RUANG UNTUK SALAH

Dwi Fitriyaningsih Handoko
Chapter #5

PERTANYAAN YANG TIDAK TERJAWAB

Beberapa hari setelah seminar itu, hidup Aletha kembali dipenuhi rutinitas yang sama.


Menulis.


Begadang.


Menulis lagi.


Lalu kembali mencoba tidur yang tak kunjung datang.


Namun ada satu hal yang berbeda.


Kini, sesekali pikirannya melayang kepada Rafandra.


Bukan karena ketertarikan yang besar.


Setidaknya itu yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.


Melainkan karena pria itu terus muncul di berbagai catatan novelnya.


Karakter psikiater yang sedang ia tulis semakin lama semakin mirip dengan Rafandra.


Cara berbicara.


Cara berpikir.


Bahkan beberapa kalimat yang pernah diucapkannya.


Dan setiap kali menyadari hal itu, Aletha buru-buru mengubah detail karakternya.


Sayangnya, hasil akhirnya tetap terasa sama.




Siang itu Aletha sedang mengetik di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar.


Nama ayahnya muncul di layar.


Aletha langsung mengangkat telepon.


"Halo, Yah."


"Aletha sedang sibuk?"


"Tidak terlalu."


"Ayah ada rapat sampai sore."


"Oke."


"Nanti malam makan bersama ya."


Aletha tersenyum kecil.


"Baik."


Sesaat kemudian ayahnya melanjutkan.


"Dan satu hal lagi."


Aletha langsung curiga.


"Apa?"


"Kamu sudah mempertimbangkan soal terapi?"


Senyum Aletha menghilang.


Tentu saja.


Pembicaraan ini lagi.


"Ayah..."


"Ayah hanya khawatir."


"Aku baik-baik saja."


Keheningan muncul di seberang telepon.


Dan Aletha tahu ayahnya tidak mempercayai jawaban itu.


Karena bahkan dirinya sendiri tidak mempercayainya.




Sore harinya, Aletha memutuskan pergi ke perpustakaan kota untuk mencari referensi tambahan.


Ia menghabiskan hampir dua jam membaca buku-buku psikologi populer.


Mencatat.


Menyusun ide.


Membuat kerangka cerita.


Sampai akhirnya sebuah pesan masuk dari Clara.


«Masih hidup?»


Aletha tertawa kecil.


«Untuk sementara.»


«Syukurlah.»


«Kenapa?»


«Gue cuma memastikan lo nggak berubah jadi kelelawar karena terlalu sering begadang.»


Aletha menggeleng geli.


Clara memang tidak pernah kehabisan cara untuk menggodanya.


Namun beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.


«Eh.»


«Gimana kabar dokter ganteng?»


Aletha langsung menutup matanya.


"Tentu saja."


«Nggak ada kabar.»


«Bohong.»


«Serius.»


«Kalau gitu kenapa lo senyum pas baca pesan gue?»


Aletha langsung meletakkan ponselnya.


Kadang ia curiga Clara memiliki kemampuan membaca pikiran.




Menjelang malam, Aletha kembali ke rumah.


Rumah itu cukup besar tetapi sering terasa sepi.


Terutama sejak ibunya meninggal.


Meskipun ayahnya selalu berusaha hadir, ada bagian kosong yang tidak pernah benar-benar terisi.


Aletha sedang berjalan menuju kamar ketika langkahnya terhenti di depan ruang kerja ayahnya.


Pintunya sedikit terbuka.


Dan di dalam, ayahnya tampak tertidur di kursi kerja.


Foto ibunya masih berada di atas meja.


Sama seperti bertahun-tahun lalu.


Aletha tersenyum kecil.


Lalu masuk perlahan.


Ia mengambil selimut tipis dan menyelimutkan bahu ayahnya.


Namun saat hendak pergi, sebuah map yang berada di meja menarik perhatiannya.


Map berlogo Blue Haven Mental Care.


Awalnya Aletha tidak berniat melihatnya.


Benar-benar tidak.


Tetapi sebuah nama yang tertulis di bagian atas membuatnya membeku.


Dr. Rafandra Aqlan Lazuardi


Aletha berkedip.


"Hah?"


Rasa penasarannya muncul.


Dan sebelum sempat berpikir lebih jauh, tangannya sudah mengambil map tersebut.


Ia membuka halaman pertama.


Beberapa data profesional.


Riwayat pendidikan.

Lihat selengkapnya