Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiran Aletha tidak sepenuhnya dipenuhi oleh mimpi buruk atau tenggat naskah.
Sebaliknya, ia justru memikirkan seorang pria yang baru ditemuinya beberapa menit.
Dr. Rafandra Aqlan Lazuardi.
Aletha menghela napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Aku ke rumah sakit buat riset, bukan buat mikirin dokter.”
Ia memejamkan mata.
Lalu teringat kembali bagaimana pria itu menatapnya saat mengatakan bahwa orang yang baik-baik saja tidak perlu mengulang kalimat itu berkali-kali.
Aletha langsung membuka mata lagi.
“Kenapa sih harus ngomong begitu?”
Ia memutar tubuhnya ke kanan.
Lalu ke kiri.
Kemudian kembali menatap langit-langit kamar.
Dan seperti biasa, insomnia datang menyapa.
Keesokan harinya.
Aletha bangun lebih siang dari yang direncanakan.
Untungnya wawancara dengan Rafandra dijadwalkan pukul empat sore.
Ia menghabiskan sebagian besar waktunya menyusun daftar pertanyaan untuk riset novelnya.
Laptop terbuka.
Buku catatan terbuka.
Puluhan sticky note menempel di meja kerjanya.
Sebagian besar berisi ide cerita.
Sebagian lainnya berisi pertanyaan untuk Rafandra.
Apa tantangan terbesar seorang psikiater?
Apa kesalahpahaman masyarakat tentang kesehatan mental?
Bagaimana cara menghadapi pasien yang menolak bantuan?
Aletha membaca ulang daftar itu lalu mengangguk puas.
“Lumayan profesional.”
Meski begitu, ia tetap merasa gugup.
Bukan karena wawancaranya.
Melainkan karena dirinya harus berbicara cukup lama dengan seseorang yang bahkan belum dikenalnya.
Sebagai seorang introvert, percakapan dengan orang baru sering kali terasa seperti ujian.
Pukul tiga lewat empat puluh lima menit.
Aletha sudah berada di lobi Blue Haven Mental Care.
Ia datang lebih awal karena takut terlambat.
Namun sekarang justru menyesal.
Karena itu berarti ia harus menunggu.
Dan semakin lama menunggu, semakin banyak hal yang bisa dipikirkan.
“Kalau dia sibuk gimana?”
“Kalau dia berubah pikiran?”
“Kalau dia merasa pertanyaanku bodoh?”
Aletha menggeleng cepat.
“Berhenti overthinking.”
“Aletha?”
Suara yang tidak asing membuatnya menoleh.
Ternyata ayahnya.
Pria itu baru saja keluar dari lift sambil membawa beberapa berkas.
“Ayah?”
“Kamu ngapain di sini?”
Aletha langsung menegakkan punggung.
“Riset.”
Ayahnya menyipitkan mata.
“Riset?”
“Aku sedang menulis novel baru.”
“Aku sudah tahu bagian itu.”
“Dan aku sedang mewawancarai salah satu dokter.”
Ayahnya terlihat tertarik.
“Siapa?”
“Dr. Rafandra.”
Untuk beberapa detik, ayahnya diam.
Lalu ekspresinya berubah menjadi sedikit terkejut.
“Dokter Rafandra?”
“Iya.”
“Hm.”
Aletha langsung curiga.
“Hm kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Ayah.”
“Benar tidak apa-apa.”
Aletha mengenal ayahnya cukup baik untuk mengetahui bahwa jawaban itu adalah kebohongan.
“Ayah kenal dia?”
“Dia salah satu psikiater terbaik yang pernah bekerja di sini.”
Aletha mengangkat alis.
“Masih muda.”
“Usia tidak selalu menentukan kemampuan seseorang.”
Aletha mengangguk setuju.
“Tapi ayah terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.”
“Karena kamu terlalu suka menganalisis orang.”
“Aku penulis.”
“Itu alasannya.”
Mereka tertawa kecil.
Sebelum pembicaraan berlanjut, suara seseorang terdengar dari belakang.
“Direktur.”
Ayah Aletha menoleh.
Begitu pula Aletha.
Dan disanalah Rafandra berdiri.
Jas dokternya tampak rapi seperti kemarin.
Tatapannya tenang.
Profesional.
Sulit ditebak.
“Dokter Rafandra,” sapa ayah Aletha.
“Maaf mengganggu.”
“Tidak sama sekali.”
Tatapan Rafandra kemudian beralih kepada Aletha.
“Nona Aletha.”
Aletha mengangguk kecil.
“Halo.”
Entah kenapa ia merasa lebih gugup dibanding kemarin.