di kepalanya. Saat menulis, dunia seolah menghilang. Hanya ada dirinya dan kata-kata.
Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
Ponselnya bergetar.
Nama Clara muncul di layar.
«Begadang lagi?
Jangan keseringan, nanti sakit.»
Pesan kedua menyusul.
«Serius, Aletha.
Coba terapi deh.»
Aletha mendengus kecil. Ia membaca semua pesan itu tanpa berniat membalas. Clara pasti sudah hafal—jika Aletha diam, berarti pikirannya sedang penuh.
Ia kembali mengetik beberapa kalimat sebelum akhirnya menyerah karena tenggorokannya terasa kering.
Aletha turun ke lantai bawah untuk mengambil minum.
Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang duduk di meja makan.
Ayahnya.
Pria itu tengah memandangi foto mendiang istrinya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Ayah belum tidur?” tanya Aletha pelan.
Ayahnya menoleh lalu tersenyum tipis. “Harusnya ayah yang tanya begitu. Kenapa kamu masih bangun?”
Aletha mengambil segelas air sebelum menjawab, “Cuma haus.”
“Kamu masih insomnia?”
Aletha terdiam sesaat lalu mengangkat bahu kecil. “Sedikit.”
Ayahnya menghela napas panjang. “Kalau memang belum membaik, datanglah ke rumah sakit ayah. Banyak psikiater bagus di sana. Kamu butuh terapi yang tepat.”
“Aletha baik-baik saja, Yah.”
Jawaban itu terdengar otomatis. Bahkan dirinya sendiri tidak yakin.
Ayahnya menatapnya lama sebelum kembali berbicara, “Kamu juga harus mulai mengurangi pekerjaanmu.”
Aletha sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.