Kehadiran sosok baru di ruangan membuat dua mahasiswi kembali berbisik.
"Eh, Mas Nusa udah dateng!"
Nusa melangkah masuk dengan senyum lembutnya yang langsung menghangatkan suasana.
"Aduh, senyumnya bikin deg-degan."
"Emang beda sih pesonanya Mas Nusa. Udahlah lulusan terbaik, begitu lulus langsung jadi dosen pula."
"Umurnya berapa sih?"
"25."
"Fix! Suami idaman!" bisik keduanya sambil cekikikan.
"Selamat pagi, teman-teman," sapa Nusa, menghentikan obrolan mereka.
"Pagi," jawab keempat mahasiswa serempak.
Hanya Anom yang diam.
"Maaf, saya agak telat. Tadi sebenarnya saya sudah ke sini, tapi tiba-tiba perut saya mules. Sudah tiga kali saya bolak-balik kamar mandi hari ini. Gara-gara kemarin diajakin Bu Kajur makan oseng mercon. Hati-hati ya kalian kalau diajakin makan sama beliau. Dia hobi nyekokin makanan yang kata dia nggak pedas, tapi nyatanya.... Wah, kacau pokoknya."
Beberapa mahasiswa tertawa kecil.
Semua orang melihat Nusa dengan citra yang sangat positif. Sikapnya yang santai dan pandai membawa diri membuatnya dihormati oleh koleganya dan disukai oleh mahasiswa.
Tapi tidak di mata Anom.
Tatapannya tajam menatap Nusa, seolah menuntut kerugian waktu karena menunggu kedatangannya—dan Nusa menangkap itu.
"Oke, kita langsung saja untuk mempersingkat waktu. Saya rasa kalian sudah tahu alasan saya mengundang kalian ke sini," Nusa membuka rapat dengan nada serius namun tetap bersahabat.
"Untuk proyek pengembangan aplikasi berbasis AAREN, Mas," jawab salah satu mahasiswa.
Nusa memang meminta para mahasiswa untuk memanggilnya dengan sebutan "Mas"—bukan "Pak". Alasannya sederhana: menolak tua dan dituakan.
"Benar sekali. Saya membutuhkan kemampuan kalian berlima untuk bersama-sama menyempurnakan aplikasi ini. Meskipun AAREN sudah sangat canggih, masih ada beberapa aspek yang perlu kita sesuaikan ketika mengimplementasikannya ke aplikasi. Saya yakin dengan bantuan kalian, proyek ini bisa selesai lebih cepat dan lebih baik."
Sementara mahasiswa lain menyambut tantangan ini dengan sangat antusias, Anom tetap memasang wajah tanpa ekspresi, lalu ia mengacungkan tangan kanannya.
"Ya, Anom?" Nusa mempersilakan Anom bicara.
"Kenapa harus melibatkan lima orang? Kalau cuma buat mengembangkan aplikasi berbasis AAREN, saya sendiri cukup."
Kata-kata Anom memancing tatapan tidak senang dari mahasiswa lain.
Salah satu dari mereka, seorang laki-laki dengan postur tegap, menatap Anom dengan sorot penuh kebencian.
"Sombong kali kau! Mentang-mentang anaknya Adri Satriya, kau merasa sehebat dia?"
Hawa canggung mengisi ruangan itu.
Sementara Anom, tak bergeming.
Pandangannya terkunci pada laki-laki yang baru saja mengeluarkan kata-kata tajam itu.
Anom yang semula duduk bersandar santai di kursi, mulai menegakkan badannya, diikuti lipatan kedua tangannya yang sedikit mengendur.
"Ya, karena alasan itulah kita butuh Anom ada di sini," Nusa menyambar cepat, mencoba meredam konflik agar tak berkembang.
" Setiap orang yang hadir di sini adalah orang-orang pilihan saya. Masing-masing memiliki peran yang saling mengisi satu sama lain. Selama satu semester ke depan, kalian berlima akan membantu saya jadi kita harus bekerja sama. Jika ada yang tidak berkenan, silakan keluar dari ruangan ini, sekarang."
Si laki-laki tegap mengalihkan pandangannya dari Anom. Ia mengangguk ke arah Nusa, tanda permintaan maaf.