RUANG UNTUK SALAH

Dwi Fitriyaningsih Handoko
Chapter #2

SIANG YANG TERLAMBAT

Cahaya matahari yang menembus tirai membuat Aletha mengernyit pelan. Kepalanya terasa berat karena hanya tidur beberapa jam, tetapi setidaknya malam tadi ia berhasil tertidur tanpa mimpi buruk.


Ia meraba ponselnya yang tergeletak di samping bantal.


11.17 WIB.


“Mati aku…”


Aletha langsung bangkit dari tempat tidur. Rambutnya berantakan, laptopnya masih menyala di meja kerja, dan layar website Blue Haven Mental Care masih terbuka menampilkan profil Dr. Rafandra Aqlan Lazuardi.


Aletha memicingkan mata sambil mendekatkan wajah ke layar.


“Masih aja dingin mukanya,” gumamnya sebelum terkekeh kecil.


Ponselnya kembali bergetar.


CLARA CALLING...


Aletha buru-buru mengangkat telepon itu.


“HALO?!” teriak Clara dari seberang sana.


Aletha menjauhkan ponsel dari telinganya. “Astaga, kuping gue…”


“Lo lupa kita janjian?!”


Aletha menatap jam lagi lalu tersenyum kaku. “Sedikit?”


“Aletha Maeva, gue udah nunggu hampir satu jam!”


“Oke, oke! Gue mandi sekarang. Tiga puluh menit lagi sampai.”


“Empat puluh lima menit paling.”


“Jangan buka aib gue dong.”


Clara mendengus kesal tetapi terdengar lega. “Cepetan. Dan jangan lupa makan. Muka lo pasti kayak zombie sekarang.”


“Thanks atas support-nya.”


Aletha menutup telepon sambil tertawa kecil.


Walaupun Clara sering cerewet, Aletha tahu sahabatnya itu tulus mengkhawatirkannya.




Empat puluh menit kemudian, Aletha akhirnya tiba di sebuah kafe langganan mereka.


Clara langsung menyipitkan mata saat melihat Aletha berjalan masuk dengan hoodie oversized dan wajah polos tanpa make up.


“Yup. Zombie beneran.”


Aletha duduk di hadapan Clara sambil meletakkan tasnya sembarangan. “Minimal zombie cantik.”


“Narsis.”


“Realistis.”


Clara memutar matanya malas sebelum mendorong segelas iced latte ke arah Aletha.


“Nih. Gue pesenin duluan.”


Aletha tersenyum kecil. “Makasih.”


Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Aletha sibuk meminum kopinya sementara Clara memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan serius.


“Kau tidur berapa jam?” tanya Clara akhirnya.


“Dua... mungkin tiga.”


Clara menghela napas panjang.


“Aletha, serius deh. Lo makin parah.”


“Aku masih hidup.”


“Itu bukan standar sehat.”


Aletha tertawa kecil, berusaha menghindari topik itu. Namun Clara tidak ikut tertawa.


“Kau masih mimpi buruk?”


Pertanyaan itu membuat senyum Aletha perlahan menghilang.


Sedikit.


Kadang banyak.


Tetapi Aletha terlalu lelah menjelaskan isi kepalanya kepada siapa pun.


“Aku baik-baik aja, Clar.”


“Kebohongan paling sering yang lo ucapin.”


Aletha terdiam.


Clara memang selalu seperti itu. Terlalu mengenalnya sampai kebohongan kecil pun mudah terbaca.


“Ayah nyuruh gue terapi lagi,” ucap Aletha akhirnya.


“Dan?”


“Aku belum mau.”


“Kenapa?”


Aletha menatap sedotan di tangannya cukup lama sebelum menjawab pelan, “Aku takut dianggap rusak.”


Clara langsung menatapnya tidak percaya.


“Siapa yang bilang orang terapi itu rusak?”


“Banyak orang berpikir begitu.”


“Tapi gue nggak.”


Aletha tersenyum tipis.


Clara melanjutkan, “Justru orang yang sadar dirinya butuh bantuan itu berani.”


Suasana kembali hening.


Aletha tahu Clara benar.


Tetapi menerima bantuan berarti ia harus membuka semua luka yang selama ini berusaha disembunyikan rapat-rapat.


Dan itu menakutkan.


“Aku lagi kepikiran bikin novel baru,” kata Aletha mencoba mengganti topik.


“Genre?”


Lihat selengkapnya