Perjalanan pulang dari Blue Haven Mental Care terasa lebih panjang dari biasanya.
Aletha duduk di kursi belakang taksi online sambil memandangi jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya senja. Gedung-gedung tinggi, kendaraan yang berlalu-lalang, dan keramaian kota seolah menjadi latar belakang yang kabur bagi pikirannya.
Karena sejak keluar dari ruang kerja Rafandra, hanya satu kalimat yang terus berputar di kepalanya.
«"Kalau insomnia itu masih mengganggumu, tolong cari bantuan yang tepat."»
Sederhana.
Namun entah kenapa terasa mengusik.
Biasanya orang-orang hanya menyuruhnya tidur lebih awal, mengurangi kopi, atau berhenti bekerja terlalu keras.
Tetapi Rafandra tidak melakukan itu.
Pria itu tidak menghakiminya.
Tidak menganggapnya lemah.
Tidak pula memaksanya berubah.
Ia hanya mengatakan bahwa Aletha pantas mendapatkan bantuan.
Dan itu membuat Aletha tidak nyaman.
Karena selama ini ia terbiasa menghadapi masalah seorang diri.
Sesampainya di rumah, Aletha langsung menuju kamar.
Laptop yang sejak pagi terbuka kembali menyala di hadapannya.
Jemarinya mulai mengetik.
Satu paragraf.
Dua paragraf.
Lima paragraf.
Sepuluh paragraf.
Ide-ide yang sebelumnya berantakan kini mengalir jauh lebih mudah.
Tokoh psikiater dalam novelnya perlahan mulai terbentuk.
Dingin.
Tenang.
Logis.
Tetapi diam-diam peduli.
Aletha berhenti mengetik.
Lalu menyadari sesuatu.
"Kenapa karakter ini mirip Rafandra?"
Ia menatap layar beberapa detik.
Kemudian buru-buru menghapus satu kalimat.
Lalu menulis ulang.
Tetapi hasilnya tetap sama.
Tokoh itu masih terasa seperti Rafandra.
"Hebat."
"Aku baru kenal dia dua hari."
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Clara.
«Jadi gimana wawancaranya?»
Aletha langsung membalas.
«Lumayan.»
Balasan datang kurang dari sepuluh detik.
«Ganteng?»
Aletha memutar mata.
«Clara.»
«Berarti ganteng.»
«Fokus sama isi wawancaranya.»
«Tidak tertarik.»
«Aku tertarik sama perkembangan hidup percintaanmu.»
Aletha langsung melempar ponselnya ke atas kasur.
"Kenapa sih dia selalu begitu?"
Malam kembali tiba.
Dan seperti malam-malam sebelumnya, Aletha kembali sulit tidur.
Ia memejamkan mata.
Membuka mata.
Memiringkan tubuh.
Mengubah posisi bantal.
Tetap tidak berhasil.
Jam digital di meja menunjukkan pukul 01.48 dini hari.
Aletha menghela napas panjang.
Lelah.
Sangat lelah.
Tetapi otaknya menolak berhenti bekerja.
Pikiran demi pikiran terus berdatangan.
Tentang novel.
Tentang ayahnya.
Tentang ibunya.
Tentang dirinya sendiri.
Dan tanpa sadar, ingatan lama mulai muncul kembali.
Aletha berusia sembilan tahun saat pertama kali mendengar seseorang menyebut dirinya penyebab kematian ibunya.
Saat itu ia sedang berada di rumah keluarga besar.
Beberapa kerabat datang untuk acara tertentu.
Aletha kecil sedang bermain sendirian di taman belakang ketika tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang dewasa.
"Kasihan Armand."
"Itu sebabnya dia terlalu memanjakan Aletha."
"Ya bagaimana lagi, istrinya meninggal saat melahirkannya."
"Kalau bukan karena anak itu..."
Aletha tidak mendengar kalimat selanjutnya.
Karena ia sudah berlari pergi.
Tetapi sejak hari itu, sebuah pertanyaan terus tinggal di dalam dirinya.
Kalau aku tidak lahir...
Apa ibu masih hidup?
Aletha membuka mata dengan cepat.
Dadanya terasa sesak.
Napasnya memburu.
Ia duduk di atas ranjang sambil memegang dadanya sendiri.
Bukan mimpi buruk.