"Biar aku jelasin lagi," ucap seorang perempuan berambut panjang pada temannya dengan nada serius.
"Pas udah di dekat lift, kamu pura-pura nabrak aku sampai buku-bukuku jatuh. Nanti dia pasti bantuin aku deh."
Wajahnya berbinar membayangkan adegan romantis klise yang sering ia tonton di serial drama.
Di sisi lain, temannya yang berhijab mematung di hadapannya, menatap dengan ekspresi jijik bercampur frustasi.
"Serius? Ini 2029. Kamu masih mau pakai trik jadul kayak gitu?"
"Justru itu! Nggak ada yang kepikiran, kan? Jadi aku bakal kelihatan beda, berkesan, dan unik!" jawab si rambut panjang sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Ya, ya, sesenengnya kamu aja deh. Terus, targetnya mana?"
"Tungguin aja. Biasanya jam segini dia lewat sini."
Keduanya mulai memperhatikan sekitar.
Sepanjang mata memandang, gedung-gedung dengan arsitektur modern menjulang tinggi, berpadu dengan taman hijau yang tertata rapi, lengkap dengan pepohonan yang memberikan keteduhan dari terik matahari.
Sesekali drone-drone kecil terlihat beterbangan di udara, melintasi hologram informasi yang melayang di beberapa sudut, menampilkan jadwal kuliah, pengumuman acara, hingga berita terkini.
Beberapa kendaraan terlihat melintas dari sebuah gapura megah nan mewah bertuliskan Universitas Caraka.
"Eh, itu dia!"
Si rambut panjang langsung menarik temannya ke balik mobil, bersembunyi dengan napas tertahan.
Dari area parkir motor, seorang pria melangkah keluar.
Anom, dengan jaket coklat dan hoodie hitam yang menutupi kepalanya, berjalan melintasi koridor kampus yang sibuk dengan mahasiswa lalu-lalang.
Ia hampir tidak pernah terlihat membuka hoodienya di depan umum.
Pernah sekali, saat ia terpaksa membuka tudung di acara orientasi kampus dan langsung memicu kehebohan, terutama di kalangan para mahasiswi.
Rahang tegas, mata tajam, dan alis tebalnya memberi kesan misterius yang semakin diperkuat oleh bibir tipis tanpa ekspresi. Rambut ikal pendek berwarna coklat yang sedikit berantakan membuat pesonanya semakin sulit untuk dielakkan.
Sesampainya di depan lift, Anom berhenti.
Alih-alih menekan tombol, ia berkata pelan, "Lantai tujuh."
Panel di sebelah pintu lift menyala, merespons suara Anom.
Tak jauh dari posisi Anom berdiri, si perempuan berambut panjang terlihat gugup, memberi isyarat pada temannya yang berhijab untuk bersiap mengeksekusi skenario yang sudah mereka rencanakan.
Dengan beberapa buku di pelukannya, perempuan itu melangkah ke arah lift.
Temannya tampak sangat enggan. Tapi setelah melihat tatapan mematikan dari si rambut panjang, ia akhirnya bergerak.
Tabrakan yang diinginkan pun terjadi.
"Aduh!"