"Tenang, aku tahu bukan dari siapa pun," lanjut Anom.
"Ini adalah kesimpulanku sendiri setelah aku mempelajari source code AAREN dan menemukan coding style-mu di sana. Aku yakin orang yang nggak mengenalmu nggak akan ngeh tentang hal itu, jadi kamu nggak perlu khawatir."
Nusa terdiam. Sesaat kemudian ia bertepuk tangan sambil tersenyum.
"Yah, harus kuakui... Meski attitude-mu minus, daya nalar otakmu memang nggak ada lawan."
"Jadi?" tanya Anom—menegaskan.
"Oke, oke. Aku akan pelajari proposalmu... Tapi aku masih nggak sepakat soal pendaftaran hak paten atas namaku."
"Deal, for now. Yang penting kamu baca dulu."
Anom terdiam sesaat, menantikan respons Nusa. Sementara Nusa melanjutkan mengemasi barangnya.
"Ayo," kata Anom.
"Apa lagi??"
"Katanya mau baca."
"Ya nggak sekarang! Siang ini aku harus ke Bali. Ada urusan yang lebih penting."
Anom mendengus ringan.
"Halah, palingan ekspedisi mistis lagi. Ya, kan? Lulusan terbaik AI kok masih percaya sama begituan. Kayaknya kamu yang harusnya ke psikiater buat ngecek isi kepalamu."
Dibalik prestasi akademiknya yang membuat semua orang berdecak kagum, Nusa memang memiliki hobi yang diluar nalar.
Ia sering ke luar kota untuk ekspedisi berbau mistis.
Kadang ia berburu batu akik di hutan, pohon yang dicap sebagai 'gerbang gaib', keris 'berpenghuni', dan benda-benda aneh lain yang menurut Anom hanya sampah yang dibalut cerita-cerita fiktif.
Mendengar perkataan Anom, Nusa menyeringai, menampilkan sisi jahilnya.
"Jadi, kapan kamu mau ikut ekspedisiku lagi?" tanya Nusa dengan nada iseng diikuti gerakan alis naik-turun.
"Enggak!" jawab Anom cepat. "Aku hampir mati konyol waktu terakhir kali mengiyakan ritual anehmu itu."
Saat mereka berdua menyusuri hutan yang dingin dan mencekam, tiba-tiba Nusa menghilang dari pandangannya.
Dalam situasi yang cukup genting itu Anom tetap tenang. Otaknya segera bekerja, menyusun rencana darurat, memikirkan berbagai cara untuk meninggalkan jejak SOS jika ia tersesat.
Namun, ketika Anom hendak membuka tasnya untuk mengambil korek api, bayangan Nusa muncul kembali dari kegelapan.
"Lari!" teriak Nusa dengan mata membelalak, kemudian melesat secepat kilat menembus pepohonan.
Anom pun berlari mengikuti Nusa, tanpa tahu apa yang sebenarnya memburu mereka di tengah hutan yang nyaris gelap gulita. Kakinya berulang kali tersandung akar yang mencuat dari tanah, sementara tubuhnya terantuk ranting-ranting yang tajam.
Ketika ia mencoba menghindari ranting pohon yang rendah, kakinya tiba-tiba terpeleset di tanah yang licin. Badannya terguling tak terkendali, menghantam akar pohon yang besar dan keras.
Saat kepalanya terbentur batang kayu tua yang lapuk, dunia seketika menjadi gelap, menghilangkan kesadarannya begitu saja.
Esok paginya, Anom terbangun di ruang gawat darurat rumah sakit dengan 11 jahitan di kepala dan jari tengah tangan kirinya retak.
"Itu bukan ritual aneh. Otak robotmu aja yang emang nggak sampai buat memahami romansa dunia astral," balas Nusa terkekeh, sambil bergegas membereskan barang-barangnya.
"Dah, aku cabut dulu. Nanti kukabari kalau sudah kubaca."
Anom tersenyum tipis, merayakan keberhasilan kecilnya di dalam hati.
"Jangan mati sebelum baca proposalku," ucap Anom sedikit berteriak.
Tanpa menoleh, Nusa melangkah keluar ruangan sambil mengacungkan jari tengahnya.
Setelah Nusa lenyap dari pandangannya, Anom segera memeriksa smartwatch-nya, menunjukkan pukul 10.29. Masih ada waktu 12 jam sebelum agenda berikutnya.
Dalam situasi seperti ini, hanya ada satu tempat yang paling ideal bagi Anom untuk menghabiskan waktu: perpustakaan.
Alasannya sederhana—di sana relatif sepi. Kalaupun ada orang, kebanyakan akan sibuk dengan urusan masing-masing.
Selain itu, koleksi buku di perpustakaan kampus ini terbilang sangat lengkap dan beragam. Menghabiskan waktu berjam-jam di sana bukanlah hal yang sulit.
Sejak kecil, membaca buku adalah pelarian Anom dari kendali ayahnya. Namun lambat laun hal itu menjadi kebiasaan, dan tanpa ia sadari berubah menjadi kesenangan tulus.
Semua buku ia lahap tanpa pandang bulu, kecuali fiksi.
Bagi Anom, fiksi tidak lebih dari dongeng murahan hasil imajinasi manusia yang terlalu sering menjual mimpi kosong. Plotnya mudah ditebak, tokoh-tokohnya tidak masuk akal, ceritanya terlalu mengada-ada dan tidak pernah memberikan manfaat nyata selain hiburan sesaat.
Dengan kata lain, membaca fiksi adalah definisi konkret dari menyia-nyiakan waktu—hal yang sangat ia benci.
Orang yang menyia-nyiakan waktu mengira sedang menikmati hidup, padahal mereka sedang dikendalikan waktu tanpa pernah tahu ke mana arah hidupnya.
Mengendalikan waktu berarti sadar atas setiap detik yang digunakan dan bagaimana pengendalian itu berkontribusi pada pengembangan diri.
Itulah prinsip yang ia pegang teguh.
Pilar yang membuatnya tetap merasa hidup di tengah kesehariannya yang serba diatur.
Seluruh aspek hidupnya memang dikendalikan oleh sang ayah.
Namun waktu... meski terbatas, adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.
Selama ia bisa mengendalikan waktu, ia bisa menciptakan kebebasannya sendiri.
Pip!
Smartwatch di pergelangan tangannya berbunyi, menunjukkan pukul 10.30 beserta sebuah pengingat bertuliskan "Meeting Nusa selesai". Saatnya bagi Anom untuk beranjak.