Sudah tiga hari sejak percakapan mereka di taman rumah sakit.
Tiga hari pula Aletha tidak menginjakkan kaki di Blue Haven Mental Care.
Bukan karena tidak memiliki bahan riset lagi, melainkan karena rasa malu masih menghantuinya. Ia merasa telah melewati batas dengan menanyakan masa lalu Rafandra.
Di sisi lain, Rafandra juga terus teringat ekspresi bersalah Aletha saat itu.
Ia tahu gadis itu tidak berniat mengusik luka lamanya. Rasa ingin tahu memang sudah menjadi sifat seorang penulis. Namun tetap saja, ada bagian hidupnya yang belum siap ia ceritakan kepada siapa pun.
Malam kembali menjadi musuh bagi Aletha.
Jarum jam menunjukkan pukul 01.37 dini hari.
Laptopnya masih menyala, tetapi layar dokumen yang terbuka tidak bertambah satu kalimat pun.
Aletha menopang dagunya.
"Kenapa buntu begini..."
Biasanya ide akan datang dengan sendirinya ketika malam tiba. Namun kali ini pikirannya kosong.
Ia membuka folder berisi hasil wawancaranya dengan Rafandra.
Tatapannya berhenti pada satu kalimat.
"Kami hanya menemani. Pasienlah yang memilih untuk melangkah."
Aletha tersenyum tipis.
"Kalimatmu terlalu bagus, Dok."
Tangannya kembali bergerak di atas keyboard.
Tokoh psikiater dalam novelnya kini mulai hidup. Bukan hanya sebagai dokter, tetapi sebagai seseorang yang juga memiliki luka.
Tanpa sadar, Aletha mengetik sebuah nama.
Rafandra.
Matanya membulat.
"Astaga!"
Ia buru-buru menghapus nama itu.
"Nggak boleh. Bahaya kalau sampai kebaca."
Ia menggantinya dengan nama lain sambil tertawa kecil pada kebodohannya sendiri.
Keesokan paginya, Clara datang tanpa memberi kabar.
Bel rumah berbunyi berkali-kali.
"Alethaaa! Buka pintunya!"
Aletha yang baru saja bangun menyeret langkah menuju ruang tamu.
Saat pintu dibuka, Clara langsung menatap wajah sahabatnya.
"Ya ampun."
"Apa?"
"Kamu makin mirip panda."
Aletha mendengus.
"Terima kasih."
"Bukan pujian."
Clara masuk begitu saja sambil membawa dua gelas kopi.
"Aku bawa sarapan."
"Aku sayang kamu."
"Aku tahu."
Mereka tertawa.
Setelah duduk di ruang makan, Clara memperhatikan laptop Aletha yang dipenuhi catatan.
"Novelmu sampai mana?"
"Baru beberapa bab."
"Macet?"
Aletha mengangguk.
"Sedikit."
"Lalu?"
"Aku merasa ada yang kurang."
Clara menyandarkan tubuhnya.
"Kamu terlalu fokus pada teori kesehatan mental."
"Maksudmu?"
"Kamu lupa menulis manusia."
Aletha mengernyit.
Clara melanjutkan, "Pembaca nggak cuma mau tahu apa itu insomnia atau trauma. Mereka ingin tahu bagaimana rasanya hidup dengan semua itu."
Kalimat sederhana itu membuat Aletha terdiam.
Benar juga.
Selama ini ia terlalu sibuk mencari data sampai lupa menuliskan emosi.