Suara deru langkah yang beradu dengan tanah memecah keheningan.
Seorang pria dengan kaki telanjang penuh goresan berlari sekuat tenaga menyusuri hutan yang tidak begitu lebat.
Bajunya yang sudah terlihat lusuh dipenuhi dengan bercak darah yang bukan miliknya, menyebabkan bau anyir menyeruak dari sekujur tubuhnya. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah batu berwarna merah.
Tak menghiraukan luka di kakinya yang kian bertambah, ia terus berlari membabi buta.
Sesekali ia menoleh ke belakang, mencari sosok yang mengejarnya.
Tak ada siapa pun di sana.
"Ke mana perginya bajingan itu?"
Langkah kakinya mulai melambat.
Dengan napas yang menderu tak beraturan, pria lusuh itu berbalik seraya mengayunkan tangan kanannya yang menggenggam batu merah. Dalam sekejap, batu merah itu berubah menjadi belati tajam yang mengkilat.
"Keluar kau, setan! Jangan pikir aku tidak bisa melawan! Aku juga seorang Darmaja!" teriaknya dengan suara lantang dan sedikit bergetar.
Matanya membelalak panik.
Pandangannya beredar liar—ke kanan, ke kiri, ke atas, mencari sosok yang memburunya. Jantungnya berdebar kencang seolah hendak meledak.
Meski demikian, telinganya tetap fokus pada setiap suara sekecil apapun di sekitarnya.
Cukup lama ia berdiri dengan kuda-kuda yang siap menyerang kapan pun, namun tak ada tanda-tanda kehadiran makhluk lain selain dirinya.
Hutan itu benar-benar senyap.
Tak ada suara burung ataupun jangkrik. Angin tak berhembus. Gemerisik daun pun tak terdengar.
Perlahan, pria lusuh itu mulai mengendurkan otot bahunya.
Dengan hati-hati, dia mengubah belati di tangannya kembali menjadi sebutir batu merah.
"Sudah lelah berlari?" bisik sebuah suara dari sosok berjubah merah gelap—berdiri di belakangnya.
Pria lusuh itu tersentak, nyaris tak percaya.
Dia mencoba mengayunkan tangan kanannya yang menggenggam batu merah, namun sosok berjubah itu sudah lebih dulu mencengkeram tangannya, dan...
Krak!
Tangan kanan si pria lusuh patah dalam sekali putar, membuat batu itu terhempas ke tanah.
Raungan kesakitan menggema ke seluruh penjuru hutan, tetapi si jubah merah tidak berhenti sampai di situ. Jemarinya menusuk satu titik di lekukan antara leher dan bahu kiri lawan. Tiba-tiba lengan kiri pria lusuh itu terkulai.
Menyadari lengan kirinya yang kini lumpuh, raungan si lusuh semakin menjadi.
Si jubah merah tak tinggal diam. Ia kembali menusukkan jemarinya, kali ini ke sisi leher—tepat di mana denyut nadi terasa paling kuat.
Seketika raungan itu terhenti, hutan kembali senyap.
Tatapan mata pria lusuh itu berubah kosong. Tubuhnya oleng, lalu ambruk—kehilangan kesadaran.
"Maaf kawan, darahmu lebih berharga dari tulangmu."